JAKARTA: Kementerian Keuangan mengungkapkan dana mengendap di lembaga itu mencapai Rp180 triliun per hari, karena penerimaan yang masuk tak sebanding dengan penyerapan APBN. Bahkan, hingga Juni 2010 realisasi anggaran hanya didominasi oleh belanja pegawai.
Menteri Keuangan Agus D.W. Martowardojo menyampaikan penyerapan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) sebenarnya terus mengalami peningkatan, meski belum maksimal dari bujet yang disediakan.
Dia mencontohkan pada 2008 tingkat realisasi APBN 83% dan pada 2009 mencapai 91% dengan anggaran rata-rata Rp1.000 triliun per tahun. Namun, sambungnya, realisasi belanja negara itu kebanyakan terjadi pada akhir tahun.
“Sebanyak 10% itu hangus pada Desember. Padahal, uangnya sudah tersedia, kami itu setiap hari memiliki dana cash Rp180 triliun. Memang pengelolaan uang kami masih sederhana, penerimaan uang banyak, tapi pengeluaran lambat,” ujarnya, tadi malam.
Lebih lanjut Mantan Dirut Bank Mandiri itu mengutarakan hingga paruh pertama tahun ini penyerapan APBN hanya 35%. Realisasi itu pun, lanjutnya, paling banyak digelontorkan untuk gaji pegawai dan belanja barang.
Menurut dia, porsi belanja modal sangat sedikit sekali dan nyaris tak ada. Padahal, jika ingin menggerakkan sektor riil belanja modal perlu diperbesar, misalnya saja pembangunan infrastuktur dan tender proyek.
Agus mengungkapkan masih ada sejumlah kendala yang dihadapi dalam merealisasi APBN. “Misalkan ada proses negosiasi yang belum selesai dengan DPR, dalam beberapa lampiran itu dikasih tanda asterisk, karena belum selesai proses negoisasinya.”
Selain itu, sambungnya, satuan kerja belum ditunjuk karena dalam ketentuan UU APBN satuan kerja itu diperpanjang setiap tahun, maka hal itu perlu langkah cepat untuk merealisasikan anggaran.
“Misalkan bendahara [proyek] saja harus ditunjuk setiap tahun dan ada 23.000 bendahara. Kalau telat ditunjuk mereka merasa tidak bersalah, karena prosesnya begitu panjang. Ada juga tender barang disanggah dan takut diperiksa aparat, maka dari Januari sampai Mei pengadaan barang tidak bisa dilakukan,” tuturnya.(er)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar