http://www.indonesiafinancetoday.com/read/25887/Pertumbuhan-Ekspor-Kuartal-II-Diperkirakan-Menurun
JAKARTA (IFT) – Ekspor kuartal
II 2012 diperkirakan masih akan menunjukkan kinerja positif, namun tidak
sebaik kinerja kuartal II 2011. Sawiko Darmesto, Deputi Bidang
Statistik Barang Badan Pusat Statistik (BPS), mengatakan dengan kinerja
ekspor kuartal I 2012 yang cukup bagus dan kinerja ekonomi Amerika yang
sedikit membaik, dia memperkirakan ekspor kuartal II masih akan tumbuh
meski tidak signifikan, karena Amerika merupakan tujuan utama ekspor
Indonesia.
Sementara memburuknya kondisi ekonomi kawasan Eropa tidak akan berdampak langsung terhadap ekspor Indonesia.
Satwiko menjelaskan pada kuartal II, dalam kondisi normal ekspor selalu mengalami peningkatan karena realisasi kontrak awal tahun sudah mulai jalan dan terus meningkat hingga akhir tahun. Namun, krisis ekonomi global saat ini dia memperkirakan akan menyebabkan tren tersebut berubah, seperti yang terjadi di China dan Singapura. Tapi untuk Indonesia, terutama produk manufacturing, hingga saat ini belum menunjukkan dampak yang signifikan.
Satwiko menambahkan usaha pemerintah melakukan diversifikasi negara tujuan ekspor akan mulai terlihat hasilnya dalam 6-12 bulan ke depan. Perjanjian kontrak bisnis yang dilakukan pada akhir kuartal I 2012 juga baru terealisir pada 6-12 bulan ke depan. Dengan diversifikasi dan membaiknya perekonomian Amerika diharapkan target ekspor tahun ini yang sebesar US$ 230 miliar dapat tercapai. Menurut data Badan Pusat Statistik, ekspor Januari-Februari 2012 sebesar US$ 31,22 miliar, naik 7,56% dibanding dengan periode yang sama pada 2011 sebesar US$ 29,03 miliar.
Juniman, Kepala Ekonom PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BNII), mengatakan ekspor kuartal I 2012 masih menunjukkan kinerja yang cukup positif, yaitu sebesar US$ 47,3 miliar, meningkat 4,19% dibandingkan dengan kuartal I 2011 sebesar US$ 45,4miliar. Namun, kinerja ekspor yang membaik pada kuartal I ini belum tentu akan berlanjut pada kuartal II. Ekspor kuartal II dia memperkirakan akan menunjukkan kinerja negatif dibandingkan dengan kuartal II 2011, karena tahun lalu kinerja ekspor kuartal II menjadi puncak peningkatan ekspor Indonesia.

Pada kuartal II tahun ini, Jepang yang merupakan salah satu negara tujuan utama ekspor Indonesia, masih melakukan rehabilitasi, zona Euro masih dalam posisi minus, sementara Amerika baru menunjukkan kinerja perbaikan. Dengan kondisi seperti itu, ekspor kuartal II dia memperkirakan belum akan menunjukkan kinerja positif. Menurut Juniman, ekspor baru menunjukkan kinerja positif pada dua kuartal terakhir karena perbaikan ekonomi Amerika Serikat dan upaya diversifikasi negara tujuan ekspor mulai berdampak positif terhadap pertumbuhan ekspor.
Enny Sri Hartati, Ekonom Institute for Development of Economic and Finance, mengatakan ekspor kuartal I 2012 yang menunjukkan kinerja baik akan terus berlanjut hingga kuartal II. Namun, kenaikan ini diperkirakan tidak terlalu signifikan karena diversifikasi pasar belum berjalan optimal. Selama ini pemerintah masih kurang mengembangkan pasar Timur Tengah.
Selain itu, peningkatan ekspor pada kuartal II terjadi karena harga sumber daya alam menunjukkan tren peningkatan cukup tajam. Menurut Enny, kebijakan fiskal yang ditetapkan pemerintah terhadap ekspor bahan baku, seperti kakao, crude palm oil, dan rotan beberapa waktu lalu, jika sudah dilakukan hilirisasi oleh industri dalam negeri akan membuat kinerja ekspor meningkat cukup signifikan. Terutama untuk ekspor furniture dari rotan, jika penerapan industri olahan dalam negeri cepat berkembang, maka ekspor ke negara Timur Tengah akan meningkat signifikan.
Sementara aturan pajak mineral dan batu bara (minerba) yang rencananya akan diterapkan pada kuartal II, belum akan berpengaruh terhadap ekspor karena produk ini tidak banyak dimiliki oleh negara lain. Dengan demikian, dia memperkirakan ekspor mineral dan batu bara tetap akan meningkat meski bea keluar diterapkan untuk produk mineral dan batu bara non-olahan. (*)
Sementara memburuknya kondisi ekonomi kawasan Eropa tidak akan berdampak langsung terhadap ekspor Indonesia.
Satwiko menjelaskan pada kuartal II, dalam kondisi normal ekspor selalu mengalami peningkatan karena realisasi kontrak awal tahun sudah mulai jalan dan terus meningkat hingga akhir tahun. Namun, krisis ekonomi global saat ini dia memperkirakan akan menyebabkan tren tersebut berubah, seperti yang terjadi di China dan Singapura. Tapi untuk Indonesia, terutama produk manufacturing, hingga saat ini belum menunjukkan dampak yang signifikan.
Satwiko menambahkan usaha pemerintah melakukan diversifikasi negara tujuan ekspor akan mulai terlihat hasilnya dalam 6-12 bulan ke depan. Perjanjian kontrak bisnis yang dilakukan pada akhir kuartal I 2012 juga baru terealisir pada 6-12 bulan ke depan. Dengan diversifikasi dan membaiknya perekonomian Amerika diharapkan target ekspor tahun ini yang sebesar US$ 230 miliar dapat tercapai. Menurut data Badan Pusat Statistik, ekspor Januari-Februari 2012 sebesar US$ 31,22 miliar, naik 7,56% dibanding dengan periode yang sama pada 2011 sebesar US$ 29,03 miliar.
Juniman, Kepala Ekonom PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BNII), mengatakan ekspor kuartal I 2012 masih menunjukkan kinerja yang cukup positif, yaitu sebesar US$ 47,3 miliar, meningkat 4,19% dibandingkan dengan kuartal I 2011 sebesar US$ 45,4miliar. Namun, kinerja ekspor yang membaik pada kuartal I ini belum tentu akan berlanjut pada kuartal II. Ekspor kuartal II dia memperkirakan akan menunjukkan kinerja negatif dibandingkan dengan kuartal II 2011, karena tahun lalu kinerja ekspor kuartal II menjadi puncak peningkatan ekspor Indonesia.

Pada kuartal II tahun ini, Jepang yang merupakan salah satu negara tujuan utama ekspor Indonesia, masih melakukan rehabilitasi, zona Euro masih dalam posisi minus, sementara Amerika baru menunjukkan kinerja perbaikan. Dengan kondisi seperti itu, ekspor kuartal II dia memperkirakan belum akan menunjukkan kinerja positif. Menurut Juniman, ekspor baru menunjukkan kinerja positif pada dua kuartal terakhir karena perbaikan ekonomi Amerika Serikat dan upaya diversifikasi negara tujuan ekspor mulai berdampak positif terhadap pertumbuhan ekspor.
Enny Sri Hartati, Ekonom Institute for Development of Economic and Finance, mengatakan ekspor kuartal I 2012 yang menunjukkan kinerja baik akan terus berlanjut hingga kuartal II. Namun, kenaikan ini diperkirakan tidak terlalu signifikan karena diversifikasi pasar belum berjalan optimal. Selama ini pemerintah masih kurang mengembangkan pasar Timur Tengah.
Selain itu, peningkatan ekspor pada kuartal II terjadi karena harga sumber daya alam menunjukkan tren peningkatan cukup tajam. Menurut Enny, kebijakan fiskal yang ditetapkan pemerintah terhadap ekspor bahan baku, seperti kakao, crude palm oil, dan rotan beberapa waktu lalu, jika sudah dilakukan hilirisasi oleh industri dalam negeri akan membuat kinerja ekspor meningkat cukup signifikan. Terutama untuk ekspor furniture dari rotan, jika penerapan industri olahan dalam negeri cepat berkembang, maka ekspor ke negara Timur Tengah akan meningkat signifikan.
Sementara aturan pajak mineral dan batu bara (minerba) yang rencananya akan diterapkan pada kuartal II, belum akan berpengaruh terhadap ekspor karena produk ini tidak banyak dimiliki oleh negara lain. Dengan demikian, dia memperkirakan ekspor mineral dan batu bara tetap akan meningkat meski bea keluar diterapkan untuk produk mineral dan batu bara non-olahan. (*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar