http://nasional.kontan.co.id/news/indonesia-jajaki-penerbitan-obligasi-lintas-negara
JAKARTA. Ekspansi pembiayaan melalui
penerbitan obligasi negara semakin gencar. Indonesia dan negara-negara
di kawasan ASEAN kini sedang menjajaki kemungkinan penerbitan obligasi
lintas negara di kawasan ASEAN+3.
Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan Rahmat Waluyanto mengungkapkan, dalam rangka pengembangan pasar obligasi regional, Indonesia dan negara-negara ASEAN+3 sepakat untuk mengembangkan pasar obligasi ASEAN. Hanya saja, butuh persiapan yang panjang dan matang untuk mewujudkan itu.
"Sebab, kalau kita belum siap, nanti kita akan ada di posisi yang tidak menguntungkan. Pasar kita yang malah akan dimanfaatkan oleh negara lain. Ini yang harus diantisipasi," jelas Rahmat, akhir pekan lalu.
Menteri Keuangan Agus Martowardojo menuturkan, dengan pasar obligasi ASEAN akan memungkinkan negara-negara anggota untuk menerbitkan obligasi di kawasan ASEAN. Hanya saja, Agus bilang, saat ini masing-masing negara sedang mematangkan mengenai infrastruktur, regulasi dan harmonisasi aturan antara negara.
Lanjutnya, jika nanti obligasi lintas negara ini benar-benar terwujud, ada tiga negara ASEAN+3 yang bisa dijajaki untuk menerbitkan obligasi. "Selain Jepang, tentu negara lain yang memiliki potensi (untuk menjadi tempat penerbitan obligasi) adalah Korea dan China," kata Agus.
Direktur Surat Utang Negara (SUN) Bimantara Widyajala menyebut, rencana penerbitan obligasi di pasar ASEAN masih dalam proses pembahasan. Menurutnya, banyak hal yang masih perlu diselesaikan seperti harmonisasi dan standarisasi pasar modal antar negara. "Sebab, kapasitas pasar modal negara-negara di ASEAN+3 berbeda-beda," ungkapnya.
Dia mencontohkan, perkembangan pasar modal di Singapura sudah cukup pesat. Sementara itu, pasar modal di Kamboja, Brunei Darussalam dan Laos masih sangat baru. Makanya, Bimantara bilang, Indonesia juga mengusulkan adanya pembangunan kemampuan bersama (capacity building) terkait dengan penguatan pasar modal.
Agus bilang, idealnya pengembangan pasar obligasi ASEAN bisa dilakukan mulai tahun 2013 nanti. Tapi, berhubung pengembangan ini menyangkut banyak negara, pemerintah juga perlu mempersiapkan pelaku pasar modal di dalam negeri.
Bimantara mengaku sulit bagi pemerintah untuk bisa menentukan kapan Indonesia bisa siap. "Karena kita tidak ingin ketika pemerintah melakukan kesepakatan, tapi pelaku pasarnya belum siap. Makanya, pemerintah bersama Bapepam-LK sebagai regulator sangat berhati-hati untuk memastikan bahwa yang kita dapatkan adalah benefit," pungkasnya.
JAKARTA. Ekspansi pembiayaan melalui
penerbitan obligasi negara semakin gencar. Indonesia dan negara-negara
di kawasan ASEAN kini sedang menjajaki kemungkinan penerbitan obligasi
lintas negara di kawasan ASEAN+3. Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan Rahmat Waluyanto mengungkapkan, dalam rangka pengembangan pasar obligasi regional, Indonesia dan negara-negara ASEAN+3 sepakat untuk mengembangkan pasar obligasi ASEAN. Hanya saja, butuh persiapan yang panjang dan matang untuk mewujudkan itu.
"Sebab, kalau kita belum siap, nanti kita akan ada di posisi yang tidak menguntungkan. Pasar kita yang malah akan dimanfaatkan oleh negara lain. Ini yang harus diantisipasi," jelas Rahmat, akhir pekan lalu.
Menteri Keuangan Agus Martowardojo menuturkan, dengan pasar obligasi ASEAN akan memungkinkan negara-negara anggota untuk menerbitkan obligasi di kawasan ASEAN. Hanya saja, Agus bilang, saat ini masing-masing negara sedang mematangkan mengenai infrastruktur, regulasi dan harmonisasi aturan antara negara.
Lanjutnya, jika nanti obligasi lintas negara ini benar-benar terwujud, ada tiga negara ASEAN+3 yang bisa dijajaki untuk menerbitkan obligasi. "Selain Jepang, tentu negara lain yang memiliki potensi (untuk menjadi tempat penerbitan obligasi) adalah Korea dan China," kata Agus.
Direktur Surat Utang Negara (SUN) Bimantara Widyajala menyebut, rencana penerbitan obligasi di pasar ASEAN masih dalam proses pembahasan. Menurutnya, banyak hal yang masih perlu diselesaikan seperti harmonisasi dan standarisasi pasar modal antar negara. "Sebab, kapasitas pasar modal negara-negara di ASEAN+3 berbeda-beda," ungkapnya.
Dia mencontohkan, perkembangan pasar modal di Singapura sudah cukup pesat. Sementara itu, pasar modal di Kamboja, Brunei Darussalam dan Laos masih sangat baru. Makanya, Bimantara bilang, Indonesia juga mengusulkan adanya pembangunan kemampuan bersama (capacity building) terkait dengan penguatan pasar modal.
Agus bilang, idealnya pengembangan pasar obligasi ASEAN bisa dilakukan mulai tahun 2013 nanti. Tapi, berhubung pengembangan ini menyangkut banyak negara, pemerintah juga perlu mempersiapkan pelaku pasar modal di dalam negeri.
Bimantara mengaku sulit bagi pemerintah untuk bisa menentukan kapan Indonesia bisa siap. "Karena kita tidak ingin ketika pemerintah melakukan kesepakatan, tapi pelaku pasarnya belum siap. Makanya, pemerintah bersama Bapepam-LK sebagai regulator sangat berhati-hati untuk memastikan bahwa yang kita dapatkan adalah benefit," pungkasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar