Senin, 30 April 2012

Data Amerika genjot kenaikan minyak

http://investasi.kontan.co.id/news/data-amerika-genjot-kenaikan-minyak

Data Amerika genjot kenaikan minyakJAKARTA. Minyak kembali mendidih. Akhir pekan lalu, harga emas hitam melaju ke level tertinggi selama tiga minggu terakhir.
Nilai kontrak pengiriman minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk Juni 2012, Jumat (27/4), di New York Mercantile Exchange, adalah US$ 104,93 per barel. Itu merupakan level tertinggi minyak sejak 2 April.

Di hari yang sama, minyak jenis Brent di Bursa ICE Futures senilai US$ 119,83 per barel, turun 0,07% per hari.
Harga minyak melaju, setelah sebagian data ekonomi terbaru Amerika Serikat (AS) menyiratkan perbaikan kondisi ekonomi. Data belanja rumah tangga AS menguat 2,9% melampaui proyeksi tertinggi para analis. Sebagian emiten di Negeri Paman Sam juga melaporkan pertumbuhan kinerja di kuartal I.
Ada faktor penekan
Tapi, data produk domestik bruto (PDB) AS hanya naik 2,2%, di bawah proyeksi analis 2,5%. Di kuartal sebelumnya, PDB AS di level 3%. Data belanja perusahaan untuk peralatan dan perangkat lunak hanya naik 1,7%, atau terendah selama tiga tahun terakhir. "Nampaknya, pasar mengacuhkan sebagian berita yang negatif," kata Jason Schenker, Presiden Prestige Economics, seperti dikutip Bloomberg.
Produksi minyak juga terlihat meningkat. Survei Bloomberg memperkirakan produksi Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC), untuk April, naik 305.000 barel ke level tertinggi dalam 3 tahun.
Arab Saudi sebagai produsen terbesar di OPEC akan meningkatkan kapasitas produksinya sebesar 115.000 barel menjadi 9,82 juta barel per hari untuk bulan ini. Hal ini kemungkinan akan menjaga keseimbangan harga minyak.
"Pasca pemangkasan rating Spanyol, pergerakan minyak mentah belum menunjukkan pola yang positif," duga Ariana Nur Akbar, analis Monex Investindo Futures. Apalagi, Menteri Keuangan Arab Saudi, Ibrahim Alassaf, menyatakan level keseimbangan harga minyak di angka US$ 100 per barel.
Karena itu, Ariana memprediksi batas bawah minyak berkisar US$ 103,68 hingga US$ 102,96. Sedang batas atas antara US$ 104.41 hingga US$ 105,20 per barel.
Chief Market Strategist CMC Markets Asia Pacific, Michael McCharty, memperkirakan, minyak WTI berkisar US$ 103,50 -US$ 108,50.
Analis Askap Futures, Kiswoyo Adi Joe, justru masih yakin data ekonomi AS dan data manufaktur China akan membaik. Jika itu terjadi, maka harga minyak akan terdongkrak dalam pekan ini. "Perkiraan saya, harga akan bergerak US$ 103 - US$110," tebak Kiswoyo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar