Kamis, 29 Maret 2012

Capital Inflow Tetap Akan Tinggi

http://www.indonesiafinancetoday.com/read/24534/Capital-Inflow-Tetap-Akan-Tinggi

JAKARTA (IFT) - Pemerintah optimistis capital inflow dalam bentuk investasi asing langsung (foreign direct investment) tahun ini lebih besar dari tahun lalu, meskipun target pertumbuhan turun dan ekonomi global melambat. Capital inflow ke portofolio juga diprediksi akan tetap masuk.

Tamba P Hutapea, Deputi Perencanaan Investasi Badan Koordinasi Penanaman Modal, mengatakan pada 2008-2011 pemerintah telah memberikan persetujuan rencana investasi langsung sebesar Rp 2.000 triliun dan terealisasi Rp 600 triliun. “Masih ada Rp 1.400 triliun rencana investasi yang belum direalisasikan.  Kami yakin realisasi investasi tahun ini minimal Rp 290 triliun,” kata Tamba, Rabu.
Badan Koordinasi Penanaman Modal mencatat investasi asing langsung tahun lalu mencapai Rp 175,3 triliun dari total investasi langsung Rp 251,3 triliun. Tahun ini, investasi langsung ditargetkan Rp 290 triliun, naik 16,67% dari target tahun lalu Rp 240 triliun. Pemerintah optimistis 70% di antaranya berasal dari investasi asing langsung.
Dibandingkan sejumlah negara, Indonesia masih memiliki sejumlah kelebihan. Pertama, laju pertumbuhan ekonomi masih tergolong tinggi baik di tingkat ASEAN maupun Asia. Kedua, penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah konsumsi masyarakat. Ketiga, Indonesia masih memiliki sumber daya alam yang berlimpah.
“Pendapatan masyarakat kita juga meningkat jadi bagi investor yang ingin berinvestasi dalam jangka panjang, tentu masih akan memilih Indonesia,” kata Tamba. Pemerintah menargetkan peraturan pelaksana dari Undang-Undang Pengadaan Lahan dapat diterbitkan Juni agar arus modal bisa masuk.

Lebih Rendah
Sejumlah ekonom memprediksi arus modal masuk (capital inflow) ke Indonesia tahun ini berpotensi lebih rendah dibandingkan tahun lalu. Perlambatan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat dan Uni Eropa, serta ekspektasi tingginya inflasi akibat kenaikan harga bahan bakar dinilai menjadi penyebab perlambatan arus modal khususnya portofolio.
EPFR, lembaga penyedia data aliran modal seperti dikutip Bloomberg menyebutkan kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi China terefleksikan dalam penurunan inflow ke pasar Asia, kecuali Jepang. Aliran dana itu tercatat outflow US$ 352 juta.
Namun, capital inflow ke pasar negara-negara berkembang awal tahun ini mencapai level tertinggi sejak 2006. Net inflow ke saham di negara berkembang hingga 14 Maret mencapai US$ 453 juta. Rencana aksi korporasi baik akuisisi, pembentukan joint venture, maupun divestasi juga semakin marak.
Destry Damayanti, Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), memprediksi foreign direct investment lebih besar dari portofolio. Aliran modal asing langsung tahun ini diperkirakan mencapai US$ 19 miliar, naik tipis dari tahun lalu US$ 18 miliar.
Sementara, portofolio tahun ini diperkirakan US$ 5 miliar, lebih rendah dari tahun lalu US$ 6 miliar. Namun, jika kenaikan harga bahan bakar minyak hanya memberikan dampak jangka pendek maka arus modal pada portofolio bisa mencapai US$ 7 miliar.
“Investasi portofolio dibayangi inflasi sehingga ada shock jangka pendek. Hal itu berbeda dengan investasi langsung, karena mereka masih menilai fundamental ekonomi masih baik,” kata Destry. Arus modal pada portofolio juga sangat bergantung perkembangan ekonomi global.
Fauzi Ichsan, Ekonom Senior Standard Chartered Bank Indonesia, mengatakan capital inflow pada kuartal II tahun ini disertai ketidakpastian karena kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi. Hal itu akan mendorong nilai tukar pada level Rp 9.300-Rp 9.400 per dolar Amerika Serikat (AS).
Namun, capital inflow berpotensi semakin deras masuk ke Indonesia pada semester II. Arus modal yang masuk akan mendorong penguatan rupiah pada level Rp 8.800 per dolar AS.
Untuk investasi asing langsung,  pemerintah diminta meningkatkan daya saing. Indonesia bersaing dengan Brazil, Meksiko, India, dan Thailand, yang memiliki fundamental ekonomi baik.
Rahmat Waluyanto, Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan, optimistis capital inflow ke emerging market termasuk ke Indonesia masih besar. “Krisis Eropa akan lama dan fundamental ekonomi Indonesia sangat bagus,” kata Rahmat.(*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar