JAKARTA: PT Waskita Karya memperkirakan sebesar 90% dari 120 proyek konstruksi yang digarapnya tahun ini merupakan proyek dari pemerintah dan badan usaha milik negara. Sisan 10% merupakan proyek swasta.
Direktur Keuangan Waskita Karya Tunggul Rajagukguk mengatakan jenis proyek yang banyak digarap selama 2012 adalah pembangunan jalan tol misalnya proyek ruas tol Serangan Tanjung Benoa, Semarang-Solo, dan akses tol Priok E2.
“Kami perkirakan untuk pendapatan dari proyek tol selama 2012 sekitar Rp4 triliun. Atau sekitar 40% dari rencana pendapatan total selama setahun Rp9-10 triliun,” ujarnya di Jakarta.
Sementara itu, pendapatan dari sektor engineering procurement, dan construction (EPC) diprediksi mencapai Rp2 triliun.
Tunggul mengatakan selama 2012 perusahaan menargetkan perolehan kontrak mencapai Rp11 triliun. Dari target itu, senilai Rp6 triliun merupakan proyek carry over dari tahun lalu.
Dia menjelaskan untuk pendanaan proyek tersebut, perusahaan telah memperoleh pinjaman dari Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (Indonesia Eximbank) senilai Rp 120 miliar, yang juga akan digunakan untuk membiayai modal kerja ekspor.
Tahun ini Waskita Karya menargetkan perolehan pinjaman perbankan sebesar Rp5,38 triliun untuk membiayai modal kerja perseroan. Sebelumnya, perseroan telah menandatangani perjanjian kredit senilai Rp4,36 triliun dengan PT Bank Negara Indonesia (Persero)
Pinjaman itu meliputi kredit modal kerja sebesar Rp 1 triliun, penerbitan garansi bank sebagai penjaminan pelaksanaan proyek Rp 3triliun, dan penerbitan letter of credit (L/C) untuk impor barang-barang modal sebesar US$ 40 juta atau ekuivalen dengan Rp360 miliar.
Selain itu, perseroan juga mendapatkan pinjaman dari Bank Mandiri dan Bank Jabar Banten, masing-masing senilai Rp600 miliar dan Rp300 miliar.
Dana pinjaman itu juga akan digunakan untuk membiayai kebutuhan pembiayaan proyek sebelumnya.
Sementara itu, Sekretaris Perusahaan Indonesia Eximbank Enny Listyorini mengatakan pemberian pinjaman pada Waskita Karya sesuai dengan UU No.2/2009 tentang lembaga pembiayaan ekspor Indonesia (UU LPEI).
Dalam UU tersebut menyebutkan mereka bertugas memberikan fasilitas pembiayaan guna pengembangan dalam rangka menghasilkan barang dan jasa yang menunjang ekspor.
“Selain itu, Waskita Karya juga ditunjuk sebagai salah satu kontraktor proyek oleh Saudi Bin Ladin Group merupakan bukti kepercayaan terhadap perusahaan konstruksi Indonesia dan aktivitas ekspor jasa yang dapat meningkatkan devisa negara,” ujarnya.(ea)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar