http://keuangan.kontan.co.id/news/bca-mencetak-laba-rp-108-triliun/2012/03/30
JAKARTA.
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) berhasil membukukan laba bersih Rp 10,82
triliun. Angka ini tumbuh 27,6% dibandingkan Desember 2010 sebesar Rp
8,48 triliun.
JAKARTA.
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) berhasil membukukan laba bersih Rp 10,82
triliun. Angka ini tumbuh 27,6% dibandingkan Desember 2010 sebesar Rp
8,48 triliun.
Pendapatan bunga bersih, fee based income (non-bunga) dan efisiensi biaya menjadi penopang laba tersebut. Akhir Desember 2011, pendapatan bunga bersih tumbuh 30,1% (year on year/yoy). Ini tak lepas dari keberhasilan BCA menggenjot pertumbuhan kredit sebesar 31,4% menjadi Rp 202,3 triliun. Adapun fee based income meningkat
2% dari Rp 7,36 triliun menjadi Rp 7,21 triliun. Di sisi lain, biaya
operasional tumbuh 14,2% dari Rp 9,56 triliun menjadi Rp 10,91 triliun.
Presiden Direktur BCA, Jahja Setiaatmadja mengatakan, rendahnya fee based income lantaran adanya perubahan penempatan di Bank Indonesia (BI). BCA mengurangi dana di Sertifikat BI (SBI) lalu mengalihkan ke term deposit . "Sekarang ini kami banyak menempatkan dana di term deposit," katanya, Kamis (29/3).
Ini berpengaruh ke pencatatan bunga. Jika pendapatan SBI tercatat di fee based income, term deposit nongkrong di pendapatan bunga. "Sebenarnya, setiap tahun pertumbuhan fee based income kami tumbuh stabil di 10%-15%, ditopang bisnis transactional banking," ujarnya. Akhir Desember 2011, total penempatan BCA di BI mencapai Rp 70,39 triliun.
BCA berhasil mengumpulkan dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp 323,4 triliun atau tumbuh 16,5% (yoy). Laju kredit yang lebih tinggi dibandingkan DPK mendorong peningkatan rasio intermediasi BCA atau loan to deposit ratio dari 55,2% menjadi 61,7%.
BCA akan tetap fokus pada kredit konsumer untuk
memanfaatkan peningkatan daya beli masyarakat. Menurut Jahja, kebijakan
kenaikan harga BBM yang meningkatkan inflasi dan aturan down payment (DP)
kredit properti serta otomotif tidak akan mengganggu, sebab BCA
menyasar masyarakat kelas menengah atas. "Pengaruhnya tentu ada, tetapi
tidak signifikan. Alternatif pembiayaan yang kami bidik tahun ini adalah
infrastruktur," ujar dia.
PT Bank Mega Tbk (MEGA) juga menyalurkan kredit
lebih tinggi dari DPK untuk menggenjot LDR. Sepanjang tahun lalu, bank
milik taipan Chairul Tanjung ini mencatatkan penyaluran kredit sebesar
Rp 31,8 triliun atau tumbuh 33,11%. Adapun DPK hanya tumbuh 17,34%
menjadi Rp 49,59 triliun. Alhasil LDR Mega meningkat dari 56,03%
nmenjadi 63,75%.
Namun, laba bersih Bank Mega tidak setinggi
pertumbuhan kredit. Bank ini hanya membukukan kenaikan laba sebesar
12,73% menjadi Rp 1,07 triliun. Ini disebabkan beban operasional tumbuh
114,15% menjadi Rp 956,48 miliar.
Adapun pendapatan bunga bersih hanya tumbuh Rp 2,08 triliun.
"Kenaikan laba didorong peningkatan penyaluran kredit khususnya di
segmen UKM, ," ujar Gatot Aris Munandar, Sekretaris Perusahaan Bank
Mega. n
Tidak ada komentar:
Posting Komentar