http://industri.kontan.co.id/news/tarif-bongkar-muat-naik-pengusaha-keberatan/2012/02/27
JAKARTA. Asosiasi Logistik dan
Forwarder Indonesia (ALFI) keberatan dengan rencana kenaikan tarif
bongkar muat di dermaga konvensional Pelabuhan Tanjung Priok sebesar
20%. Wakil Ketua ALFI Mahendra Rianto meminta rencana itu
dipertimbangkan kembali.
Dia berharap besaran kenaikan tarif itu tidak terlalu memberatkan pemilik barang. "Saya rasa kenaikannya tidak harus sebesar itu," ujarnya saat dihubungi KONTAN, Senin (27/2).
Ia menilai rencana kenaikan tarif di Pelabuhan Tanjung Priok tidak terlepas dari kenaikan upah buruh. Menurutnya, kenaikan upah buruh secara otomatis meningkatkan biaya-biaya lain yang harus ditanggung perusahaan bongkar muat.
ALFI menilai kenaikan tarif bongkar muat harus diikuti tingkat pelayanan yang lebih cepat sehingga lalu lintas barang di pelabuhan terbesar di Indonesia lebih lancar. "Kami dapat memaklumi karena memang sejak 2008 tarif bongkar muat belum pernah dinaikkan, tapi angka yang sekarang terlalu memberatkan," tegasnya.
Para pengusaha logistik menyoroti masih banyaknya pungutan liar dan biaya-biaya siluman lainnya. Dia mendesak rencana kenaikan tarif bongkar muat di dermaga konvensional itu ditinjau ulang karena akan mempengaruhi biaya logistik nasional.
"Kami akan mengadakan pertemuan dengan segala pihak yang terlibat untuk membicarakan lebih lanjut," tegasnya.
Menurutnya harus ada kompensasi yang jelas sendainya nanti biaya tarif bongkar muat jadi naik. Meski belum mengungkapkan perkiraaan ongkos yang akan ditanggung, namun Mahendra memperkirakan para importir yang akan paling terkena dampaknya.
Sebelumnya, APBMI mengusulkan kenaikan tarif jasa bongkar muat atau ongkos pelabuhan pemuatan-ongkos pelabuhan tujuan mulai 1 Maret 2012. Untuk pelayanan kargo jenis kontainer diusulkan naik rata-rata 15%-20%, sedangkan jenis barang umum naik 25%-30%.
JAKARTA. Asosiasi Logistik dan
Forwarder Indonesia (ALFI) keberatan dengan rencana kenaikan tarif
bongkar muat di dermaga konvensional Pelabuhan Tanjung Priok sebesar
20%. Wakil Ketua ALFI Mahendra Rianto meminta rencana itu
dipertimbangkan kembali.Dia berharap besaran kenaikan tarif itu tidak terlalu memberatkan pemilik barang. "Saya rasa kenaikannya tidak harus sebesar itu," ujarnya saat dihubungi KONTAN, Senin (27/2).
Ia menilai rencana kenaikan tarif di Pelabuhan Tanjung Priok tidak terlepas dari kenaikan upah buruh. Menurutnya, kenaikan upah buruh secara otomatis meningkatkan biaya-biaya lain yang harus ditanggung perusahaan bongkar muat.
ALFI menilai kenaikan tarif bongkar muat harus diikuti tingkat pelayanan yang lebih cepat sehingga lalu lintas barang di pelabuhan terbesar di Indonesia lebih lancar. "Kami dapat memaklumi karena memang sejak 2008 tarif bongkar muat belum pernah dinaikkan, tapi angka yang sekarang terlalu memberatkan," tegasnya.
Para pengusaha logistik menyoroti masih banyaknya pungutan liar dan biaya-biaya siluman lainnya. Dia mendesak rencana kenaikan tarif bongkar muat di dermaga konvensional itu ditinjau ulang karena akan mempengaruhi biaya logistik nasional.
"Kami akan mengadakan pertemuan dengan segala pihak yang terlibat untuk membicarakan lebih lanjut," tegasnya.
Menurutnya harus ada kompensasi yang jelas sendainya nanti biaya tarif bongkar muat jadi naik. Meski belum mengungkapkan perkiraaan ongkos yang akan ditanggung, namun Mahendra memperkirakan para importir yang akan paling terkena dampaknya.
Sebelumnya, APBMI mengusulkan kenaikan tarif jasa bongkar muat atau ongkos pelabuhan pemuatan-ongkos pelabuhan tujuan mulai 1 Maret 2012. Untuk pelayanan kargo jenis kontainer diusulkan naik rata-rata 15%-20%, sedangkan jenis barang umum naik 25%-30%.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar