Oleh:
Makmun Syadullah
Peneliti
Utama Badan Kebijakan Fiskal, Kemenkeu
Tulisan
ini adalah pendapat pribadi
Kontan
3 Februari 2012
Pemerintah berencana membatasi konsumsi premium dan konversi bahan
bakar minyak (BBM) subsidi ke bahan bakar gas (BBG) mulai 1 April 2012.
Pemerintah beralasan penghematan dan hampir 75 persen penggunaan BBM bersubdisi
salah sasaran. Pada saat bersamaan, lanjutnya, pemerintah juga akan
mengimplementasikan inovasi penerapan alternatif energi dari BBM menjadi compress
natural gas (CNG), dibandingkan liquified gas for vehicle (LGV),
karena sesuai dengan kemampuan produksi domestik.
Belum juga ada kejelasan apakah rencana pembatasan konsumsi premium
ini akan berjalan, muncul wacana baru yakni menaikkan harga BBM bersubsidi.
Wacana ini bertententangan dengan Undang-Undang
APBN 2012, karena dalam UU tersebut tidak ada opsi mengenai kebijakan
menaikkan BBM. Apabila pemerintah ingin menaikkan BBM, maka yang harus dilakukan
mengubah UU APBN-P 2012.
Meskipun rencana yang terakhir bertentangan dengan UU APBN 2012,
rencana ini mendapatkan dukungan dari kamar dagang dan industry (Kadin). Kadin
mengusulkan agar kenaikan harga BBM dibedakan antara kelompok yang berhak
menerima subsidi dengan kelompok yang tidak berhak.
Rekomendasi Kadin cukup masuk akal, namun diyakini Kadin punya
kepentingan tersendiri dibalik dukungannya terhadap wacana kenaikan BBM
bersubsidi. Setidaknya dukungan ini akan berdampak lebih kecil terhadap
industry otomotif dibandingkan pilihan pembatasan konsumsi BBM bersubsidi.
Pilihan pembatasan konsumsi BBM bersubsidi diprediksi akan berdampak pada
turunnya penjuala kendaraan roda empat, terutama non niaga secara drastic.
Mencari Jalan Tengah
Terlepas dari perdebatan apakah pemerintah sebaiknya membatasi konsumsi
BBM bersubsidi atau menaikkan harga BBM
bersubsidi, tentunya kedua pilihan ini masing-masing memiliki kelebihan dan
kekurangan. Kelebihan pilihan pada pembatasan konsumsi BBM bersubsidi adalah
subsidi BBM akan lebih fokus pada kelompok tertentu (kendaraan roda dua dan
kendaraan roda empat dengan plat kuning), sehingga akan lebih tepat sasaran. Dampak
negatif ke masyarakat lapisan bawah juga akan kecil, karena BBM untuk
kepentingan lapisan masyarakat umum tidak berubah.
Program pembatasan BBM bersubsidi akan lebih mendorong pada
pengembangan energy terbarukan. Selama ini kendala pengembangan energy
terbarukan adalah harga tidak mampu bersaing dengan BBM yang disubsidi. Dengan
dicabutnya subsidi BBM, diharapkan salah satu kendala pengembangan energy terbarukan
dapat diatasi.
Dari sisi keungan negara, program pembatasan konsumsi BBM bersubsidi
sangat kecil risikonya. Apabila harga minyak dunia naik, maka subsidi BBM tidak
akan memberatkan APBN, karena konsumsi BBM kendaraan plat hitam otomatis
menyesuaiakan harga petramax.
Adapun kekurangan atau kelemahan pada pilihan pembatasan konsumsi
BBM bersubsidi antara lain adalah dalam pelaksanaan memerlukan pengawasan yang
cukup ketat. Disamping itu ada kekhawatiran rencana ini gagal, mengingat
pembatasan yang dibarengi dengan konversi kendaraan bermotor dari bensin ke gas
membutuhkan konverter yang cukup mahal (sekitar Rp 12 juta). Ini belum termasuk
kesiapan dalam menyiapkan tempat pengisian gas di stasiun pengisian bahan bakar
untuk umum.
Sementara itu kelebihan pada pilihan menaikkan harga BBM adalah tidak
memerlukan pengawasan yang ketat, namun apabila rekomendasi Kadin agar harga
BBM bersubsidi dibedakan antara kendaraan niaga dengan plat hitam, tentunya
juga memerlukan pengawasan yang ketat. Menaikkan harga BBM bersubsidi juga
lebih efisien, karena bagi masyarakat tidak mampu membeli petramax tidak perlu
merogoh kantong untuk membeli converter.
Adapun kelemahan pilihan menaikkan harga BBM bersubsidi adalah apabila
perbedaan antara harga BBM bersubsidi dengan petramax masih cukup besar, maka disamping
akan mengancam program pemerintah dalam mengembangkan energy terbarukan, juga
akan menghambat realisasi rod map
subsidi pemerintah energy. Kelemahan lainnya apabila harga minyak dunia terus
meningkat, maka beban subsidi energy secara otomatis juga akan meningkat
kembali.
Pilih Mana?
Membatasi konsumsi BBM bersubsidi atau menaikkan harga BBM, tentunya
suatu pilihan yang sebenarnya mudah, tinggal dari sudut mana?. Bagi pemerintah
tentunya pilihan membatasi konsumsi BBM bersubsidi akan lebih pas.
Meskipun perlu pengawasan yang cukup
ketat, akan tetapi risiko keuangan negara dapat dikatakan lebih kecil, terutama
apabila terjadi gejolak harga minyak dunia.
Berbeda dengan pengusaha otomotif dan konsumen, pilihan kenaikan
harga BBM bersubsidi akan lebih menguntungkan. Bagi pengusaha otomotif tentunya
tidak menginginkan penjualannya turun drastis, karena adanya konversi dari BBM
ke petramax. Begitu halnya dengan konsumen, pilihan pembatasan konsumsi BBM
bersubsidi sangat merugikan, karena disamping harus menambah biaya untuk
converter, jika mau menggunakan BBG, pindah ke petramax tentunya sangat
memberatkan.
Tentunya tidak mudah mempertemukan kepentingan pemerintah dengan
pengusaha dan konsumen. Perlu dicari jalan tengah yang memuaskan semua
kepentingan. Salah satu jalan yang dapat dipertimbangkan pemerintah adalah tetap
menjalankan program pembatasan konsumsi BBM bersubsidi. Kendaraan roda dua dan
kendaraan roda empat untuk niaga tetap mengkonsumsi BBM bersubsidi. Sedangkan
untuk kendaraan plat hitam yang akan mengkonsumsi petramax mendapatkan subsidi harga.
Subsidi ini sifatnya presentase tertentu dari harga petramax, sehingga tidak
akan memberatkan keuangan negara. Dengan demikian subsidi mengikuti perubahan harga
pertamax. Kelebihan alternatif ini disamping tidak memerlukan pengawasan yang
ketat, juga berpotensi adanya penghematan subsidi yang cukup besar apabila
subsidi petramax dibatasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar