http://www.indonesiafinancetoday.com/read/23075/Pelemahan-Rupiah-dan-Euro-Diperkirakan-Tekan-Ekspor
JAKARTA (IFT) – Pelemahan nilai tukar rupiah yang disertai melemahnya euro yang terlalu dalam diperkirakan akan membuat industri dalam negeri tertekan dan secara keseluruhan tidak menguntungkan ekspor. Edy Putra Irawady, Deputi Menteri Koordinator Perekonomian Bidang Industri dan Perdagangan, mengatakan khusus untuk ekspor manufaktur pelemahan nilai tukar rupiah dapat meningkatkan daya saing. Namun, pelemahan rupiah akan membuat industri manufaktur Indonesia yang berbahan baku dan bahan penolong dari impor tertekan.
"Yang perlu diperhitungkan adalah bukan seberapa besar rupiah melemah atau menguat, namun kestabilannya," kata Edy. Level rupiah Rp 8.000 per dolar Amerika Serikat diyakini memberi kenyamanan untuk industri baik yang berbasis impor maupun berorientasi ekspor.
Pelemahan nilai tukar saat ini diperkirakan tidak akan langsung menguntungkan eksportir, karena nilai tukar euro juga melemah terhadap dolar Amerika Serikat, sehingga akan menurunkan ekspor. Menurut Edy, ekspor sumber daya alam pada dasarnya tidak terpengaruh signifikan terhadap fluktuasi nilai tukar karena produk ini tetap akan dibeli.
Namun, volatilitas nilai tukar akan sangat berpengaruh pada produk manufaktur. Menurut data Badan Pusat Statitik, total ekspor pada 2011 mencapai US$ 203,62 miliar, meningkat 29,05% dibanding 2010 yang sebesar US$ 157,78 miliar.
Nurul Eti Nurbaeti, Kepala Riset Treasury PT Bank BNI Tbk (BBNI), mengatakan pelemahan nilai tukar akan membuat daya saing produk Indonesia meningkat. Namun, penurunan perdagangan internasional karena kondisi global menyebabkan pelemahan nilai tukar tidak akan memberikan pengaruh signifikan terhadap ekspor.

Pelemahan rupiah akan berdampak buruk bagi inflasi karena mendorong imported inflation yang berasal dari harga produk impor yang lebih mahal. Pemerintah disarankan menjaga agar nilai tukar rupiah tidak terlalu melemah karena akan membuat tekanan inflasi semakin tinggi. "Tekanan inflasi akan tinggi tahun ini karena ada rencana kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi,” kata Nurul.
Pada 27 Februari 2012, nilai tukar rupiah melemah ke level Rp 9.125 per dolar Amerika Serikat dibandingkan saat pembukaan di level Rp 9.060 per dolar Amerika Serikat, setelah bergerak di kisaran Rp 9.060–Rp 9.125 per dolar Amerika Serikat. Pelemahan rupiah ini dikarenakan tingginya permintaan dolar oleh korporasi global.
M Doddy Ariefianto, Ekonom Universitas Ma Chung Malang, mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah akan meningkatkan daya asing ekspor karena harga produk Indonesia menjadi lebih murah. Namun, pelemahan rupiah akan berdampak lebih buruk terhadap inflasi karena harga produk impor lebih mahal. Padahal, produk industri Indonesia banyak yang memakai bahan baku impor.
Tekanan inflasi tahun ini juga akan datang dari rencana kenaikan harga BBM subsidi dan tarif listrik. Laju inflasi tahun ini diperkirakan lebih tinggi dari perkiraan asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2012 sebesar 5,3%. (*)
JAKARTA (IFT) – Pelemahan nilai tukar rupiah yang disertai melemahnya euro yang terlalu dalam diperkirakan akan membuat industri dalam negeri tertekan dan secara keseluruhan tidak menguntungkan ekspor. Edy Putra Irawady, Deputi Menteri Koordinator Perekonomian Bidang Industri dan Perdagangan, mengatakan khusus untuk ekspor manufaktur pelemahan nilai tukar rupiah dapat meningkatkan daya saing. Namun, pelemahan rupiah akan membuat industri manufaktur Indonesia yang berbahan baku dan bahan penolong dari impor tertekan.
"Yang perlu diperhitungkan adalah bukan seberapa besar rupiah melemah atau menguat, namun kestabilannya," kata Edy. Level rupiah Rp 8.000 per dolar Amerika Serikat diyakini memberi kenyamanan untuk industri baik yang berbasis impor maupun berorientasi ekspor.
Pelemahan nilai tukar saat ini diperkirakan tidak akan langsung menguntungkan eksportir, karena nilai tukar euro juga melemah terhadap dolar Amerika Serikat, sehingga akan menurunkan ekspor. Menurut Edy, ekspor sumber daya alam pada dasarnya tidak terpengaruh signifikan terhadap fluktuasi nilai tukar karena produk ini tetap akan dibeli.
Namun, volatilitas nilai tukar akan sangat berpengaruh pada produk manufaktur. Menurut data Badan Pusat Statitik, total ekspor pada 2011 mencapai US$ 203,62 miliar, meningkat 29,05% dibanding 2010 yang sebesar US$ 157,78 miliar.
Nurul Eti Nurbaeti, Kepala Riset Treasury PT Bank BNI Tbk (BBNI), mengatakan pelemahan nilai tukar akan membuat daya saing produk Indonesia meningkat. Namun, penurunan perdagangan internasional karena kondisi global menyebabkan pelemahan nilai tukar tidak akan memberikan pengaruh signifikan terhadap ekspor.

Pelemahan rupiah akan berdampak buruk bagi inflasi karena mendorong imported inflation yang berasal dari harga produk impor yang lebih mahal. Pemerintah disarankan menjaga agar nilai tukar rupiah tidak terlalu melemah karena akan membuat tekanan inflasi semakin tinggi. "Tekanan inflasi akan tinggi tahun ini karena ada rencana kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi,” kata Nurul.
Pada 27 Februari 2012, nilai tukar rupiah melemah ke level Rp 9.125 per dolar Amerika Serikat dibandingkan saat pembukaan di level Rp 9.060 per dolar Amerika Serikat, setelah bergerak di kisaran Rp 9.060–Rp 9.125 per dolar Amerika Serikat. Pelemahan rupiah ini dikarenakan tingginya permintaan dolar oleh korporasi global.
M Doddy Ariefianto, Ekonom Universitas Ma Chung Malang, mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah akan meningkatkan daya asing ekspor karena harga produk Indonesia menjadi lebih murah. Namun, pelemahan rupiah akan berdampak lebih buruk terhadap inflasi karena harga produk impor lebih mahal. Padahal, produk industri Indonesia banyak yang memakai bahan baku impor.
Tekanan inflasi tahun ini juga akan datang dari rencana kenaikan harga BBM subsidi dan tarif listrik. Laju inflasi tahun ini diperkirakan lebih tinggi dari perkiraan asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2012 sebesar 5,3%. (*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar