http://www.bisnis.com/articles/krisis-eropa-investor-asing-serbu-sbn
JAKARTA : Pemerintah menilai berlarut-larutnya penyelesaian krisis
utang Eropa dan perlambatan ekonomi di Amerika Serikat memicu pengalihan
modal ke Tanah Air, a.l. terlihat dari meningkatnya kepemilikan surat
berharga negara (SBN) oleh investor asing.
Direktorat Jenderal Pengelolaan Uang mencatat kepemilikan SBN oleh
asing per 26 Januari mencapai Rp228,62 triliun, meningkat Rp5,76 triliun
dibandingkan posisi akhir Desember 2011 yang sebesar Rp222,86 triliun.
Rahmat Waluyanto, Direktur Jenderal Pengelolaan Utang, menilai
peningkatan tersebut dipengaruhi oleh krisis utang kawasan Eropa dan
faktor perlambatan ekonomi AS yang membuat suku bunga imbal hasil
tertahan di level rendah hingga 2014. Kondisi tersebut membuat investor
global berfikir ulang untuk memutar modalnya di dua wilayah tersebut dan
memilih menanamkan modalnya di Indonesia yang berperingkat layak
investasi.
“Jadi lebih karena krisis Eropa dan perlambatan ekonomi AS, serta
predikat investment grade Indonesia,” jelasnya melalui telepon, hari
ini.
Untuk menjaga persepsi investor, kata Rahmat, pemerintah akan mengelola
utang dengan baik. Terutama menyangkut pengelolaan utang jatuh tempo
yang jumlahnya pada tahun ini mencapai Rp111 triliun, lebih tinggi
dibandingkan 2011 yang sebesar 97 triliun. Utang jatuh tempo tahun ini
terdiri atas pinjaman Rp47 triliun dan SBN Rp64 triliun. “Kami kan
setiap tahun melalukan refinancing, jadi tidak ada masalah dengan itu
(jatuh tempo utang).”
Menurut Rahmat, dalam APBN 2012 sudah teralokasi anggaran untuk
pembelian kembali surat utang negara yang jatuh tempo (buyback) sekitar
Rp4 triliun. Namun tidak menutup kemungkinan aksi buyback dilakukan
lebih besar dari itu, selama tambahan penerbitan netto tidak melebihi
rencana Rp134 triliun.
“Boleh buyback melebihi Rp4 triliun, dengan catatan penerbitan SBN baru
tidal melebihi target netto penerbitan Rp134 triliun di APBN 2012,”
terangnya.
Rahmat Waluyanto meyakini aliran modal masuk ke Tanah Air akan terus
meningkat pasca perbaikan peringkat kredit Indonesia oleh Fitch Ratings
dan Moody’s Investor Service. Dia meyakini Maret nanti, Standard &
Poor’s akan menyusul kedua lembaga pemeringkat itu dengan melekatkan
predikat layak investasi baru bagi Indonesia. (sut)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar