Jumat, 23 Desember 2011

Tidak Serius, Industri Agro Hanya Tumbuh Di Bawah 6%

http://www.bisnis.com/articles/tidak-serius-industri-agro-hanya-tumbuh-di-bawah-6-percent

Large_kakao__2_ JAKARTA: Pertumbuhan industri agro diperkirakan bisa mencapai 6% jika pemerintah dapat menerapkan strategi percepatan dan perluasan industri tersebut secara optimal.

Ekonom Indef Didik Rachbini mengatakan untuk mencapai pertumbuhan itu pemerintah harus bisa melakukan berbagai terobosan dalam bentuk insentif, regulasi, dan ketersediaan energi.

Capaian pertumbuhan 6%, tambahnya, hanya bisa diraih jika pemerintah mampu mengantisipasi dampak krisis di Eropa dan AS dengan mendorong peningkatan peringkat investasi Indonesia.


“Pertumbuhan 4,5%—6%. Akan rendah jika pemerintah bekerja seperti biasa, apalagi harga komoditas pertanian kemungkinan turun karena perlemahan permintaan dari Uni Eropa dan AS,” katanya dalam Seminar Strategi Percepatan dan Perluasan Agroindustri hari ini.

Menteri Perindustrian M. S. Hidayat mengungkapkan pemerintah berusaha mempercepat dan memperluas industrialisasi melalui penghiliran komoditas pertanian.

Untuk mendorong itu, menurutnya, pemerintah dan para pemangku kepentingan harus berusaha mempercepat pembangunan infrastruktur dan meingkatkan penggunaan teknologi dalam industri nasional.

Selain itu, pemerintah akan mendorong pembatasan ekspor bahan baku mentah, insentif fiskal, dan mempermudah izin bagi investasi dalam industri hilir.

Namun, Hidayat mengakui penghiliran industri berbasis komoditas pertanian masih terkendala berbagai kekurangan dalam iklim usaha.

Pertumbuhan industri hilir terkendala oleh infrastruktur di luar Jawa, tren ekspor komoditas untuk mengejar kenaikan harga di pasar internasional, kandungan impor yang tinggi, serta pengembangan teknologi yang lambat.

Didik mengatakan pertumbuhan industri pengolahan berbasis pertanian di Indonesia masih rendah dibandingkan dengan negara tetangga, seperti Malaysia.

Pemerintah, menurutnya, harus bersikap tegas untuk mengutamakan penyerapan sumber daya oleh industri domestik sambil menjaga pasar domestik dari serbuan barang impor.

Didik mengatakan komoditas seperti kelapa sawit, kakao, karet, rumput laut, dan rotan adalah komoditas yang seharusnya dikembangkan untuk mendorong industri bernilai tambah tinggi.

Data Kementerian Perindustrian menyatakan pertumbuhan subsektor industri agro pada 2010 mencapai 62,57% dari Rp822,73 triliun pada 2009 menjadi Rp1.337,48 triliun.

Sebaliknya, nilai tambah subsektor industri tersebut menciut 49,79% pada periode yang sama dari Rp323,61 triliun pada 2009 menjadi Rp162,49 triliun.

Penurunan tersebut, jelas Didik, menunjukkan pangsa pasar produk industri agro hilir Indonesia kehilangan pangsa pasar dan digantikan produk agro dari negara lain. (bas)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar