http://www.bisnis.com/articles/review-komoditas-2011-harga-turun-dan-rugi
SINGAPURA: Tahun 2011 kurang bersahabat bagi komoditas. Indeks harga
komoditas tercatat turun dalam setahun ini, yang pertama sejak 2008,
akibat kekhawatiran bahwa krisis utang Eropa dan pendinginan ekonomi
China bakal mengurangi permintaan bahan baku.
Hingga pukul 10.03 waktu London, Indeks Imbal Hasil Total GSCI Standard
& Poor turun 0,9% selama 2011, sekalipun hari ini sedikit naik
0,1%.
Penurunan harga yang cukup besar dialami kakao di New York yang anjlok
32% pada 2011 di tengah naiknya pasokan dari Pantai Gading, penghasil
terbesar dunia. Adapun harga kapas turun 37% tahun ini di tengah
peningkatan produksi dan berkurangnya permintaan.
Tembaga
Tembaga, yang sering dilihat sebagai indikator aktivitas ekonomi
seperti yang digunakan dalam konstruksi dan mobil, mengalami kerugian
tahunan pertama sejak 2008.
Pengaruh terbesar dari China, konsumen terbesar tembaga. Perekonomian
China, menurut kelompok negara maju (OECD), akan tumbuh 8,5% tahun
depan, turun dari 10,4% pada 2010.
Sektor manufaktur terkontraksi untuk bulan kedua pada Desembr karena
goyahnya pertumbuhan global dan tindakan Perdana Menteri Wen Jiabao yang
menindak spekulasi di pasar perumahan.
Emas, Minyak
Kenaika pada harga emas, minyak dan ternak membantu membatasi kerugian.
Emas, 10% lebih tinggi pada 2011, berada di jalur kenaikan tahunan
ke-11 sejalan upaya investor mencari tempat untuk melindungi aset mereka
dari gejolak pasar keuangan.
Adapun harga minyak naik 8,9% tahun ini, yang merupakan keuntungan
tahunan ketiga di tengah meningkatnya ketegangan Timur Tengah dan
naiknya permintaan AS. Tindakan Iran yang mengancam blokade selat Hormuz
menganggu pasokan.
Sementara itu harga ternak hidup yang dijual secara berjangka di bursa
Chicago naik 13% karena susutnya jumlah kawanan itu di AS.
Tekanan terhadap komoditas datang dari reli dolar 1,9% terhadap 6
valuta utama sepanjang tahun ini, yang menekan permintaan produk yang
dijual dengan mata uang AS itu. S
Sekalipun begitu, indeks komoditas masih mengungguli ekuitas seiring Indeks MSCI atas semua negara yang jatuh 9,7%.
Krisis Eropa
Terakhir indeks komoditas jatuh 46,5% pada 2008 setelah runtuhnya
Lehman Brothers Holdings Inc yang memicu resesi terburuk sejak Depresi
Besar 1930, yang juga merontokan bursa saham.
Komoditas rebound 13,5% pada 2009 dan reli 9% tahun lalu karena
pemerintah di seluruh dunia membelanjakan stimulus untuk meningkatkan
ekonomi mereka.
Indeks S&P GSCI menyentuh level terendahnya dalam 11 bulan pada
Oktober. Indeks turun lebih dari 20% dari level tertingginya pada April,
sehingga memasuki kondisi pasar lesu atau bear, karena investor
memangkas kepemilkan komoditas di tengah lambatnya ekspansi ekonomi.
Pada bulan tersebut Nouriel Roubini, ekonom yang memprediksi gelembung
perumahan AS, mengatakan ada kemungkinan 50% resesi melanda negara Paman
Sam, Inggris, dan bahkan kawasan euro dalam 12 bulan berikutnya.
Logam Industri
Indeks LMEX atas 6 logam industri merosot 23% tahun ini, dipimpin oleh penurunan harga timah, nikel dan seng.
Harga spot perak hampir 11% lebih rendah pada 2011, yang merupakan
penurunan tahunan pertamanya dalam 3 tahun. Adapun harga palladium juga
menghadapi kemerosotan 21%, dan platinum telah terperosok 22%.
"Masalah di AS, Eropa dan China memiliki semua kontribusi terhadap
kinerja lemah [komoditas] tahun ini," kata Nick Trevethan, ahli
komoditas senior Australia & New Zealand Banking Group Ltd.
Menurutnya, banyak risiko yang sama tetap mengiringi di 2012, terutama
terkait Eropa, selain peristiwa-peristiwa besar yang akan jadi sentimen
negatif. (ln)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar