Sabtu, 31 Desember 2011

REVIEW KOMODITAS 2011: Harga turun dan rugi

http://www.bisnis.com/articles/review-komoditas-2011-harga-turun-dan-rugi
 

Large_tembaga-1
SINGAPURA: Tahun 2011 kurang bersahabat bagi komoditas. Indeks harga komoditas tercatat turun dalam setahun ini, yang pertama sejak 2008, akibat kekhawatiran bahwa krisis utang Eropa dan pendinginan ekonomi China bakal mengurangi permintaan bahan baku.
 
Hingga pukul 10.03 waktu London, Indeks Imbal Hasil Total GSCI Standard & Poor turun 0,9% selama 2011, sekalipun hari ini sedikit naik 0,1%.
 
Penurunan harga yang cukup besar dialami kakao di New York yang anjlok 32% pada 2011 di tengah naiknya pasokan dari Pantai Gading, penghasil terbesar dunia. Adapun harga kapas turun 37% tahun ini di tengah peningkatan produksi dan berkurangnya permintaan. 
 
 
Tembaga
Tembaga, yang sering dilihat sebagai indikator aktivitas ekonomi seperti yang digunakan dalam konstruksi dan mobil, mengalami kerugian tahunan pertama sejak 2008.
 
Pengaruh terbesar dari China, konsumen terbesar tembaga. Perekonomian China, menurut kelompok negara maju (OECD), akan tumbuh 8,5% tahun depan, turun dari 10,4% pada 2010.
 
Sektor manufaktur terkontraksi untuk bulan kedua pada Desembr karena goyahnya pertumbuhan global dan tindakan Perdana Menteri Wen Jiabao yang menindak spekulasi di pasar perumahan.
 
Emas, Minyak
Kenaika pada harga emas, minyak dan ternak membantu membatasi kerugian. Emas, 10% lebih tinggi pada 2011, berada di jalur kenaikan tahunan ke-11 sejalan upaya investor mencari tempat untuk melindungi aset mereka dari gejolak pasar keuangan.
 
Adapun harga minyak naik 8,9% tahun ini, yang merupakan keuntungan tahunan ketiga di tengah meningkatnya ketegangan Timur Tengah dan naiknya permintaan AS. Tindakan Iran yang mengancam blokade selat Hormuz menganggu pasokan.
 
Sementara itu harga ternak hidup yang dijual secara berjangka di bursa Chicago naik 13% karena susutnya jumlah kawanan itu di AS.
 
Tekanan terhadap komoditas datang dari reli dolar 1,9% terhadap 6 valuta utama sepanjang tahun ini, yang menekan permintaan produk yang dijual dengan mata uang AS itu. S
 
Sekalipun begitu, indeks komoditas masih mengungguli ekuitas seiring Indeks MSCI atas semua negara yang jatuh 9,7%.
 
Krisis Eropa
Terakhir indeks komoditas jatuh 46,5% pada 2008 setelah runtuhnya Lehman Brothers Holdings Inc yang memicu resesi terburuk sejak Depresi Besar 1930, yang juga merontokan bursa saham.
 
Komoditas rebound 13,5% pada 2009 dan reli 9% tahun lalu karena pemerintah di seluruh dunia membelanjakan stimulus untuk meningkatkan ekonomi mereka.
 
Indeks S&P GSCI menyentuh level terendahnya dalam 11 bulan pada Oktober. Indeks turun lebih dari 20% dari level tertingginya pada April, sehingga memasuki kondisi pasar lesu atau bear, karena investor memangkas kepemilkan komoditas di tengah lambatnya ekspansi ekonomi.
 
Pada bulan tersebut Nouriel Roubini, ekonom yang memprediksi gelembung perumahan AS, mengatakan ada kemungkinan 50% resesi melanda negara Paman Sam, Inggris, dan bahkan kawasan euro dalam 12 bulan berikutnya. 
 
Logam Industri
Indeks LMEX atas 6 logam industri merosot 23% tahun ini, dipimpin oleh penurunan harga timah, nikel dan seng. 
 
Harga spot perak hampir 11% lebih rendah pada 2011, yang merupakan penurunan tahunan pertamanya dalam 3 tahun. Adapun harga palladium juga menghadapi kemerosotan 21%, dan platinum telah terperosok 22%.
 
"Masalah di AS, Eropa dan China memiliki semua kontribusi terhadap kinerja lemah [komoditas] tahun ini," kata Nick Trevethan, ahli komoditas senior Australia & New Zealand Banking Group Ltd. 
 
Menurutnya, banyak risiko yang sama tetap mengiringi di 2012, terutama terkait Eropa, selain peristiwa-peristiwa besar yang akan jadi sentimen negatif. (ln)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar