http://internasional.kontan.co.id/v2/read/1322676109/84070/Penurunan-peringkat-SP-membuat-bank-bank-kena-hantam-2-kali-
LONDON. Bank-bank akan menghadapi dua kali hantaman
gara-gara penurunan peringkat dari S&P. 15 bank besar, seperti Bank
of America dan Morgan Stanley, tentu akan menghadapi penurunan
pendapatan dan juga kenaikan biaya pada waktu yang bersamaan.
Kabarnya penurunan peringkat ini sendiri, lebih banyak dipicu oleh revisi model penilaian dari S&P bukan dari perubahan internal yang terjadi di bank-bank tersebut. Tapi kondisi ini akan segera mempengaruhi funding cost bank-bak tersebut karena ancaman krisis di Eropa yang belum juga berakhir.
“Hal ini akan meningkatkan kekhawatiran kemampuan mereka untuk memenuhi dana jangka pendek, karena short time paper mereka akan dikesampingkan oleh para investor yang menjadi pembeli utamanya,” tutur Andrew Fraser Investment Director Standard Life.
“Waktu pengumuman ini mungkin menjadi masalah yang lebih signifikan dibandingkan isunya sendiri. Masalahnya pengumuman itu datang pada saat likuiditas perbankan sedang dalam tekanan,” tambah Fraser kepada Reuters.
Kondisi pasar interbank pun mendadak makin sepi setelah kekhawatiran makin menyelimuti para bankir untuk mau saling meminjamkan dananya satu sama lain.
Bank dari Inggris yang mengalami pemotongan peringkat surat utang jangka pendeknya dari A2 menjadi A1 adalah RBS dan Lloyds. Tapi pemotongan peringkat ini memicu biaya perdagangan menjadi semakin mahal, karena memaksa mereka menambah kolateral dalam perdagangan-perdagangan derivatif yang sudah ada. Akibatnya mereka pun tidak bisa mengandalkan banyak pendapatan dari pasar derivatif seperti interest rate swaps dan credit default swaps.
Padahal menurut perkiraan Morgan Stanley, selama ini perdagangan di Fixed Income, Currencies and Commodities Markets (FICC) bisa menghasilkan 40%-60% dari total pendapatan investment banking.
Dalam pasar swap, penurunan peringkat A- dari A akan membuat bank harus menambah 10% nilai kolateralnya. Sementara BBB+ akan membuat mereka harus menambah kolateral sebesar 100% atau tidak bisa masuk di pasar lagi kalau peringkatnya sudah mencapai BBB.
Celakanya, Moody’s pesaing utama S&P Selasa (30/11) mengatakan kemungkinan untuk menurunkan peringkat subordinated debt 87 bank di Eropa.
LONDON. Bank-bank akan menghadapi dua kali hantaman
gara-gara penurunan peringkat dari S&P. 15 bank besar, seperti Bank
of America dan Morgan Stanley, tentu akan menghadapi penurunan
pendapatan dan juga kenaikan biaya pada waktu yang bersamaan.Kabarnya penurunan peringkat ini sendiri, lebih banyak dipicu oleh revisi model penilaian dari S&P bukan dari perubahan internal yang terjadi di bank-bank tersebut. Tapi kondisi ini akan segera mempengaruhi funding cost bank-bak tersebut karena ancaman krisis di Eropa yang belum juga berakhir.
“Hal ini akan meningkatkan kekhawatiran kemampuan mereka untuk memenuhi dana jangka pendek, karena short time paper mereka akan dikesampingkan oleh para investor yang menjadi pembeli utamanya,” tutur Andrew Fraser Investment Director Standard Life.
“Waktu pengumuman ini mungkin menjadi masalah yang lebih signifikan dibandingkan isunya sendiri. Masalahnya pengumuman itu datang pada saat likuiditas perbankan sedang dalam tekanan,” tambah Fraser kepada Reuters.
Kondisi pasar interbank pun mendadak makin sepi setelah kekhawatiran makin menyelimuti para bankir untuk mau saling meminjamkan dananya satu sama lain.
Bank dari Inggris yang mengalami pemotongan peringkat surat utang jangka pendeknya dari A2 menjadi A1 adalah RBS dan Lloyds. Tapi pemotongan peringkat ini memicu biaya perdagangan menjadi semakin mahal, karena memaksa mereka menambah kolateral dalam perdagangan-perdagangan derivatif yang sudah ada. Akibatnya mereka pun tidak bisa mengandalkan banyak pendapatan dari pasar derivatif seperti interest rate swaps dan credit default swaps.
Padahal menurut perkiraan Morgan Stanley, selama ini perdagangan di Fixed Income, Currencies and Commodities Markets (FICC) bisa menghasilkan 40%-60% dari total pendapatan investment banking.
Dalam pasar swap, penurunan peringkat A- dari A akan membuat bank harus menambah 10% nilai kolateralnya. Sementara BBB+ akan membuat mereka harus menambah kolateral sebesar 100% atau tidak bisa masuk di pasar lagi kalau peringkatnya sudah mencapai BBB.
Celakanya, Moody’s pesaing utama S&P Selasa (30/11) mengatakan kemungkinan untuk menurunkan peringkat subordinated debt 87 bank di Eropa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar