Sabtu, 31 Desember 2011

OUTLOOK PERDAGANGAN: Hotel dan restoran jadi penopang ekonomi

http://www.bisnis.com/articles/outlook-perdagangan-hotel-dan-restoran-jadi-penopang-ekonomi
 
Large_img_5225 JAKARTA: Konsumsi domestik tahun depan diprediksi meningkat 9,1% menjadi Rp4.124 triliun, dibandingkan dengan 2010 sebesar Rp3.748 triliun.
 
Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengatakan sektor perdagangan, hotel, dan restoran akan menjadi penopang pertumbuhan ekonomi tahun depan.
 
“Ekonomi Indonesia dibantu konsumsi dalam negeri. Dengan gonjang-ganjing sekarang [krisis di Amerika Serikat dan Eropa], Indonesia bisa menginsulasi diri sendiri. Konsumsi domestik adalah sekitar 60% dari total perekonomian, ini menjadi hikmah,” jelasnya dalam konpers, sore ini, Jumat, 30 Desember 2011.
 
Dia menuturkan meningkatnya konsumsi domestik juga harus diikuti dengan dilakukannya pengawasan terhadap produk-produk impor yang beredar.
 
Menurutnya, akan sangat bagus jika masyarakat mengonsumsi produk dalam negeri ketimbang barang dari impor.
 
“Harus peka terhadap barang yang dikonsumsi [masyarakat]. Bagaimana kami proaktif mengawasi barang-barang impor. Perlu juga peran dari lembaga lain,” jelasnya.
 
Mendag juga menekankan pentingnya perubahan pola konsumsi masyarakat Indonesia terutama terhadap kebutuhan pokok seperti beras dan gula.
 
“Konsumsi beras harus dikurangi, dari saat ini 140 kilogram per orang per tahun. Negara tetangga seperti Thailand, Vietnam, dan Malaysia rata-rata 70 kilogram per orang per tahun,” jelasnya.
 
Gita juga mengatakan pada 2012 pemerintah mengupayakan supaya 95% konsumsi rumah tangga dipasok dari produksi dalam negeri. Saat ini, tuturnya, konsumsi rumah tangga sebesar 92% berasal dari produksi dalam negeri.
 
Menurutnya, upaya tersebut sebagai salah satu strategi terkait stabilisasi penguatan pasar di dalam negeri.
 
Sementara itu, kinerja ekspor Indonesia pada tahun ini dinilai tertolong sektor pertambangan dan peningkatan harga komoditas perkebunan.
 
Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Deddy Saleh mengatakan peningkatan volume ekspor kedua sektor tersebut menyentuh 30% dibandingkan dengan tahun lalu.
 
“Kami sempat pesimistis target ekspor tidak akan tercapai, tapi ternyata krisis AS dan Eropa belum begitu berdampak sehingga bisa melampaui target. Kinerja pertambangan bagus, dan hasil perkebunan juga mengalami peningkatan harga,” jelasnya.
 
Dia menuturkan ada beberapa produk yang sudah terkena dampak melemahnya pasar di AS dan Eropa, salah satunya adalah tekstil.
 
Mendag mengatakan nilai ekspor Indonesia pada 2011 diperkirakan mencapai US$211 miliar atau meningkat 33,77% dibandingkan dengan realisasi tahun lalu US$157,73 miliar.
 
Pencapaian tersebut juga melewati target nilai ekspor yang dicanangkan awal tahun ini, yakni US$200 miliar.
 
Gita memastikan neraca perdagangan Indonesia tahun ini juga surplus, namun belum dapat diketahui nilainya.
 
“Plus minus nilai ekspor Indonesia tahun ini Rp211 miliar, itu masih estimasi. Neraca juga surplus, tapi belum diketahui seberapa besar karena Desember [2011] belum habis, “ jelasnya dalam konferensi pers, sore ini.
 
Dia menuturkan lima negara terbesar tujuan ekspor Indonesia untuk 2011 adalah China, Jepang, AS, Singapura, dan Malaysia.
 
Tahun depan, katanya, pemerintah optimistis nilai ekspor akan tembus US$230 miliar dengan mengembangkan ke pasar-pasar nontradisionil, yakni ke negara-negara di Afrika.
 
“Perdagangan Indonesia dengan Afrika masih rendah, yakni sekitar US$1 miliar lebih. Seharusnya bisa mencapai sekitar US$12 miliar,” jelasnya.
 
Dia menuturkan total ekspor ke negara-negara nontradisionil pada tahun depan bisa meningkat 25% dibandingkan dengan 2011. (ln)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar