http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/keuangan/11/11/29/lvf361-pertumbuhan-ekonomi-tahun-2012-dibawah-65-persen
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Perkembangan krisis ekonomi di Eropa yang kian memburuk membuat Bank Indonesia menurunkan lagi perkiraan pertumbuhan ekonomi dari posisi sebelumnya 6,5 persen.
"Dengan ekonomi global yang turun, dan harga komoditas turun, ada kecenderungan pertumbuhan turun di bawah 6,5 persen, begitu juga inflasi 2012 ada risiko lebih rendah dari perkiraan 4,7 persen itu," kata Direktur Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Perry Warjiyo di Jakarta, Selasa.
Menurutnya, kondisi krisis ekonomi di Eropa belum menunjukkan kepastian penyelesaian sehingga diperkirakan krisis masih akan berlangsung lama dan membuat BI harus menyiapkan berbagai kebijakan untuk menghadapinya terutama dampaknya di pasar keuangan.
"BI akan melakukan berbagai penyesuaian dengan bauran kebijakan bukan saja berdasarkan pada perkiraan inflasi, tetapi juga mempertimbangkan perkembangan krisis ekonomi di Eropa dengan melihat perkembangan nilai tukar, suku bunga, dan capital inflows " katanya.
Bauran kebijakan itu, lanjutnya diharapkan bisa memberikan stimulus dari bidang moneter sehingga bisa menjaga pertumbuhan ekonomi tetap terjaga dan mencegah dampak yang lebih buruk.
Sebelumnya, pengamat ekonomi Tony A Prasetyantono menilai BI lalai mempertimbangkan memburuknya krisis ekonomi di Eropa karena terlalu berani menurunkan BI Rate sebesar 50 basis poin pada awal Nopember lalu.
"Penurunan BI Rate itu lebih pada perkiraan inflasi yang di bawah 4 persen, tetapi kurang melihat dampak dari semakin buruknya kondisi di Eropa yang akan membuat investor keluar dari Indonesia seperti mulai terlihat belakangan ini. BI lalai karena momentum penurunan BI Rate tidak tepat," katanya.
Dikatakannya, penurunan BI Rate 50 basis poin selain membuat investor asing keluar dari Indonesia juga ternyata tidak berdampak pada penurunan suku bunga kredit seperti yang diharapkan BI. "Suku bunga deposito saja tidak turun, apalagi suku bunga kredit," katanya.
Dengan kondisi seperti ini, Tony memperkirakan BI akan mengeluarkan banyak devisanya untuk mencegah pelemahan rupiah lebih dalam lagi. "BI akan bleeding pada pekan ini, cadangan devisa akan merosot tajam," katanya.
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Perkembangan krisis ekonomi di Eropa yang kian memburuk membuat Bank Indonesia menurunkan lagi perkiraan pertumbuhan ekonomi dari posisi sebelumnya 6,5 persen.
"Dengan ekonomi global yang turun, dan harga komoditas turun, ada kecenderungan pertumbuhan turun di bawah 6,5 persen, begitu juga inflasi 2012 ada risiko lebih rendah dari perkiraan 4,7 persen itu," kata Direktur Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Perry Warjiyo di Jakarta, Selasa.
Menurutnya, kondisi krisis ekonomi di Eropa belum menunjukkan kepastian penyelesaian sehingga diperkirakan krisis masih akan berlangsung lama dan membuat BI harus menyiapkan berbagai kebijakan untuk menghadapinya terutama dampaknya di pasar keuangan.
"BI akan melakukan berbagai penyesuaian dengan bauran kebijakan bukan saja berdasarkan pada perkiraan inflasi, tetapi juga mempertimbangkan perkembangan krisis ekonomi di Eropa dengan melihat perkembangan nilai tukar, suku bunga, dan capital inflows " katanya.
Bauran kebijakan itu, lanjutnya diharapkan bisa memberikan stimulus dari bidang moneter sehingga bisa menjaga pertumbuhan ekonomi tetap terjaga dan mencegah dampak yang lebih buruk.
Sebelumnya, pengamat ekonomi Tony A Prasetyantono menilai BI lalai mempertimbangkan memburuknya krisis ekonomi di Eropa karena terlalu berani menurunkan BI Rate sebesar 50 basis poin pada awal Nopember lalu.
"Penurunan BI Rate itu lebih pada perkiraan inflasi yang di bawah 4 persen, tetapi kurang melihat dampak dari semakin buruknya kondisi di Eropa yang akan membuat investor keluar dari Indonesia seperti mulai terlihat belakangan ini. BI lalai karena momentum penurunan BI Rate tidak tepat," katanya.
Dikatakannya, penurunan BI Rate 50 basis poin selain membuat investor asing keluar dari Indonesia juga ternyata tidak berdampak pada penurunan suku bunga kredit seperti yang diharapkan BI. "Suku bunga deposito saja tidak turun, apalagi suku bunga kredit," katanya.
Dengan kondisi seperti ini, Tony memperkirakan BI akan mengeluarkan banyak devisanya untuk mencegah pelemahan rupiah lebih dalam lagi. "BI akan bleeding pada pekan ini, cadangan devisa akan merosot tajam," katanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar