http://industri.kontan.co.id/v2/read/1322494147/83834/Gita-kaget-pasar-dalam-negeri-diserbu-produk-impor-Malaysia-
JAKARTA. Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengaku kaget dengan serbuan beberapa produk impor di pasar dalam negeri.
"Naik pesat sekali? Akan saya pelajari," ucapnya melihat angka pertumbuhan impor makanan dan minuman dari Malaysia usai peluncuran program bedah warung, Selasa (28/11).
Untuk diketahui, impor makanan minuman dari Malaysia untuk periode Januari-Oktober 2011 tercatat sebesar US$ 48,8 juta. Angka itu merupakan kenaikan empat kali lipat ketimbang periode Januari-April 2011 sebesar US$ 12,5 juta. Semula impor makanan minuman hanya berkontribusi sebesar 18,5% dari total impor, tapi kini porsinya meningkat menjadi 24,7%.
Untuk impor makanan minuman dari negara ASEAN pun tercatat meningkat. Pada periode Januari-April 2011 hanya tercatat US$ 31,37 juta. Angka itu meningkat menjadi US$ 96,5 juta untuk periode Januari-Oktober 2011.
Hal tersebut tidak hanya terjadi pada segmen makanan minuman. Banjir impor pun melanda sektor tekstil dengan masuknya baju bekas. Bahkan, pasar domestik pun kebanjiran produk mainan dan baja.
Dia menyadari, kondisi ekonomi dunia yang tengah tidak stabil membuat banyak negara eksportir memikirkan pasar tujuan baru untuk tetap menjaga laju ekspor negaranya. Hal yang sama dilakukan pula oleh Indonesia.
Namun, katanya, hal itu harus diantisipasi karena setiap negara eksportir kini tidak bisa mengirimkan produknya ke pasar tradisional dengan skala sama. Indonesia harus menjaga pasar domestik melalui standar nasional Indonesia (SNI) dan hal-hal lain untuk membatasi banjir produk yang tidak lazim di Indonesia.
Di samping upaya hambatan tarif dan nontarif, pelaku usaha pun harus bisa mengimbangi hal itu dengan peningkatan daya saing, kapasitas dalam negeri, dan penambahan efisiensi produksi. Apalagi, industri dalam negeri pun tidak bisa hanya mengandalkan pasar tradisional seperti Uni Eropa dan Amerika Serikat.
"Segala upaya harus dilakukan untuk jaga ekspor US$ 200 miliar. Pada 2012 saja luar biasa kalau bisa bertahan di US$ 200 miliar," ucapnya.
JAKARTA. Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengaku kaget dengan serbuan beberapa produk impor di pasar dalam negeri."Naik pesat sekali? Akan saya pelajari," ucapnya melihat angka pertumbuhan impor makanan dan minuman dari Malaysia usai peluncuran program bedah warung, Selasa (28/11).
Untuk diketahui, impor makanan minuman dari Malaysia untuk periode Januari-Oktober 2011 tercatat sebesar US$ 48,8 juta. Angka itu merupakan kenaikan empat kali lipat ketimbang periode Januari-April 2011 sebesar US$ 12,5 juta. Semula impor makanan minuman hanya berkontribusi sebesar 18,5% dari total impor, tapi kini porsinya meningkat menjadi 24,7%.
Untuk impor makanan minuman dari negara ASEAN pun tercatat meningkat. Pada periode Januari-April 2011 hanya tercatat US$ 31,37 juta. Angka itu meningkat menjadi US$ 96,5 juta untuk periode Januari-Oktober 2011.
Hal tersebut tidak hanya terjadi pada segmen makanan minuman. Banjir impor pun melanda sektor tekstil dengan masuknya baju bekas. Bahkan, pasar domestik pun kebanjiran produk mainan dan baja.
Dia menyadari, kondisi ekonomi dunia yang tengah tidak stabil membuat banyak negara eksportir memikirkan pasar tujuan baru untuk tetap menjaga laju ekspor negaranya. Hal yang sama dilakukan pula oleh Indonesia.
Namun, katanya, hal itu harus diantisipasi karena setiap negara eksportir kini tidak bisa mengirimkan produknya ke pasar tradisional dengan skala sama. Indonesia harus menjaga pasar domestik melalui standar nasional Indonesia (SNI) dan hal-hal lain untuk membatasi banjir produk yang tidak lazim di Indonesia.
Di samping upaya hambatan tarif dan nontarif, pelaku usaha pun harus bisa mengimbangi hal itu dengan peningkatan daya saing, kapasitas dalam negeri, dan penambahan efisiensi produksi. Apalagi, industri dalam negeri pun tidak bisa hanya mengandalkan pasar tradisional seperti Uni Eropa dan Amerika Serikat.
"Segala upaya harus dilakukan untuk jaga ekspor US$ 200 miliar. Pada 2012 saja luar biasa kalau bisa bertahan di US$ 200 miliar," ucapnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar