JAKARTA-Realisasi penyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) Bank Rakyat
Indonesia (BRI) hingga Juni 2011 mencapai Rp 8,67 triliun. Angka ini
telah memenuhi 86,7 persen target KUR BRI yang ditentukan pemerintah
sebesar Rp 10 triliun. Penyaluran KUR BRI terbanyak ke sektor
perdagangan.
Sekretaris Perusahaan BRI Muhammad Ali menyatakan, secara keseluruhan total outstanding KUR BRI mencapai Rp 31,39 triliun. Kredit tersebut disalurkan kepada sekitar 4,578 juta nasabah atau 95,34 persen dari jumlah debitur KUR secara nasional, yaitu 4,801 juta. Debitur KUR ritel BRI sebanyak 57.058 orang, sedangkan mikro sebanyak 4,5 juta rekening. “Umumnya, penyaluran KUR ke sektor perdagangan dan pertanian,” katanya di Jakarta, Rabu (28/7).
Penyaluran KUR ke sektor perdagangan mencapai 72,38 persen. “Naik empat persen dari Mei 2011,” ujarnya. Sedangkan ke sektor pertanian sebanyak 10,76 persen. Menurutnya, penyaluran kredit ke sektor pertanian tidak terlalu besar karena bank masih memperhitungkan faktor risiko yang dimiliki oleh sektor ini. “Risikonya memang besar karena pertanian menyangkut cuaca. Ada risiko gagal panen pula,” katanya. Namun, sektor perdagangan pun merupakan perpanjangan dari sektor pertanian. “Yang dijual merupakan hasil pertanian atau alat-alat pertanian,” katanya. Namun, menurutnya, sejauh ini rasio kredit macet BRI masih rendah di bawah ketentuan Bank Indonesia, yaitu 2,61 persen.
Kantor wilayah BRI dengan penyaluran KUR terbesar hingga Juni adalah Kanwil Yogyakarta, sebesar Rp 3,35 triliun. Selanjutnya Kanwil Bandung sebanyak Rp 3,21 triliun dan Kanwil Makassar Rp 2,87 triliun. “Penyaluran KUR kami merata di seluruh Indonesia,” katanya. Bahkan, lanjutnya, BRI melayani ribuan nasabah yang tinggal di daerah perbatasan dan pulau-pulau terluar.
Penyaluran KUR BRI sejauh ini telah memberikan manfaat yang cukup besar kepada masyarakat kecil. Misalnya, Dian Suatri (55 tahun), pengusaha kerupuk kulit di Cibubur yang juga nasabah BRI sejak tiga tahun lalu. “Dengan KUR, saya bisa meningkatkan produksi kerupuk kulit saya. Saya butuh modal yang cukup besar untuk bersaing mendapatkan kulit yang bagus di pasar,” katanya. Dia pun dapat memanfaatkan layanan weekend banking BRI. “Jadi, saya bisa menyimpan uang dan menyicil pinjaman saya setiap Sabtu dan Minggu,” katanya.
Hal yang sama diungkapkan oleh Asmaniah (60 tahun). Pedagang kelontong di pasar Citayam ini cukup puas karena pinjamin bisa cepat turun. Menurutnya, dengan pinjaman tersebut, omzetnya meningkat. “Biasanya, dalam sebulan kami hanya bisa mendapatkan untung Rp 6 juta. Sekarang bisa mencapai Rp 13 juta,” katanya. Dengan modal yang besar, Asma bisa memiliki stok barang yang lebih banyak dan dapat disimpan lebih lama. “Jadi saat harga naik, saya masih bisa memberikan harga yang murah kepada pelanggan,” katanya.
Kepala UMKM Center Fakultas Ekonomi UI, Nining Soesilo, menyatakan, sejak diluncurkan pada 2007 lalu, program KUR terbukti berhasil memberikan dampak positif bagi perekonomian Indonesia, baik dalam ukuran mikro maupun makro. “Program ini telah memperbaiki kinerja usaha debitur, peningkatan pendapatan dan pengeluaran keluarga, serta kepemilikan aset rumah usaha dan rumah tangga,” ujarnya. ed: firkah fansuri
Sekretaris Perusahaan BRI Muhammad Ali menyatakan, secara keseluruhan total outstanding KUR BRI mencapai Rp 31,39 triliun. Kredit tersebut disalurkan kepada sekitar 4,578 juta nasabah atau 95,34 persen dari jumlah debitur KUR secara nasional, yaitu 4,801 juta. Debitur KUR ritel BRI sebanyak 57.058 orang, sedangkan mikro sebanyak 4,5 juta rekening. “Umumnya, penyaluran KUR ke sektor perdagangan dan pertanian,” katanya di Jakarta, Rabu (28/7).
Penyaluran KUR ke sektor perdagangan mencapai 72,38 persen. “Naik empat persen dari Mei 2011,” ujarnya. Sedangkan ke sektor pertanian sebanyak 10,76 persen. Menurutnya, penyaluran kredit ke sektor pertanian tidak terlalu besar karena bank masih memperhitungkan faktor risiko yang dimiliki oleh sektor ini. “Risikonya memang besar karena pertanian menyangkut cuaca. Ada risiko gagal panen pula,” katanya. Namun, sektor perdagangan pun merupakan perpanjangan dari sektor pertanian. “Yang dijual merupakan hasil pertanian atau alat-alat pertanian,” katanya. Namun, menurutnya, sejauh ini rasio kredit macet BRI masih rendah di bawah ketentuan Bank Indonesia, yaitu 2,61 persen.
Kantor wilayah BRI dengan penyaluran KUR terbesar hingga Juni adalah Kanwil Yogyakarta, sebesar Rp 3,35 triliun. Selanjutnya Kanwil Bandung sebanyak Rp 3,21 triliun dan Kanwil Makassar Rp 2,87 triliun. “Penyaluran KUR kami merata di seluruh Indonesia,” katanya. Bahkan, lanjutnya, BRI melayani ribuan nasabah yang tinggal di daerah perbatasan dan pulau-pulau terluar.
Penyaluran KUR BRI sejauh ini telah memberikan manfaat yang cukup besar kepada masyarakat kecil. Misalnya, Dian Suatri (55 tahun), pengusaha kerupuk kulit di Cibubur yang juga nasabah BRI sejak tiga tahun lalu. “Dengan KUR, saya bisa meningkatkan produksi kerupuk kulit saya. Saya butuh modal yang cukup besar untuk bersaing mendapatkan kulit yang bagus di pasar,” katanya. Dia pun dapat memanfaatkan layanan weekend banking BRI. “Jadi, saya bisa menyimpan uang dan menyicil pinjaman saya setiap Sabtu dan Minggu,” katanya.
Hal yang sama diungkapkan oleh Asmaniah (60 tahun). Pedagang kelontong di pasar Citayam ini cukup puas karena pinjamin bisa cepat turun. Menurutnya, dengan pinjaman tersebut, omzetnya meningkat. “Biasanya, dalam sebulan kami hanya bisa mendapatkan untung Rp 6 juta. Sekarang bisa mencapai Rp 13 juta,” katanya. Dengan modal yang besar, Asma bisa memiliki stok barang yang lebih banyak dan dapat disimpan lebih lama. “Jadi saat harga naik, saya masih bisa memberikan harga yang murah kepada pelanggan,” katanya.
Kepala UMKM Center Fakultas Ekonomi UI, Nining Soesilo, menyatakan, sejak diluncurkan pada 2007 lalu, program KUR terbukti berhasil memberikan dampak positif bagi perekonomian Indonesia, baik dalam ukuran mikro maupun makro. “Program ini telah memperbaiki kinerja usaha debitur, peningkatan pendapatan dan pengeluaran keluarga, serta kepemilikan aset rumah usaha dan rumah tangga,” ujarnya. ed: firkah fansuri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar