Kamis, 28 Juli 2011

Ekonomi AS Kisruh, Rupiah Menguat

JAKARTA -- Kondisi ekonomi Amerika Serikat yang tak menentu membuat rupiah kian perkasa. Rupiah bahkan menembus titik tertinggi penguatannya sepanjang tahun ini pada level Rp 8.500  per dolar AS.
Meskipun demikian, Deputi Gubernur Bank Indonesia Hartadi menyatakan, penguatan rupiah terjadi akibat ketidakpastian penyelesaian negosiasi kebijakan fiskal Amerika. Kondisi itu membuat sentimen negatif di pasar dan dolar melemah.

Hartadi optimistis krisis keuangan Amerika akan menemukan penyelesaian dalam pekan ini. “Saya yakin akan ada kesepakatan antara Pemerintah Amerika dan parlemen soal peningkatan limit utang,” katanya di Jakarta, Rabu (27/7).

 Menurutnya, Amerika dan negara-negara di dunia sadar akan risiko bila tidak terjadi kesepakatan antara kedua pihak tersebut. “Makanya, mau tidak mau harus diupayakan dalam waktu dekat,” ujarnya. Sejauh ini, menurutnya, ketidakpastian tersebut belum menghadirkan indikasi banjir modal asing (capital inflow). “Sampai saat ini masih dalam batas normal,” katanya.

Kepala Biro Humas Bank Indonesia Difi Ahmad Johansyah menyatakan, BI sedikit lega karena likuiditas yang mengalir ke sektor riil melalui penanaman modal asing (PMA) terus meningkat. BI optimistis sampai akhir 2011, PMA akan mencapai 16,7 miliar dolar AS.

Hingga kuartal I 2011 PMA mencapai 2,96 miliar dolar AS. “Dengan demikian, diharapkan kapasitas produksi Indonesia menjadi lebih tingi,” katanya. Sedangkan, untuk portofolio asing di pasar keuangan sebesar 3,56 miliar dolar AS. Selain itu, BI terus melakukan antisipasi terhadap membanjirnya hot money.  “Kami sudah siapkan sejumlah skenario untuk mengatasi ketidakpercayaan global. Bila diperlukan tinggal diaktifkan saja,” ujarnya.

BI juga telah memagari hot money dengan sejumlah instrumen moneter. Pada awal tahun, BI memperpanjang masa jatuh tempo SBI dari satu bulan  menjadi enam bulan. Selain itu, membatasi pinjaman luar negeri (PLN) bank jangka pendek maksimal 30 persen dari modal bank. Penguatan rupiah juga disebabkan oleh membaiknya prospek mata uang Uni Eropa, Euro. “Ini terjadi setelah adanya tambahan pinjaman kedua kepada Yunani,” katanya.

Amerika pun bisa terancam penurunan peringkat utang bila kesepakatan soal peningkatan limit utang tidak tercapai. Managing Research Indosurya Asset Management Reza Priyambada menyatakan, bila diturunkan maka ekonomi AS akan mengalami resesi. Krisis tersebut ditakutkan akan lebih besar dampaknya ketimbang krisis akibat bubble properti pada 2008 lalu ed: firkah fansuri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar