JAKARTA. Produsen pupuk yang bernaung di bawah PT Pupuk Sriwidjaja Holding (Persero) mengeluh soal pasokan gas ke Komisi IV DPR. Meski hal tersebut di luar kewenangan komisi tersebut, kelima perusahaan itu tetap meminta bantuan agar dimudahkan soal pasokan gas.
Direktur Utama PT Pupuk Sriwidjaja Holding (Persero) Arifin Tasrif mengutarakan, masalah terbesar dalam pengembangan usaha dan revitalisasi pabrik adalah pasokan gas.
Masalah itu lalu merunut ke problem pendanaan yang akan sulit didapat apabila perusahaan tidak dapat memastikan pasokan gas. "Yang minat membiayai proyek pupuk itu banyak, yang sulit adalah saat harus memastikan pasokan gas," ucap dia, Selasa (28/6).
Direktur Utama PT Pupuk Kaltim (PKT) Aas Asikin pun membenarkan sulitnya mendapatkan dukungan pasokan gas untuk periode jangka panjang. Rata-rata pasokan yang didapat hanya sanggup bertahan selama satu hingga dua tahun.
Kalaupun korporasi mendapatkan pasokan gas jangka panjang, alokasinya sama sekali tidak penuh sepanjang periode. "Ada tahun-tahun ketika jumlah gas turun dan tidak bisa penuhi operasional pabrik," kata Aas.
Kendala gas pun dialami produsen pupuk lainnya. Direktur Utama PT Pupuk Sriwidjaja Palembang Eko Sunarko mengaku kesulitan melakukan revitalisasi empat pabrik yang telah berusia tua.
Apalagi, tiga pabrik telah berusia di atas 25 tahun dan sisanya berusia lebih dari 20 tahun. Pabrik berusia tua itu membuat perbedaan efisiensi energi yang sangat signifikan dibanding pabrik berteknologi baru.
"Revitalsasi itu harus. Selain soal pendanaan, kita juga ada masalah dari segi ketersediaan gas," kata dia.
Sebenarnya, jelas dia, perusahaan itu telah menandatangani kesepakatan untuk pasokan gas hingga 2017. Namun, itupun masih belum dapat meyakinkan perbankan memberikan pinjaman modal.
"Kalau gas tidak cukup selama minimal 10 tahun maka bank keberatan beri kredit. Sementara dana internal terbatas," ungkapnya.
Direktur Utama PT Pupuk Sriwidjaja Holding (Persero) Arifin Tasrif mengutarakan, masalah terbesar dalam pengembangan usaha dan revitalisasi pabrik adalah pasokan gas.
Masalah itu lalu merunut ke problem pendanaan yang akan sulit didapat apabila perusahaan tidak dapat memastikan pasokan gas. "Yang minat membiayai proyek pupuk itu banyak, yang sulit adalah saat harus memastikan pasokan gas," ucap dia, Selasa (28/6).
Direktur Utama PT Pupuk Kaltim (PKT) Aas Asikin pun membenarkan sulitnya mendapatkan dukungan pasokan gas untuk periode jangka panjang. Rata-rata pasokan yang didapat hanya sanggup bertahan selama satu hingga dua tahun.
Kalaupun korporasi mendapatkan pasokan gas jangka panjang, alokasinya sama sekali tidak penuh sepanjang periode. "Ada tahun-tahun ketika jumlah gas turun dan tidak bisa penuhi operasional pabrik," kata Aas.
Kendala gas pun dialami produsen pupuk lainnya. Direktur Utama PT Pupuk Sriwidjaja Palembang Eko Sunarko mengaku kesulitan melakukan revitalisasi empat pabrik yang telah berusia tua.
Apalagi, tiga pabrik telah berusia di atas 25 tahun dan sisanya berusia lebih dari 20 tahun. Pabrik berusia tua itu membuat perbedaan efisiensi energi yang sangat signifikan dibanding pabrik berteknologi baru.
"Revitalsasi itu harus. Selain soal pendanaan, kita juga ada masalah dari segi ketersediaan gas," kata dia.
Sebenarnya, jelas dia, perusahaan itu telah menandatangani kesepakatan untuk pasokan gas hingga 2017. Namun, itupun masih belum dapat meyakinkan perbankan memberikan pinjaman modal.
"Kalau gas tidak cukup selama minimal 10 tahun maka bank keberatan beri kredit. Sementara dana internal terbatas," ungkapnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar