Kamis, 30 Juni 2011

Muamalat Siap Jika Ganti Pemilik

BONTANG-Manajemen PT Bank Muamalat Indonesia mengaku siap jika pemegang saham mayoritas memutuskan untuk menjual kepemilikan sahamnya dan terjadi perubahan signifikan pada bank umum syariah tersebut. 

Direktur Ritel Banking Muamalat Indonesia, Adrian Asharyanto Gunadi, menuturkan, bagaimanapun manajemen akan tunduk pada hasil Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). Meski demikian, kata dia, nantinya pasti akan ada diskusi lebih lanjut dengan pemegang saham yang baru.

“Pasti karena ini terkait perkembangan bank ini selanjutnya,” katanya saat ditemui Republika, Selasa (28/6). Ia mengaku, dengan ini good corporate governance (GCG) akan jelas.

Namun, diakui Adrian, hingga kini belum ada langkah lebih detail terkait rencana penjualan saham tersebut. Menurutnya, siapa pun yang masuk ke bank tersebut bisa banyak memberi nilai tambah bagi Mualamat, bukan hanya dari segi modal, expertise, dan skill, tetapi juga kapasitas mereka dalam mengembangkan teknologi informatika dan manajemen risiko. “Harapan kita dapat memperkuat bank ke depan,” tegasnya.

Menurut pengamat ekonomi syariah Sofyan Haharap, penjualan saham Muamalat kepada pihak baru, mungkin saja dilakukan oleh pemegang saham. Dikatakannya, politik internal bank tersebut menjadi penyebab utama.

“Yang saya tahu, tiga pemegang saham dominan memang ingin lepas,” katanya. Saat ini mayoritas saham Muamalat, antara lain, dikuasai oleh Islamic Developmet Bank (IDB) sebesar 32,82 persen, Boubyan Bank Kuwait 24,94 persen, dan Atwill Holdings Limited 17,95 persen.

Lebih jauh, Sofyan menuturkan, pemegang saham mayoritas yang memiliki kencenderungan besar untuk melepas kepemilikan di Muamalat adalah Boubyan Bank Kuwait dan Atwill Holdings Limited. Karena, menurutnya, dibandingkan dengan IDB, keduanya tidak memiliki pendanaan yang cukup kuat.

Ia mengatakan, jika nanti terjadi pergantian pemegang saham, seharusnya hal itu bisa membuat Muamalat lebih ekspansif lagi ke depannya. “Mau asing, mau dalam negeri, kalau memang niat memajukan bank syariah dengan ketentuan syariah, sah-sah saja,” tambah Sofyan.

Per Maret 2011, Muamalat mencatat kenaikan aset 45,8 persen menjadi Rp 21,6 triliun dibandingkan posisi Maret 2010 sebesar Rp 14,84 triliun. Sedangkan, dari segi pembiayaan meningkat 49 persen menjadi Rp 17,4 triliun dari periode sebelumnya Rp 12,03 triliun. Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh hingga 54,7 persen menjadi Rp 17,5 triliun dari sebelumnya Rp 12,03 triliun.

Sebelumnya, Direktur Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia (BI) Mulya E Siregar mengaku sudah mendengar rencana aksi korporasi ini. Namun, menurutnya, belum ada laporan khusus yang masuk ke BI membahas tentang rencana tersebut.

“Mungkin ini masih internal mereka saja,” ujarnya beberapa waktu lalu. Mulya memastikan setiap bank di Indonesia pasti akan melaporkan kegiatan akuisisi ataupun perubahan komposisi pemilik saham kepada BI untuk meminta izin.

Beberapa bank dikabarkan mulai melirik saham bank syariah tertua di Indonesia itu. Berdasarkan sumber anonim Reuters dan Bloomberg di Singapura, Standard Chartered melalui afiliasinya di Tanah Air, yakni Bank Permata, Qatar Islamic Bank SAQ, dan Oversea-Chinese Banking Corp (OCBC), berniat membeli saham mayoritas di bank tersebut.

Dari sumber yang sama, dikabarkan pula bahwa Bank Mega juga menunjukkan ketertarikan untuk membeli saham Muamalat. Namun sayangnya, ketiganya belum bisa dimintai komentar.  ed: nidia zuraya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar