Kamis, 30 Juni 2011

Isra Mi'raj dan Shalat Kita

Oleh Setiyo Purwanto

Pengajar Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)

Sebuah momen profetik penting dari kenabian Rasulullah Muhammad SAW yang dikenal dengan Isra Mi'raj akan kita peringati bersama. Perayaan ini akan selalu saja membawa makna sangat vital terkait dengan inti keimanan umat Islam karena peristiwa ini nyaris selalu diidentikkan dengan ritus ibadah paling fundamental dalam dien al-Islam, yakni shalat.   

Pada peristiwa inilah, perintah untuk menegakkan shalat disampaikan oleh Allah SWT secara langsung kepada utusan-Nya. Peristiwa ini menjadi sangat strategis dan vital karena tak semua bentuk peribadatan diturunkan dengan cara yang serupa ini. Shalat menduduki peringkat wujud peribadatan terpenting, di posisi kedua setelah kesaksian (asy-syahadat) dalam rukun Islam atau pilar dari keislaman seorang Muslim sejati.

Makna sampingan yang tak kalah penting adalah sifat dari berlangsungnya momen ini. Isra Mi'raj merupakan fenomena transendental spiritualistik dalam tataran yang sangat tinggi. Dalam kacamata rasional, diperjalankannya seorang manusia dari sebuah kota, Makkah (Masjidil Haram), ke Kota Darussalam atau Jerusalem (Masjidil Aqsha) dalam tempo semalam dengan teknologi medium transportasi apa pun pada saat itu merupakan suatu kemustahilan. Kemustahilan ini semakin menjadi-jadi ketika perjalanan itu berlanjut menuju langit ketujuh (Sidratul Muntaha).
   
Dalam alam manusia yang terperangkap dalam paham rasionalisme dan empirisisme ekstrem, peristiwa ini hanya menjadi cacian dan lelucon. Peristiwa ini dipandang hanya bualan dan khayalan bagi mereka yang memahami bahwa hidup hanya berdimensi materi belaka. Karena itulah, peristiwa ini juga sekaligus menjadi medium ujian keimanan bagi kaum Muslim di masa peristiwa itu berlangsung.

Pada peristiwa ini ditegaskan pula bahwa sifat agama senantiasa melampaui sifat-sifat material. Keimanan dan keyakinan dengan hati (spiritual) menjadi instrumen penting. Keberadaan kaum murtad yang muncul setelah peritiwa ini menandakan bahwa keimanan yang berdimensi spiritualistik dan transendental merupakan komponen penting dalam memahami suatu eksistensi agama.

Esensi shalat

Shalat yang diturunkan melalui peristiwa ini adalah media revolusioner yang diciptakan oleh Tuhan dengan banyak hikmah dan manfaat bagi kaum Muslim. Shalat adalah satu-satunya wahana peribadatan yang memungkinkan seorang hamba berkoneksi dengan Tuhannya secara langsung (divine connectedness). Dalam kitab tafsir Fi Zhilalil Qur'an, karya mujahid besar dunia Islam asal Mesir Sayyid Quthb, shalat dijelaskan sebagai ash-shilatun wal liqa'un baina abdi wa rabbi.

Shalat adalah koneksi dan perjumpaan antara hamba dan Tuhannya. Metode ibadah yang sejenis ini adalah sejenis bentuk ibadah yang sangat revolusioner karena memungkinkan seorang manusia berkoneksi secara langsung dengan Rabbnya. Ini tentu adalah suatu revolusi spiritual besar yang pernah terjadi dalam sejarah agama-agama dunia karena Islam tidak pernah mengenal adanya parokialisme atau sistem kependetaan. Shalat yang diturunkan melalui peristiwa Isra Mi'raj menjadi revolusi terfenomenal dalam pola hubungan antara Tuhan dan manusia.
   
Ibadah shalat dalam makna hakiki adalah terjadinya atau berlangsungnya suatu komunikasi intens antara hamba dan Tuhannya. Lantaran utama dan tingginya posisi shalat, maka bisa dipahami bila proses turunnya perintah ini pun melalui cara yang luar biasa istimewa, yakni melalui isra (perjalanan) dan mi'raj (penaikan) kepada Allah SWT, Tuhan alam semesta.
   
Kedudukan istimewa shalat juga karena muatan dalam bentuk ibadah ini yang merangkum dimensi fisik/eksoteris dan spiritual/esoteris. Dalam shalat, tentu ada dimensi eksoteris yang meliputi tata cara gerak tubuh dan bacaan. Namun yang tak kalah penting, ada dimensi esoteris dalam shalat yang meliputi makna bacaan, makna gerakan, afirmasi bacaan, afirmasi gerakan, manifestasi penyembahan, serta kesyukuran.

Pelaksanaan shalat dengan paradigma yang merangkum dimensi eksoteris dan esoteris tentu akan menjadi bentuk shalat yang sempurna. Kesempurnaan shalat ini akan menghindarkan kaum Muslim dari tindak tercela, keji, dan destruktif, serta akan mengantarkan kaum Muslim menjadi pribadi yang mulia dan terpuji sebagaimana tujuan dari shalat itu sendiri.   

Upgrade shalat

Melihat keistimewaan dan begitu utamanya kedudukan shalat dalam Islam-sedangkan fungsi profetik Rasulullah Muhammad SAW adalah untuk memperbaiki akhlak atau karakter-logis dan mudah dipahami bila sebenarnya shalat memegang peran menentukan dalam membentuk karakter umat Islam secara kolektif. Siapa pun orang yang berakal sehat dan berhati jernih pasti akan selalu mempertanyakan tentang esensi peribadatan shalat yang dalam khitah atau cetak birunya memiliki peluang mengantarkan seorang Muslim pada perilaku mulia dan terpuji, serta mencegahkan diri dari tindak keji dan jahat, namun potret masyarakat Muslim justru menampilkan karakteristik yang sebaliknya.

Fenomena dan potret buruk karakter ini bila dikaitkan dengan praktik shalat, terjadi karena makna ibadah yang tereduksi hanya pada dimensi syariah. Shalat yang reduksif seperti ini bisa dipahami bila tidak memberikan efek psikologis dan behavior kepada pelakunya. Bila shalat sejenis ini dijalankan, tidak akan mampu memberikan pengaruh positif dan perbaikan karakter atau akhlak. Individu Muslim yang masih getol berbuat koruptif, bisa dipastikan pemahaman dan praktik shalatnya masih reduktif, belum melangkah lebih maju pada kedalaman dimensi eksoteris shalat.
   
Karena itulah, sebuah kritik mesti ditujukan pada perilaku sosial dalam bentuk ibadah yang serba eksoteris ini. Kaum Muslim sudah semestinya sesegera mungkin meng-upgrade menuju pemahaman yang lebih esoteris dalam tata cara ibadah shalatnya. Alquran menegaskan bahwa salah satu indikator keimanan seorang Muslim adalah bila seorang Muslim itu dalam praktik shalatnya khusyuk (QS al-Mukminun: 1-2).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar