JAKARTA. Bank Indonesia (BI) bekerjasama dengan Organization for Economic Co-Operation and Development (OECD) dalam mendorong penerapan financial inclusion. Hal ini dilakukan untuk mempermudah masyarakat menjangkau perbankan. Pasalnya sekitar 40 juta masyarakat Indonesia belum memiliki akses melakukan kegiatan mikro di perbankan.
“Kerjasama ini dilakukan untuk mempermudah masyarakat mendapatkan kredit dari perbankan, tidak hanya fokus di Indonesia, tapi juga di pasar global,” ujar Deputi Gubernur Bank Indonesia, Muliaman Darmansyah Hadad, dalam konferensi pers Reginal Asian Seminar On Financial Literacy : Toward A National Strategy On Financial Education, Senin (27/6).
Selain itu, tujuan kerjasama ini adalah mengubah pola pikir masyarakat terhadap edukasi perbankan dan membiasakan masyarakat dalam menggunakan layanan jasa keuangan untuk meningkatkan kehidupan masyarakat.
"Langkah inisiatif yang BI lakukan di antaranya melalui program TabunganKu untuk masyarakat kecil, kemudian program Ayo ke Bank untuk mendekatkan masyarakat terhadap bank," tutur Muliaman.
Pemahaman edukasi tersebut diberikan melalui kurikulum dan bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan, dengan target masyarakat seperti tenaga kerja Indonesia (TKI) dan Ibu Rumah Tangga.
Peneliti Eksekutif Biro Stabilitas Sistem Keuangan BI Pungky Purnomo Wibowo menambahkan, pendidikan keuangan yang sudah dijalankan antara lain kepada para pelajar, TKI, ibu-ibu PKK dan lembaga keagamaan.
“Kerjasama ini dilakukan untuk mempermudah masyarakat mendapatkan kredit dari perbankan, tidak hanya fokus di Indonesia, tapi juga di pasar global,” ujar Deputi Gubernur Bank Indonesia, Muliaman Darmansyah Hadad, dalam konferensi pers Reginal Asian Seminar On Financial Literacy : Toward A National Strategy On Financial Education, Senin (27/6).
Selain itu, tujuan kerjasama ini adalah mengubah pola pikir masyarakat terhadap edukasi perbankan dan membiasakan masyarakat dalam menggunakan layanan jasa keuangan untuk meningkatkan kehidupan masyarakat.
"Langkah inisiatif yang BI lakukan di antaranya melalui program TabunganKu untuk masyarakat kecil, kemudian program Ayo ke Bank untuk mendekatkan masyarakat terhadap bank," tutur Muliaman.
Pemahaman edukasi tersebut diberikan melalui kurikulum dan bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan, dengan target masyarakat seperti tenaga kerja Indonesia (TKI) dan Ibu Rumah Tangga.
Peneliti Eksekutif Biro Stabilitas Sistem Keuangan BI Pungky Purnomo Wibowo menambahkan, pendidikan keuangan yang sudah dijalankan antara lain kepada para pelajar, TKI, ibu-ibu PKK dan lembaga keagamaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar