JAKARTA: Pemerintah tetap akan menjaga defisit APBN 2011 maksimal 2% dengan memacu penerimaan dari sejumlah sektor, terutama pajak, cukai dan efisiensi belanja kementerian.Wakil Menteri Keuangan Anny Ratnawati mengatakan tingginya harga minyak dunia membuat pemerintah mengubah defisit anggaran dari 1,8% menjadi 2% dalam APBNP 2011. Agar defisit tidak melebar dari 2% pemerintah akan menggenjot dari sektor penerimaan.
“Setelah kita hitung sekitar Rp16 triliun. Itu juga sudah memperhitungkan 20% alokasi untuk pendidikan akibat penambahan revenue terhadap harga minyak yang tinggi,” ujar Anny di Istana Wapres, sore ini.
Dia mengatakan angka defisit Rp16 triliun itu, disebabkan beberapa komponen di antaranya kenaikan harga minyak dunia, penurunan lifting, dan juga volume BBM bersubsidi yang diprediksi akan melebihi dari kuota yang ditetapkan sebanyak 38,6 juta kilolite.
Namun, Anny mengatakan defisit tahun ini tidak akan lebih dari 2% dengan cara meningkatkan penerimaan, termasuk dari penerimaan pajak dan cukai. “Kalau penerimaan lebih tinggi dari asumsi, tentu defisit akan bisa dipertahankan 2%. Juga catatan kita selama ini tidak pernah mencapai defisit di atas itu. Akan ada penggenjotan dari penerimaan pajak,” ujar Anny.
Meskipun pemerintah berjanji untuk menggenjot penerimaan pajak, Anny mengatakan belum ada rencana untuk melakukan penyesuaian terhadap rasio penerimaan pajak (tax ratio) yang dipatok pada APBN 2011 sebesar 12,1%.
“Meskipun demikian kita masih asumsikan di angka yang lama, tetapi cukai juga penerimaan bagus. Jadi mudah-mudahan bisa kita capai, bisa kita kendalikan dengan sesuatu yang lebih baik. Penerimaan sampai sekarang masih on track,” ujar Anny.
Selain itu, kata Anny, akan ada efisiensi dari belanja kementerian dan lembaga yang akan membantu mempertahankan defisit.(yn)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar