JAKARTA--MICOM: Efek domino dari kisruh Tunisia dan Mesir mulai merambat ke negara-negara pengekspor minyak mentah seperti Libya dan Iran. Terakhir, krisis Libya mengerek harga minyak dunia mencapai level tertinggi dalam kurun 2,5 tahun terakhir pada Senin (21/2) kemarin pada US$108 per barel. Pemerintah pun diminta mewaspadai pengaruh gejolak di kawasan pan-Arab terhadap nilai minyak.
Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Ekonomi Pertambangan dan Energi (ReforMiner Institute) Pri Agung Rakhmanto mengatakan, pemerintah seharusnya sudah mewaspadai membubungnya minyak pada awal Februari yang mencapai US$100/barel atau pertama kali sejak krisis ekonomi 2008.
"US$100 per barel Pemerintah sudah harus waspada, karena asumsi di dalam APBN 2011 hanya US$80/barel," tutur Pri Agung saat dihubungi Media Indonesia di Jakarta, Selasa (22/2).
Walaupun Libya memasok minyak dunia dengan kapasitas 1,1 juta barel per hari, Pri Agung mengaku krisis di negara yang dipimpin rezim Moamar Khadafi sejak 1969 itu tidak terlalu signifikan menganggu pergolakan minyak. Ia bahkan meramalkan minyak akan berangsur stabil di kisaran US$86-90/barel meski akan menyentuh US$110/barel terlebih dahulu.
"Tetapi jika sampai merembet ke Iran, nilai minyak bisa tidak terkendali dan mencapai US$120/barel. Sehingga, rata-rata dalam satu tahun akan bisa lebih tinggi daripada US$95/barel," jelas Pri Agung.
Ke depan, Pemerintah harus memerhatikan intensitas dan skala ketegangan di Timur Tengah serta Afrika Utara. Terlebih, Pemerintah harus realistis di dalam mematok harga minyak mentah di asumsi APBN. Asumsi US$80 per barel sudah tidak realistis dan perlu diubah di dalam pembahasan APBN-P 2011. Apabila sesuai perkiraan harga minyak mencapai level psikologis US$115-120/barel maka akan terjadi tambahan subsidi energi sekurang-kurangnya Rp20 triliun.
Seperti dilansir Reuters, harga minyak mentah jenis brent north sea kontrak London untuk pengiriman April ditutup pada US$106.86/barel pada Selasa (22/2) waktu setempat. Sebelumnya, brent north sea mencapai level tertinggi di level $108,70 per barel yang merupakan level tertinggi pada 2,5 tahun belakangan. Adapun minyak jenis light sweet untuk pengiriman April terkerek US$7,7/barel menjadi US$97,41/barel.(*/X-12)
Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Ekonomi Pertambangan dan Energi (ReforMiner Institute) Pri Agung Rakhmanto mengatakan, pemerintah seharusnya sudah mewaspadai membubungnya minyak pada awal Februari yang mencapai US$100/barel atau pertama kali sejak krisis ekonomi 2008.
"US$100 per barel Pemerintah sudah harus waspada, karena asumsi di dalam APBN 2011 hanya US$80/barel," tutur Pri Agung saat dihubungi Media Indonesia di Jakarta, Selasa (22/2).
Walaupun Libya memasok minyak dunia dengan kapasitas 1,1 juta barel per hari, Pri Agung mengaku krisis di negara yang dipimpin rezim Moamar Khadafi sejak 1969 itu tidak terlalu signifikan menganggu pergolakan minyak. Ia bahkan meramalkan minyak akan berangsur stabil di kisaran US$86-90/barel meski akan menyentuh US$110/barel terlebih dahulu.
"Tetapi jika sampai merembet ke Iran, nilai minyak bisa tidak terkendali dan mencapai US$120/barel. Sehingga, rata-rata dalam satu tahun akan bisa lebih tinggi daripada US$95/barel," jelas Pri Agung.
Ke depan, Pemerintah harus memerhatikan intensitas dan skala ketegangan di Timur Tengah serta Afrika Utara. Terlebih, Pemerintah harus realistis di dalam mematok harga minyak mentah di asumsi APBN. Asumsi US$80 per barel sudah tidak realistis dan perlu diubah di dalam pembahasan APBN-P 2011. Apabila sesuai perkiraan harga minyak mencapai level psikologis US$115-120/barel maka akan terjadi tambahan subsidi energi sekurang-kurangnya Rp20 triliun.
Seperti dilansir Reuters, harga minyak mentah jenis brent north sea kontrak London untuk pengiriman April ditutup pada US$106.86/barel pada Selasa (22/2) waktu setempat. Sebelumnya, brent north sea mencapai level tertinggi di level $108,70 per barel yang merupakan level tertinggi pada 2,5 tahun belakangan. Adapun minyak jenis light sweet untuk pengiriman April terkerek US$7,7/barel menjadi US$97,41/barel.(*/X-12)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar