JAKARTA--MICOM: Tingkat keamanan stok bahan bakar minyak (BBM) Indonesia dinilai masih kurang. Stok BBM Indonesia hanya cukup digunakan untuk 20 hari. Jumlah tersebut terhitung kecil bila dibanding stok BBM di negara lain, seperti Jepang dan Singapura.
Hal tersebut disampaikan tenaga professional Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Timotius D Harsono di Jakarta, Kamis (24/2).
"Tingkat keamanan cadangan minyak di Indonesia saat ini kurang, hanya cukup untuk 20 hari. Bahkan dalam kondisi tertentu hanya tahan 5 hari," ungkapnya.
Timotius mengatakan bahwa rendahnya stok BBM tersebut disebabkan tingkat konsumsi nasional sangat besar. Ia menyebutkan konsumsi BBM terbesar digunakan untuk transportasi, sedangkan lainnya untuk industri dan rumah tangga.
Sebagai perbandingan, cadangan BBM Jepang bisa digunakan untuk 107 hari. Sementara cadangan BBM Singapura bisa digunakan untuk 120 hari. Dengan rendahnya stok BBM ini, Indonesia berpotensi mengalami gangguan pasokan minyak.
Timotius menjelaskan bahwa 80% konsumsi energi Indonesia dihabiskan dari bahan bakar fosil, yaitu 50% berupa minyak dan gas, sedangkan 25% merupakan batu bara.
"Ketergantungan itu menyebabkan cadangan minyak Indonesia krisis," ujarnya.
Lebih lanjut Timotius menilai kebijakan subsidi BBM yang diterapkan pemerintah salah sasaran. Masalahnya, masyarakat yang mendapat subsidi BBM ternyata tidak bisa menghemat penggunaannya. "Yang mendapatkan subsidi ternyata tidak bisa menghemat," sindirnya. (*/OL-3)
Hal tersebut disampaikan tenaga professional Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Timotius D Harsono di Jakarta, Kamis (24/2).
"Tingkat keamanan cadangan minyak di Indonesia saat ini kurang, hanya cukup untuk 20 hari. Bahkan dalam kondisi tertentu hanya tahan 5 hari," ungkapnya.
Timotius mengatakan bahwa rendahnya stok BBM tersebut disebabkan tingkat konsumsi nasional sangat besar. Ia menyebutkan konsumsi BBM terbesar digunakan untuk transportasi, sedangkan lainnya untuk industri dan rumah tangga.
Sebagai perbandingan, cadangan BBM Jepang bisa digunakan untuk 107 hari. Sementara cadangan BBM Singapura bisa digunakan untuk 120 hari. Dengan rendahnya stok BBM ini, Indonesia berpotensi mengalami gangguan pasokan minyak.
Timotius menjelaskan bahwa 80% konsumsi energi Indonesia dihabiskan dari bahan bakar fosil, yaitu 50% berupa minyak dan gas, sedangkan 25% merupakan batu bara.
"Ketergantungan itu menyebabkan cadangan minyak Indonesia krisis," ujarnya.
Lebih lanjut Timotius menilai kebijakan subsidi BBM yang diterapkan pemerintah salah sasaran. Masalahnya, masyarakat yang mendapat subsidi BBM ternyata tidak bisa menghemat penggunaannya. "Yang mendapatkan subsidi ternyata tidak bisa menghemat," sindirnya. (*/OL-3)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar