JAKARTA--MICOM: PT PLN (Persero) membutuhkan pasokan gas sebesar 1000 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) untuk melakukan penghematan anggaran Rp60 triliun. Selama ini, perusahaan listrik pelat merah ini hanya mendapatkan 800 MMSCFD atau jauh di bawah kebutuhan sebesar 1800 MMSCFD (setara dengan 293 tera british thermal unit per tahun).
"Kami berencana untuk mengalihkan kebutuhan pembangkit listrik dari sumber energi minyak mentah ke gas, setidaknya 150 megawatt (MW) yang akan kami ubah," kata Direktur Energi Primer PLN, Nur Pamudji pada acara temu media di Jakarta, Jumat (25/2).
Menanggapi imbauan Menteri Keuangan Agus Martowardojo sehari sebelumnya agar PLN mengalihkan kebutuhan dari minyak ke gas, Nur Pamudji menegaskan hal itu bisa dilakukan apabila ada ketersediaan dari segi pasokan. Untuk tahun 2010 saja, BUMN listrik itu masih mengandalkan batu bara sebanyak 50% untuk kebutuhan pembangkit listrik. Adapun gas masih menjadi minoritas dengan persentase 22%. Sekadar catatan, PLN hingga kini memiliki 5223 unit pembangkit dengan kapasitas terpasang sebesar 24.960 MW.
Untuk itu, PLN menargetkan penambahan pasokan gas sebanyak 65 MMSCFD dari Lapangan Jambi Merang di perbatasan Sumatera Selatan dan Jambi yang direncanakan beroprasi pada April 2011. Gas tersebut rencananya akan terdistribusi ke pembangkit di pulau Jawa melalui pipa South Sumatra West Java (SSWJ) milik PT PGN Tbk.
Sampai 2019, PLN mengalkulasi kebutuhan tambahan daya untuk pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) sebesar 11.000 Megawatt. Realisasi saat ini sendiri masih mencapai 9800 MW. Daya pembangkit gas pun ditargetkan bertambah sebesar 21000 MW pada tahun 2019. Pada sebuah kesempatan, Direktur Perencanaan dan Teknologi PLN Nasri Sebayang mengaku PLN butuh dana sekitar US$ 15 miliar untuk membangun tambahan PLTG.
Adapun untuk produksi tenaga listrik berbahan metana batu bara (coal bed methane/CBM), Nur Pamudji mengatakan PLN sejauh ini baru menggunakan sumber energi tersebut pada skala kecil untuk pedesaan-pedesaan di sekitar wilayah kerja (WK) seperti West Sangatta I. Apabila sudah masuk proses peroduksi, PLN mengaku siap untuk membeli gas tersebut. Ia sendiri enggan menyebutkan harga yang dimaui PLN untuk listrik CBM. Setelah didesak, ia membandingkan dengan Australia dimana harga listrik CBM jauh lebih murah ketimbang gas alam setempat dengan nilai US$2 per kilowatt hour (kWh).
"Berapa harga gasnya bukan masalah, PLN ingin mendapatkan pasokan gas yang cukup," tutur Nur Pamudji.
Seperti diketahui, Indonesia terpaksa keluar dari negara-negara pengekspor minyak (OPEC) pada 2008 setelah terus mengalami penurunan dari produksi minyak mentah per hari. Terakhir, data Badan Pengatur Hulu Migas (BP Migas) menunjukkan kuota minyak untuk Februari hanya mencapai 905 ribu barel per hari (bph) atau jauh di bawah target 970 ribu bph pada APBN 2011.
Untuk memenuhi konsumsi dalam negeri yang mencapai 1,4 juta bph, Indonesia selama ini mengimpor dari negara-negara kaya emas hitam seperti Timur Tengah. Permasalahannya, situasi yang memanas mulai dari Tunisia, Mesir, dan terakhir Libya membuat Indonesia sudah harus mulai melepaskan ketergantungan akan minyak mentah. (*/X-12)
"Kami berencana untuk mengalihkan kebutuhan pembangkit listrik dari sumber energi minyak mentah ke gas, setidaknya 150 megawatt (MW) yang akan kami ubah," kata Direktur Energi Primer PLN, Nur Pamudji pada acara temu media di Jakarta, Jumat (25/2).
Menanggapi imbauan Menteri Keuangan Agus Martowardojo sehari sebelumnya agar PLN mengalihkan kebutuhan dari minyak ke gas, Nur Pamudji menegaskan hal itu bisa dilakukan apabila ada ketersediaan dari segi pasokan. Untuk tahun 2010 saja, BUMN listrik itu masih mengandalkan batu bara sebanyak 50% untuk kebutuhan pembangkit listrik. Adapun gas masih menjadi minoritas dengan persentase 22%. Sekadar catatan, PLN hingga kini memiliki 5223 unit pembangkit dengan kapasitas terpasang sebesar 24.960 MW.
Untuk itu, PLN menargetkan penambahan pasokan gas sebanyak 65 MMSCFD dari Lapangan Jambi Merang di perbatasan Sumatera Selatan dan Jambi yang direncanakan beroprasi pada April 2011. Gas tersebut rencananya akan terdistribusi ke pembangkit di pulau Jawa melalui pipa South Sumatra West Java (SSWJ) milik PT PGN Tbk.
Sampai 2019, PLN mengalkulasi kebutuhan tambahan daya untuk pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) sebesar 11.000 Megawatt. Realisasi saat ini sendiri masih mencapai 9800 MW. Daya pembangkit gas pun ditargetkan bertambah sebesar 21000 MW pada tahun 2019. Pada sebuah kesempatan, Direktur Perencanaan dan Teknologi PLN Nasri Sebayang mengaku PLN butuh dana sekitar US$ 15 miliar untuk membangun tambahan PLTG.
Adapun untuk produksi tenaga listrik berbahan metana batu bara (coal bed methane/CBM), Nur Pamudji mengatakan PLN sejauh ini baru menggunakan sumber energi tersebut pada skala kecil untuk pedesaan-pedesaan di sekitar wilayah kerja (WK) seperti West Sangatta I. Apabila sudah masuk proses peroduksi, PLN mengaku siap untuk membeli gas tersebut. Ia sendiri enggan menyebutkan harga yang dimaui PLN untuk listrik CBM. Setelah didesak, ia membandingkan dengan Australia dimana harga listrik CBM jauh lebih murah ketimbang gas alam setempat dengan nilai US$2 per kilowatt hour (kWh).
"Berapa harga gasnya bukan masalah, PLN ingin mendapatkan pasokan gas yang cukup," tutur Nur Pamudji.
Seperti diketahui, Indonesia terpaksa keluar dari negara-negara pengekspor minyak (OPEC) pada 2008 setelah terus mengalami penurunan dari produksi minyak mentah per hari. Terakhir, data Badan Pengatur Hulu Migas (BP Migas) menunjukkan kuota minyak untuk Februari hanya mencapai 905 ribu barel per hari (bph) atau jauh di bawah target 970 ribu bph pada APBN 2011.
Untuk memenuhi konsumsi dalam negeri yang mencapai 1,4 juta bph, Indonesia selama ini mengimpor dari negara-negara kaya emas hitam seperti Timur Tengah. Permasalahannya, situasi yang memanas mulai dari Tunisia, Mesir, dan terakhir Libya membuat Indonesia sudah harus mulai melepaskan ketergantungan akan minyak mentah. (*/X-12)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar