JAKARTA--MICOM: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengklaim stok bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri sejauh ini masih dalam posisi aman.
Meskipun efek domino Tunisia dan Mesir mulai merambat ke negara-negara Afrika Utara dan Timur Tengah, Pemerintah bersikeras permintaan emas hitam masih kalah besar dibandingkan ketersediaan minyak mentah dunia.
Demikian diutarakan Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh usai menghadiri pelantikan pejabat eselon II Kementerian Energi di Jakarta, Senin (28/2).
"Demand minyak 88 juta barel per hari, sedangkan suplai minyak dunia 89 juta barel per hari. Selain itu, cadangan komersil di negara-negara-negara OECD (Organization for Economic Cooperation and Development-RED) itu 57,5 hari atau lebih tinggi dibandingkan lima tahun lalu 54,6 hari," tukas Darwin.
Menanggapi stok BBM yang oleh Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) dinilai mengkhawatirkan seiring konflik Timur Tengah, Darwin mengaku tim masih akan terus mencermati hal tersebut.
Menurutnya, sikap Arab Saudi pada (24/2) untuk mengganti kekosongan pasokan minyak dari Libia sebesar 1,2 juta barel per hari merupakan bukti produsen-produsen besar dunia tidak akan berdiam diri.
"Selama ini Alhamdulillah masih aman (stok BBM). Kita akan cermati terus dan setiap dua hari sekali kita rapat strategis," papar Darwin.
Di tempat terpisah, Direktur Pemasaran dan Niaga PT Pertamina (persero) Djaelani Sutomo memaparkan impor BBM tidak terlalu terganggu mengingat BUMN migas itu lebih banyak mengimpor dari Arab Saudi dan Singapura.
Selain itu, Pertamina pun sudah menandatangani kerjasama dengan Korea Selatan (Korsel) untuk impor BBM terutama jenis premium.
"Kita punya grup dengan Vietnam (PetroVietnam) dan Petronas Malaysia untuk saling mengisi. Negara-negara ASEAN juga saling mendukung," ujar Djaelani.
Hingga kini, sambung dia, Pertamina belum mendapatkan laporan dari lapangan tentang gangguan stok BBM. Adapun besaran impor BBM untuk bulan Februari dan Maret masing-masing masih berada di sekitar 5 juta barel per bulan. (*/OL-3)
Meskipun efek domino Tunisia dan Mesir mulai merambat ke negara-negara Afrika Utara dan Timur Tengah, Pemerintah bersikeras permintaan emas hitam masih kalah besar dibandingkan ketersediaan minyak mentah dunia.
Demikian diutarakan Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh usai menghadiri pelantikan pejabat eselon II Kementerian Energi di Jakarta, Senin (28/2).
"Demand minyak 88 juta barel per hari, sedangkan suplai minyak dunia 89 juta barel per hari. Selain itu, cadangan komersil di negara-negara-negara OECD (Organization for Economic Cooperation and Development-RED) itu 57,5 hari atau lebih tinggi dibandingkan lima tahun lalu 54,6 hari," tukas Darwin.
Menanggapi stok BBM yang oleh Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) dinilai mengkhawatirkan seiring konflik Timur Tengah, Darwin mengaku tim masih akan terus mencermati hal tersebut.
Menurutnya, sikap Arab Saudi pada (24/2) untuk mengganti kekosongan pasokan minyak dari Libia sebesar 1,2 juta barel per hari merupakan bukti produsen-produsen besar dunia tidak akan berdiam diri.
"Selama ini Alhamdulillah masih aman (stok BBM). Kita akan cermati terus dan setiap dua hari sekali kita rapat strategis," papar Darwin.
Di tempat terpisah, Direktur Pemasaran dan Niaga PT Pertamina (persero) Djaelani Sutomo memaparkan impor BBM tidak terlalu terganggu mengingat BUMN migas itu lebih banyak mengimpor dari Arab Saudi dan Singapura.
Selain itu, Pertamina pun sudah menandatangani kerjasama dengan Korea Selatan (Korsel) untuk impor BBM terutama jenis premium.
"Kita punya grup dengan Vietnam (PetroVietnam) dan Petronas Malaysia untuk saling mengisi. Negara-negara ASEAN juga saling mendukung," ujar Djaelani.
Hingga kini, sambung dia, Pertamina belum mendapatkan laporan dari lapangan tentang gangguan stok BBM. Adapun besaran impor BBM untuk bulan Februari dan Maret masing-masing masih berada di sekitar 5 juta barel per bulan. (*/OL-3)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar