Senin, 28 Februari 2011

Misteri Alam Semesta

“(Allah) Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang.” (Al-Mulk:3)

GalaxyPertanyaan paling mendasar yang senantiasa hangat diperbincangkan oleh para ilmuan adalah dari manakah alam semesta ini berasal, dan kemanakah alam semesta ini akan pergi? Bagaimana dan mengapa semesta ada? Semesta ini abadi atau akan berakhi? Seandainya berakhir, bagaimanakah semesta berakhir? Apakah semesta mempunyai awal? Seandainya semesta memiliki awal, apa yang ada dan terjadi sebelum awal semesta? Lalu bagaimanakah sifat waktu yang membuat hadirnya awal dan akhir, sebelum dan sesudah?
Tentu pertanyaan-pertanyaan ini mengusik kita. Sebab, implikasi atas jawaban dari pertanyaan ini akan memberikan dampak yang ‘ekstrim’ dalam kehidupan manusia. Sedari itu, tulisan ini akan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan itu yang merupakan hasil tinjauan (kajian) penulis dari berbagai literatur.
More…
Teori Steady-State
Menurut sejumlah “teori kuno”, semesta bermula pada suatu saat di masa lampau. Argumentasi tentang adanya awal ini dibutuhkan untuk menjelaskan eksistensi alam semesta.
Sebaliknya, Aristoteles dan kebanyakan filsuf Yunani tidak menyukai ide penciptaan karena terlalu banyak melibatkan campur tangan “agen asing”. Mereka percaya bahwa semesta telah ada dan tetap akan ada untuk selamanya. (Sandi Setiawan dalam Theory Of Everything).
Inilah yang disebut dengan teori Steady-state dimana dinyatakan bahwa alam semsta berukuran tak hingga dan kekal sepanjang masa.
Pemikiran Aristoteles ini, banyak diadopsi oleh ilmuan-ilmuan modern. George Politzer, dalam bukunya Principes Fondamentaux de Philosophie, juga menyebutkan bahwa alam semesta bukanlah sesuatu yang diciptakan. Oleh karena fanatik pada keyakinannya bahwa “Tuhan tidak ada” para ilmuan seperti Politzer ngotot mempertahankan pendapat, bahwa alam semesta bukanlah sesuatu yang diciptakan. Melainkan ada begitu saja, dengan sendirinya.
Paham ini, sering disebut dengan Materialisme yang meyakini model “alam semesta tak hingga” sebagai dasar berpijak paham ateis mereka. Menurut mereka alam semesta adalah sesuatu yang diam, luas tak terbatas, tak berkembang, kekal abadi, tidak berawal dan tidak berakhir. Jelas bahwa pandangan ini menolak keberadaan Sang Pencipta. Namun, seiring dengan berbagai penemuan sains dan teknologi yang berkembang di abad ke-20 akhirnya meruntuhkan gagasan kono materialisme ini.
Alam Semesta Diciptakan
BumiEdwin Hubble, observatorium Mount Wilson California, pada tahun 1929, ahli astronomi Amerika, membuat penemuan terbesar di sepanjang sejarah astronomi. Ia mendapati bahwa ke manapun kita melihat galaksi-galaksi jauh, semuanya bergerak menjauhi kita. Ini menunjukkan bahwa semesta raya sedang mengembang (berekspansi). Hal ini berarti, pada masa lalu benda-benda ini berada pada jarak yang lebih dekat satu sama lain.
Ketika mengamati bintang-bintang dengan teleskop raksasa, ia menemukan bahwa mereka memancarkan cahaya merah sesuai dengan jaraknya. Hal ini berarti bahwa bintang-bintang ini “bergerak menjauhi” kita. Sebab, menurut hukum fisika yang diketahui, spektrum dari sumber cahaya yang sedang bergerak mendekati pengamat cenderung ke warna ungu, sedangkan yang menjauhi pengamat cenderung ke warna merah.
Jauh sebelumnya, Hubble telah membuat penemuan penting lain. Bintang dan galaksi bergerak tak hanya menjauhi kita, tapi juga menjauhi satu sama lain. Dengan kata lain, alam semesta terus-menerus mengembang. Sebagai ilustrasi, alam semesta diumpamakan sebagai permukaan balon yang mengembang. Sebagaimana titik-titik di permuakaan balon yang bergerak menjauhi satu sama lain ketika balon membesar, benda-benda di ruang angkasa juga bergerak satu sama lain ketika alam semesta terus mengembang,
Dari pengamatan yang dilakukan oleh Hubble ini memunculkan argumentasi bahwa terdapat suatu saat –disebut Big Bang- ketika semesta berada dalam keadaan sangat-sangat kecil dan berapat tak hingga. Dalam keadaan seperti ini, semua hukum sains tidak berlaku. Akibatnya, semua kemampuan untuk memprakirakan masa depan juga terhenti. Sehingga waktu sebenarnya bermula pada Big Bang, dan waktu yang lebih awal dari situasi ini tidak didefinisikan. Dengan kata lain, teori Big Bang menunjukkan, semua benda di alam semesta pada awalnya adalah satu wujud, dan kemudian terpisah-pisah.
Fakta ini, sebenarnya sudah ditemukan secara teoritis oleh Albert Einstein. Ia menyimpulkan bahwa alam semesta tidak mungkin statis. Dengan demikian, semakin tampak bahwa teori ini mematahkan paham kaum materialis yang mengabaikan penciptaan (eksistensi Tuhan) dan mempertahankan gagasan alam semesta tak hingga. Hal ini telah memberikan petunjuk nyata bahwa alam semesta telah ‘diciptakan dari ketiadaan’.
Argumen ini (teori Big Bang), sampai saat ini, ditentang oleh para astronom yang meyakini paham materialis. Mereka (astronom materialis) mempertahankan gagasan bahwa alam semesta adalah tak hingga. Salah seorang fisikawan materialis terkenal yang mengatakan: “Secara filosofis, gagasan tentang permulaan tiba-tiba dari tatanan Alam yang ada saat ini sungguh menjijikkan bagi saya”. Ungkapan ini, jelas sekali menunjukkan sikap penolakan mereka.
Pembuktian teori Big Bang, semakin kuat dengan gagasan yang muncul dari Gerge Gamov pada tahun 1948. Ia mengatakan, setelah pembentukan alam semesta melalui ledakan raksasa, sisa radiasi yang ditinggalkan oleh ledakan ini haruslah ada di alam. Selain itu, radiasi ini haruslah tersebar merata di segenap penjuru alam semesta.
Bukti yang ‘seharusnya ada‘ ini pada akhirnya diketemukan. Pada tahun 1965, dua peneliti bernama Arno Penziaz dan Robert Wilson menemukan gelombang ini tanpa sengaja. Radiasi ini, yang disebut ‘radiasi latar kosmis‘, tidak terlihat memancar dari satu sumber tertentu, akan tetapi meliputi keseluruhan ruang angkasa. Demikianlah, diketahui bahwa radiasi ini adalah sisa radiasi peninggalan dari tahapan awal peristiwa Big Bang. Penzias dan Wilson dianugerahi hadiah Nobel untuk penemuan mereka.
Pada tahun 1989, NASA mengirimkan satelit Cosmic Background Explorer [COBE] ke ruang angkasa untuk melakukan penelitian tentang radiasi latar kosmis. Hanya perlu 8 menit bagi COBE untuk membuktikan perhitungan Penziaz dan Wilson. COBE telah menemukan sisa ledakan raksasa yang telah terjadi di awal pembentukan alam semesta. Dinyatakan sebagai penemuan astronomi terbesar sepanjang masa, penemuan ini dengan jelas membuktikan teori Big Bang. (Harun Yahya dalam Teori Bingung Alam Semesta).
Sir Fred Hoyle, yang akhirnya harus menerima teori Big Bang setelah bertahun-tahun menentangnya, mengungkapkan hal ini dengan jelas: “Teori Big Bang menyatakan bahwa alam semesta berawal dari satu ledakan tunggal. Tapi, sebagaimana diketahui, ledakan hanya menghancurkan materi berkeping-keping, sementara Big Bang secara misterius telah menghasilkan dampak yang berlawanan -yakni materi yang saling bergabung dan membentuk galaksi-galaksi.”
Jika alam semesta tak memiliki permulaan dan jika ia telah ada sejak dulu kala, maka unsur hidrogen ini seharusnya telah habis sama sekali dan berubah menjadi helium. Namun hal ini berbeda dari fakta. Dalam berbagai penelitian, diketahui bahwa konsentrasi hidrogen-helium di alam semesta bersesuaian dengan perhitungan teoritis konsentrasi hidrogen-helium sisa peninggalan peristiwa Big Bang. Ini juga bukti penting lain bagi pembenaran teori Big Bang. Segala bukti meyakinkan ini menyebabkan teori Big Bang diterima oleh masyarakat ilmiah. Begitulah, alam semesta ini telah diciptakan oleh Allah Yang Maha Perkasa dengan sempurna tanpa cacat.
Model Pengembangan Semesta
Kenyataannya terdapat tiga jenis model berbeda yang tunduk pada dua asumsi dasar Friedmann (Friedmann menemukan satu). Model pertama (yang ditemukan Friedmann) menyatakan bahwa galaksi bergerak saling menjauhi dengan gerakan sangat lambat sehingga tarikan gravitasi antar galaksi akan menghentikan pengembangan (ekspansi) dan kemudian galaksi-galaksi itu bergerak saling mendekati dan semesta mengalami pengerutan (kontraksi).
Sedangkan model kedua menyatakan bahwa semesta mengembang sedemikian cepat sehingga tarikan gravitasi antar galaksi tak mampu menghentikan geraknya, sekalipun kepesatan pengembangan ini sedikit berkurang, dan semesta terus mengembang sampai selamanya. Sedangkan model ketiga menyatakan bahwa semesta mengembang (galaksi-galaksi bergerak saling menjauhi) pada laju kritis dimana gerak ini hanya cukup untuk menghindarkan semesta dari keruntuhannya kembali. Dalam keadaan ini kelajuan menjauhnya galakasi menjadi semakin kecil sekalipun tidak pernah mencapai nol. (disarikan dari artikel Sandi Setiawan yang berjudul Semesta yang Memuai).
Dewasa ini, baru terdapat tiga gagasan model pengembangan alam semesta. Namun yang paling kuat adalah model pertama. Harun Yahya mengungkapkan rancangan dan tatanan tanpa tara di alam semesta ini tentulah membuktikan keberadaan Pencipta, beserta Ilmu, Keagungan dan Hikmah-Nya yang tak terbatas, Yang telah menciptakan materi dari ketiadaan dan Yang berkuasa mengaturnya tanpa henti. Sang Pencipta ini adalah Allah, Tuhan seluruh sekalian alam.
Begitulah ilmu fisika. Roda putarnya masih jauh dalam perjalanannya mengungkap rahasia alam yang misterius dan –tiada lain- menyingkap kebesaran Tuhan, Allah swt. Lantas hal apalagi yang membuat kita enggan tuk bertakwa kepada-Nya? [Frenky Suseno Manik]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar