JAKARTA--MICOM: Peneliti Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Latif Adam mengatakan bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi belum tentu efektif dapat mengurangi tingkat kemiskinan dan juga meningkatkan lapangan kerja.
Hal tersebut harus dilihat dari sektor mana yang menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi tersebut.
Demikian kata Latif menjawab keoptimisan pemerintah mencapai pertumbuhan ekonomi 6,5% pada kuartal I 2011.
"Menurut saya konteks pengurangan kemiskinan itu bukan hanya pada tingkat pertumbuhan ekonomi, tetapi yang penting adalah pola. Yaitu sektor mana yang menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi itu," saat dihubungi di Jakarta, Kamis (17/2).
Menurutnya, studi LIPI dalam kurun waktu 1983 sampai 2009 menunjukkan bahwa sektor industri dan pertanian mampu menekan angka kemiskinan. Sektor ini 6,5 kali lipat lebih berperan daripada sektor non tradeble. "Ini analisis dalam kurun waktu 27 tahun," katanya.
Oleh karena itu, jika dikaitkan dengan pertumbuhan ekonomi yang diusung pemerintah saat ini. Sektor-sektor yang memiliki peran optimal yang memerangi kemiskinan belum tumbuh optimal.
"Misalnya untuk target industri tahun ini, kemarin Pak Hidayat (Menteri Perindustrian) mengatakan dari target 5% diturunkan karena faktor perekonomian global industri tahun ini diperkirakan hanya akan tumbuh 4%," katanya.
Latif menilai, kalau pertumbuhan ekonomi sesuai target 6,4% tapi pendorongnya tetap berkutat sektor keuangan dan sektor jasa, maka pertumbuhan tidak akan menekan angka kemiskinan secara optimal.
"Perlu ada komitmen bangaimana merestruktur pola pertumbuhan ekonomi itu. Bagaimana pertumbuhan ekonomi didukung oleh sektor-sektor yang pro poor dan pro job creation, dan ini tidak semudah yang dikemukakan," katanya.
Ia pun mencontohkan, misalnya pertumbuhan ekonomi mengandalkan investasi langsung ke dalam negeri (foreign direct investment/ FDI) pun, hal itu belum tentu bisa mengurangi kemiskinan dan menambah lapangan kerja. Sebab selama ini FDI juga memburu sektor seperti telekomunikasi dan pertambangan.
"Multiplier effect-nya untuk menciptakan lapangan kerja dan mengurangi kemiskinan tidak akan sebesar kalau dia masuk ke industri pengolahan," tukasnya. (Tup/OL-9)
Hal tersebut harus dilihat dari sektor mana yang menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi tersebut.
Demikian kata Latif menjawab keoptimisan pemerintah mencapai pertumbuhan ekonomi 6,5% pada kuartal I 2011.
"Menurut saya konteks pengurangan kemiskinan itu bukan hanya pada tingkat pertumbuhan ekonomi, tetapi yang penting adalah pola. Yaitu sektor mana yang menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi itu," saat dihubungi di Jakarta, Kamis (17/2).
Menurutnya, studi LIPI dalam kurun waktu 1983 sampai 2009 menunjukkan bahwa sektor industri dan pertanian mampu menekan angka kemiskinan. Sektor ini 6,5 kali lipat lebih berperan daripada sektor non tradeble. "Ini analisis dalam kurun waktu 27 tahun," katanya.
Oleh karena itu, jika dikaitkan dengan pertumbuhan ekonomi yang diusung pemerintah saat ini. Sektor-sektor yang memiliki peran optimal yang memerangi kemiskinan belum tumbuh optimal.
"Misalnya untuk target industri tahun ini, kemarin Pak Hidayat (Menteri Perindustrian) mengatakan dari target 5% diturunkan karena faktor perekonomian global industri tahun ini diperkirakan hanya akan tumbuh 4%," katanya.
Latif menilai, kalau pertumbuhan ekonomi sesuai target 6,4% tapi pendorongnya tetap berkutat sektor keuangan dan sektor jasa, maka pertumbuhan tidak akan menekan angka kemiskinan secara optimal.
"Perlu ada komitmen bangaimana merestruktur pola pertumbuhan ekonomi itu. Bagaimana pertumbuhan ekonomi didukung oleh sektor-sektor yang pro poor dan pro job creation, dan ini tidak semudah yang dikemukakan," katanya.
Ia pun mencontohkan, misalnya pertumbuhan ekonomi mengandalkan investasi langsung ke dalam negeri (foreign direct investment/ FDI) pun, hal itu belum tentu bisa mengurangi kemiskinan dan menambah lapangan kerja. Sebab selama ini FDI juga memburu sektor seperti telekomunikasi dan pertambangan.
"Multiplier effect-nya untuk menciptakan lapangan kerja dan mengurangi kemiskinan tidak akan sebesar kalau dia masuk ke industri pengolahan," tukasnya. (Tup/OL-9)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar