Selasa, 22 Februari 2011

Kebijakan Impor tidak Serta-Merta Turunkan Harga

JAKARTA--MICOM: Pembukaan keran impor bahan pangan dinilai akan memakan waktu yang cukup lama untuk menurunkan harga pangan. Hal itu disebabkan distribusi bahan pangan masih lambat dengan jaringan infrastruktur yang tidak memadai.

Demikian yang diungkapkan ekonom senior Standard Chartered Fauzi Ichsan dalam paparan ekonomi tentang kendala infrastruktur Indonesia di Jakarta, Senin (21/2) lalu. “Kalau keran impor dibuka belum tentu akan langsung terasa. Masa feed through yang lama karena infrastruktur tidak memadai,” ungkapnya.

Selain itu Fauzi melihat Indonesia yang bentuknya sebagai negara kepulauan memang akan kesulitan dengan distribusi barang. Maka jaringan infrastruktur, khususnya jalan, perlu dibangun agar distrbusi barang menjadi lebih lancar. “Idealnya ada jembatan dari Bandar Lampung ke Merak, jalan tol dari Merak ke Jawa Timur,” ujarnya.

Dengan jaringan infrastruktur yang tidak memadai, distribusi pangan akan terhambat sehingga membuat harga barang dan inflasi Indonesia selalu tinggi. Bahkan Fauzi melihat, selama 15 tahun terakhir, inflasi Indonesia selalu lebih tinggi dari negara-negara Asia Tenggara lainnya. “Apa ekonomi lagi resesi atau booming, inflasi kita pasti lebih tinggi dari rata-rata di Asia,” jelasnya.

Sebagai contoh, harga semen di Papua bisa lebih mahal 4 kali lipta daripada di Jawa. Hal itu disebabkan jaringan transportasi ke Papua masih tidak memadai sehingga distribusi semen ke Papua menjadi sulit. “Kalau ada suatu daerah kena tsunami atau bencana, inflasi di sana gak turun-turun setelah bencana karena jaringan infrastruktur ke daerah tersebut parah,” tambah Fauzi.

Di sisi lain infrastruktur yang tidak memadai juga membuat sektor manufaktur Indonesia tidak bisa bersaing dengan negara-negara lain. Menurut Fauzi, sektor manufaktur Indonesia masih bisa bersaing dengan negara-negara lain karena buruh yang murah.

“Nanti kalau sudah tidak bisa bersaing dengan buruh yang murah, sektor manufaktur harus bisa bersaingan dengan infrastruktur yang murah,” tegasnya. Jadi Fauzi menyebutkan, 3 kunci utama infrastruktur Indonesia adalah membangun jalan tol, menyediakan listrik, dan menambah pelabuhan. (*/X-12)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar