Rahmayulis Saleh
JAKARTA: Kini lebih berhati-hatilah dengan tekanan darah tinggi. Saat ini satu dari tiga orang dewasa mengidap hipertensi, 95% diantaranya terserang karena faktor keturunan. Penyakit ini diketahui menjadi pencetus terjadinya penyakit jantung, ginjal dan stroke.
"Karena itu prevalensi hipertensi yang tinggi, tentu saja merupakan salah satu penyebab meningkatnya kematian akibat penyakit tidak menular," kata Prof. Rully MA Roesli, Ketua Perhimpunan Hipertensi Indonesia (Perhi) di sela-sela pertemuan The Indonesian Society of Hypertension (InaSH), hari ini.
Pertemuan tahunan yang berlangsung dua hari hingga besok itu diikuti oleh sekitar 1.700 dokter dari seluruh Indonesia. Ada berbagai masalah tentang hipertensi dibahas dalam acara ini dengan menampilkan sejumlah pakar dari dalam negeri dan luar negeri.
Dia menjelaskan walau prevalensi hipetensi di masyarakat sangat tinggi, tapi banyak orang yang tidak tahu kalau dirinya menderita penyakit tersebut. "Diperkirakan terdapat 76% kasus hipertensi dalam masyarakat yang belum terdiagnosis. Artinya penderita tidak mengetahui bahwa dirinya mengidap hipertensi."
Sementara itu dari sekitar 31,7% penderita hipertensi, hanya sekitar 0,4% kasus yang patuh meminum obat secara teratur. Rendahnya penderita berobat, lanjutnya, karena penyakit ini sering kali tidak menunjukkan gejala keluhan apapun (the sillent killer).
Data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kemenkes 2007 menunjukkan prevalensi hipertensi di Indonesia - berdasarkan pengukuran tekanan darah - sangat tinggi, yakni 31,7% dari total penduduk dewasa. "Prevalensi ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Singapura 27,3%, Thailand 22,7%, Malaysia 20%."
Dia menuturkan Perhi dan kalangan dokter pada umumnya yakin kasus hipetensi ini bisa diturunkan serta komplikasi kardiovaskular dapat dicegah bila masyarakat mau mengubah gaya hidupnya.
"Untuk itu perlu kampanye kepada masyarakat dalam mengubah gaya hidup. Dan memahami apa saja yang menimbulkan hipertensi. Misalnya dengan melakukan pemeriksaan atau pengukuran tekanan darah tinggi secara berkala," imbaunya.
JAKARTA: Kini lebih berhati-hatilah dengan tekanan darah tinggi. Saat ini satu dari tiga orang dewasa mengidap hipertensi, 95% diantaranya terserang karena faktor keturunan. Penyakit ini diketahui menjadi pencetus terjadinya penyakit jantung, ginjal dan stroke. "Karena itu prevalensi hipertensi yang tinggi, tentu saja merupakan salah satu penyebab meningkatnya kematian akibat penyakit tidak menular," kata Prof. Rully MA Roesli, Ketua Perhimpunan Hipertensi Indonesia (Perhi) di sela-sela pertemuan The Indonesian Society of Hypertension (InaSH), hari ini.
Pertemuan tahunan yang berlangsung dua hari hingga besok itu diikuti oleh sekitar 1.700 dokter dari seluruh Indonesia. Ada berbagai masalah tentang hipertensi dibahas dalam acara ini dengan menampilkan sejumlah pakar dari dalam negeri dan luar negeri.
Dia menjelaskan walau prevalensi hipetensi di masyarakat sangat tinggi, tapi banyak orang yang tidak tahu kalau dirinya menderita penyakit tersebut. "Diperkirakan terdapat 76% kasus hipertensi dalam masyarakat yang belum terdiagnosis. Artinya penderita tidak mengetahui bahwa dirinya mengidap hipertensi."
Sementara itu dari sekitar 31,7% penderita hipertensi, hanya sekitar 0,4% kasus yang patuh meminum obat secara teratur. Rendahnya penderita berobat, lanjutnya, karena penyakit ini sering kali tidak menunjukkan gejala keluhan apapun (the sillent killer).
Data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kemenkes 2007 menunjukkan prevalensi hipertensi di Indonesia - berdasarkan pengukuran tekanan darah - sangat tinggi, yakni 31,7% dari total penduduk dewasa. "Prevalensi ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Singapura 27,3%, Thailand 22,7%, Malaysia 20%."
Dia menuturkan Perhi dan kalangan dokter pada umumnya yakin kasus hipetensi ini bisa diturunkan serta komplikasi kardiovaskular dapat dicegah bila masyarakat mau mengubah gaya hidupnya.
"Untuk itu perlu kampanye kepada masyarakat dalam mengubah gaya hidup. Dan memahami apa saja yang menimbulkan hipertensi. Misalnya dengan melakukan pemeriksaan atau pengukuran tekanan darah tinggi secara berkala," imbaunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar