JAKARTA--MICOM: Pemerintah tidak akan terburu-buru mengubah asumsi harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) di dalam APBN 2011 meskipun realisasi ICP Maret 2011 menembus level US$110 per barel.
Pemerintah bersikukuh pada patokan rata-rata ICP pada satu tahun terakhir yang masih berada di kisaran US$83,45 per barel.
Hal itu disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Darwin Zahedy Saleh usai pelantikan pejabat eselon II Kementerian Energi di Jakarta, Senin (28/2).
"Sikap strategis Pemerintah sesuai APBN didasarkan pada rata-rata dua belas bulan terakhir. Jadi, artinya kita tidak bisa terlalu gugup. Yang penting adalah proaktif dan sistematis," tutur Darwin di hadapan wartawan.
Berdasarkan pengamatan Pemerintah, kekisruhan di kawasan Afrika khususnya Afrika Utara turut mengerek kenaikan harga minyak mentah.
Sejauh ini, harga minyak mentah jenis brent north sea mencapai US$112/barel dan ICP US$111,36/barel. Kendati demikian, Darwin mengklaim Pemerintah berpatokan pada rata-rata dua belas bulan terakhir pada US$83,45/barel.
"Kita tidak bisa hanya melihat posisi sesaat tetapi rata-rata 12 bulan terakhir seperti apa. Ambil contoh tahun 2008 (harga minyak) pernah hampir mencapai US$140 per barel, tertinggi, tetapi rata-ratanya itu di sekitar US$115-an. Jadi enggak pernah itu rata-ratanya bisa sampai tinggi sekali," terang Darwin.
Menanggapi jaminan stok cadangan minyak dalam negeri, Menteri Energi mengaku masih akan terus mengamati perkembangan di negara-negara Afrika Utara dan Timur Tengah tersebut. Selain itu, Pemerintah akan mendorong perusahaan-perusahaan berskala besar dan kecil untuk menangani lapangan minyak yang belum tergarap.
"Ini tiap harinya kita amati. Kita ada tim yang namanya tim percepatan produksi migas. Insya Allah tercapai," pungkasnya. (*/OL-3)
Pemerintah bersikukuh pada patokan rata-rata ICP pada satu tahun terakhir yang masih berada di kisaran US$83,45 per barel.
Hal itu disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Darwin Zahedy Saleh usai pelantikan pejabat eselon II Kementerian Energi di Jakarta, Senin (28/2).
"Sikap strategis Pemerintah sesuai APBN didasarkan pada rata-rata dua belas bulan terakhir. Jadi, artinya kita tidak bisa terlalu gugup. Yang penting adalah proaktif dan sistematis," tutur Darwin di hadapan wartawan.
Berdasarkan pengamatan Pemerintah, kekisruhan di kawasan Afrika khususnya Afrika Utara turut mengerek kenaikan harga minyak mentah.
Sejauh ini, harga minyak mentah jenis brent north sea mencapai US$112/barel dan ICP US$111,36/barel. Kendati demikian, Darwin mengklaim Pemerintah berpatokan pada rata-rata dua belas bulan terakhir pada US$83,45/barel.
"Kita tidak bisa hanya melihat posisi sesaat tetapi rata-rata 12 bulan terakhir seperti apa. Ambil contoh tahun 2008 (harga minyak) pernah hampir mencapai US$140 per barel, tertinggi, tetapi rata-ratanya itu di sekitar US$115-an. Jadi enggak pernah itu rata-ratanya bisa sampai tinggi sekali," terang Darwin.
Menanggapi jaminan stok cadangan minyak dalam negeri, Menteri Energi mengaku masih akan terus mengamati perkembangan di negara-negara Afrika Utara dan Timur Tengah tersebut. Selain itu, Pemerintah akan mendorong perusahaan-perusahaan berskala besar dan kecil untuk menangani lapangan minyak yang belum tergarap.
"Ini tiap harinya kita amati. Kita ada tim yang namanya tim percepatan produksi migas. Insya Allah tercapai," pungkasnya. (*/OL-3)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar