LONDON--MICOM: Harga minyak mentah jenis Brent North Sea untuk kontrak di London semakin terkerek oleh krisis Libia.
Kekhawatiran investor terhadap kondisi negara-negara Timur Tengah membuat harga minyak Brent mencapai US$110 per barel di London, pada Rabu (23/2) siang waktu setempat. Ini merupakan rekor tertinggi sejak September 2008. Beberapa jam kemudian, Brent membubung dan nyaris menyentuh US$120/barel
Seperti diberitakan Reuters, harga minyak Brent mencapai level US$119,79 per barel atau naik US$8,54 dibanding penutupan sehari sebelumnya.
Sementara untuk minyak mentah jenis Light Sweet untuk kontrak di New York mencatat rekor tertinggi dalam 28 bulan terakhir pada US$100 per barel sebelum ditutup pada US$$98,10 per barel.
Sementara itu, situs Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menulis harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) mencapai US$97,11 per liter untuk rata-rata Januari.
Berdasarkan kalkulasi Reuters, konflik antara Moamar Khadafi dan lawan-lawan politiknya telah memotong ekspor minyak Libia sebanyak 25% atau 400 ribu barel per hari dari kapasitas total eksportir ke-12 di dunia itu.
Diberitakan, investor dunia mengkhawatirkan situasi Libia dapat merembet ke negara-negara eksportir minyak raksasa di pan-Arab, termasuk Arab Saudi.
Dalam menanggapi itu, Deputi Direktur Lembaga Kajian Ekonomi Pertambangan dan Energi (ReforMiner Institute) Komaidi mengatakan apabila harga tersebut bertahan hingga akhir tahun, tambahan subsidi energi yang bakal ditanggung Pemerintah akan mencapai Rp139,57 triliun. Sedangkan, tambahan penerimaan migas hanya mencapai Rp102,78 triliun.
"Sehingga tambahan defisit APBN adalah Rp36,79 triliun," ujar Komaidi.
Di tempat terpisah, anggota Komisi VII DPR yang membidangi energi Romahurmuziy menyarankan Pemerintah membuka opsi penetapan jumlah subsidi per liter untuk bahan bakar minyak (BBM). Dengan begitu, masyarakat akan terbiasa akan fluktuasi harga minyak dunia.
"Supaya APBN kita tidak rentan. Sekarang bantalannya adalah APBN, tidak selamanya kuat APBN itu," tutur Romi, sapaan akrabnya.
Romi menambahkan dengan harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) saat ini yang US$97 per barel atau lebih tinggi US$17 dari asumsi makro US$80/barel, perlu dikaji seberapa besar kemampuan dan kemauan besar masyarakat untuk membeli BBM jenis premium yang saat ini Rp4500 per liter.
"Berdasarkan penjajakan Anggito Abimanyu (ketua konsorsium universitas pengkaji pengaturan BBM bersubsidi), Rp5.500 per liter (premium) masih mungkin. ICP saat ini membuat harga keekonomian premium terpaut Rp150 per liter dengan BBM nonsubsidi. Jadi saya pikir subsidi Rp2000 atau Rp2500 per liter sudah pas," pungkasnya. (*/OL-3)
Kekhawatiran investor terhadap kondisi negara-negara Timur Tengah membuat harga minyak Brent mencapai US$110 per barel di London, pada Rabu (23/2) siang waktu setempat. Ini merupakan rekor tertinggi sejak September 2008. Beberapa jam kemudian, Brent membubung dan nyaris menyentuh US$120/barel
Seperti diberitakan Reuters, harga minyak Brent mencapai level US$119,79 per barel atau naik US$8,54 dibanding penutupan sehari sebelumnya.
Sementara untuk minyak mentah jenis Light Sweet untuk kontrak di New York mencatat rekor tertinggi dalam 28 bulan terakhir pada US$100 per barel sebelum ditutup pada US$$98,10 per barel.
Sementara itu, situs Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menulis harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) mencapai US$97,11 per liter untuk rata-rata Januari.
Berdasarkan kalkulasi Reuters, konflik antara Moamar Khadafi dan lawan-lawan politiknya telah memotong ekspor minyak Libia sebanyak 25% atau 400 ribu barel per hari dari kapasitas total eksportir ke-12 di dunia itu.
Diberitakan, investor dunia mengkhawatirkan situasi Libia dapat merembet ke negara-negara eksportir minyak raksasa di pan-Arab, termasuk Arab Saudi.
Dalam menanggapi itu, Deputi Direktur Lembaga Kajian Ekonomi Pertambangan dan Energi (ReforMiner Institute) Komaidi mengatakan apabila harga tersebut bertahan hingga akhir tahun, tambahan subsidi energi yang bakal ditanggung Pemerintah akan mencapai Rp139,57 triliun. Sedangkan, tambahan penerimaan migas hanya mencapai Rp102,78 triliun.
"Sehingga tambahan defisit APBN adalah Rp36,79 triliun," ujar Komaidi.
Di tempat terpisah, anggota Komisi VII DPR yang membidangi energi Romahurmuziy menyarankan Pemerintah membuka opsi penetapan jumlah subsidi per liter untuk bahan bakar minyak (BBM). Dengan begitu, masyarakat akan terbiasa akan fluktuasi harga minyak dunia.
"Supaya APBN kita tidak rentan. Sekarang bantalannya adalah APBN, tidak selamanya kuat APBN itu," tutur Romi, sapaan akrabnya.
Romi menambahkan dengan harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) saat ini yang US$97 per barel atau lebih tinggi US$17 dari asumsi makro US$80/barel, perlu dikaji seberapa besar kemampuan dan kemauan besar masyarakat untuk membeli BBM jenis premium yang saat ini Rp4500 per liter.
"Berdasarkan penjajakan Anggito Abimanyu (ketua konsorsium universitas pengkaji pengaturan BBM bersubsidi), Rp5.500 per liter (premium) masih mungkin. ICP saat ini membuat harga keekonomian premium terpaut Rp150 per liter dengan BBM nonsubsidi. Jadi saya pikir subsidi Rp2000 atau Rp2500 per liter sudah pas," pungkasnya. (*/OL-3)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar