JAKARTA--MICOM: Gejolak harga minyak mentah dunia yang terus melonjak menyebabkan implikasi terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2011, termasuk adanya risiko fiskal dengan menaikkan defisit.
Meskipun nantinya akan ada kenaikan defisit, Menteri Keuangan Agus Martowardojo berjanji tidak akan lebih dari dua persen.
"Jadi memang ini yang kami lihat. Tapi, kami mempersiapkan diri untuk risiko-risiko fiskal. Seandainya harga minyak seperti sekarang, lifting minyak enggak bisa begitu disesuaikan, terus juga rencana pembatasan BBM ini ada kendala, itu ada dampaknya kepada anggaran, tetapi tidak membuat defisit kita lebih dari dua persen," ujar Agus di Kantor Wakil Presiden Jakarta, Kamis (24/2).
Saat ini dalam asumsi makro APBN 2011, pemerintah menetapkan defisit anggaran terhadap pedapatan domestik bruto (PDB) sebesar 1,8 persen. Untuk sekarang, Agus mengatakan kondisi APBN secara umum masih baik.
"Jika seandainya ini terus terjadi tentu kami sudah menyiapkan bagaimana implikasinya kepada anggaran kita. Anggaran kita secara umum masih baik," jelasnya. (OL-5)
Meskipun nantinya akan ada kenaikan defisit, Menteri Keuangan Agus Martowardojo berjanji tidak akan lebih dari dua persen.
"Jadi memang ini yang kami lihat. Tapi, kami mempersiapkan diri untuk risiko-risiko fiskal. Seandainya harga minyak seperti sekarang, lifting minyak enggak bisa begitu disesuaikan, terus juga rencana pembatasan BBM ini ada kendala, itu ada dampaknya kepada anggaran, tetapi tidak membuat defisit kita lebih dari dua persen," ujar Agus di Kantor Wakil Presiden Jakarta, Kamis (24/2).
Saat ini dalam asumsi makro APBN 2011, pemerintah menetapkan defisit anggaran terhadap pedapatan domestik bruto (PDB) sebesar 1,8 persen. Untuk sekarang, Agus mengatakan kondisi APBN secara umum masih baik.
"Jika seandainya ini terus terjadi tentu kami sudah menyiapkan bagaimana implikasinya kepada anggaran kita. Anggaran kita secara umum masih baik," jelasnya. (OL-5)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar