JAKARTA--MICOM: Rencana pemerintah membangun pusat pertumbuhan ekonomi baru di Kepulauan Riau (Kepri) untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional dan menyaingi Singapura dinilai tidak efektif. Buruknya koordinasi antarotoritas serta inkonsistensi penerapan kebijakan masih jadi penghambat.
"Selama koordinasi antara otoritas pusat dengan daerah masih buruk dan kebijakan bea cukai, perpajakan, sampai pertanahan diterapkan secara inkonsisten, maka rencana itu tidak akan ada hasilnya," ujar Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Sofjan Wanandi, Minggu (27/2).
Sofyan mencontohkan aksi serupa yang pernah dilakukan pemerintah di Batam. Menurutnya, pembangunan pusat ekonomi di wilayah itu sama sekali tidak membuahkan hasil signifikan bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Yang ada, Batam hanya menjadi surga untuk barang-barang selundupan.
"Kita sudah coba di Batam dan tidak ada hasilnya. Bukannya menyaingi, tapi kita menjadi bagian dari Singapura. Bahkan jadi pintu gerbang untuk barang selundupan. Bukan lokasinya yang kurang tepat, tetapi masalah-masalah tadi yang masih menghambat," tukasnya.
Sofjan menilai, buruknya pengelolaan Batam sebagai pusat ekonomi baru bahkan telah membuat wilayah itu sangat bergantung pada Singapura. Ia mencontohkan, pembukaan sebuah kasino di Singapura pada 2010 lah yang ikut mendorong peningkatan jumlah kunjungan wisatawan asing Batam.
"Lihat saja apa ada pertumbuhan investasi di Batam dalam beberapa tahun terakhir? Adanya jumlah investor terus menurun. Kalau pemerintah masih seperti itu, lebih baik tidak usah bangun pusat ekonomi baru. Yang ada nanti Kepri jadi pintu gerbang baru buat penyeludupan," imbuhnya. (CS/OL-2)
"Selama koordinasi antara otoritas pusat dengan daerah masih buruk dan kebijakan bea cukai, perpajakan, sampai pertanahan diterapkan secara inkonsisten, maka rencana itu tidak akan ada hasilnya," ujar Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Sofjan Wanandi, Minggu (27/2).
Sofyan mencontohkan aksi serupa yang pernah dilakukan pemerintah di Batam. Menurutnya, pembangunan pusat ekonomi di wilayah itu sama sekali tidak membuahkan hasil signifikan bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Yang ada, Batam hanya menjadi surga untuk barang-barang selundupan.
"Kita sudah coba di Batam dan tidak ada hasilnya. Bukannya menyaingi, tapi kita menjadi bagian dari Singapura. Bahkan jadi pintu gerbang untuk barang selundupan. Bukan lokasinya yang kurang tepat, tetapi masalah-masalah tadi yang masih menghambat," tukasnya.
Sofjan menilai, buruknya pengelolaan Batam sebagai pusat ekonomi baru bahkan telah membuat wilayah itu sangat bergantung pada Singapura. Ia mencontohkan, pembukaan sebuah kasino di Singapura pada 2010 lah yang ikut mendorong peningkatan jumlah kunjungan wisatawan asing Batam.
"Lihat saja apa ada pertumbuhan investasi di Batam dalam beberapa tahun terakhir? Adanya jumlah investor terus menurun. Kalau pemerintah masih seperti itu, lebih baik tidak usah bangun pusat ekonomi baru. Yang ada nanti Kepri jadi pintu gerbang baru buat penyeludupan," imbuhnya. (CS/OL-2)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar