JAKARTA--MICOM: Pelaksana tugas Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Bambang Brodjonegoro menjelaskan, realisasi APBN 2011 per 31 Januari sesuai dengan target yang diharapkan dan mencatatkan defisit anggaran sebesar Rp6,3 triliun.
"Defisit anggaran per 31 Januari 2011 mencapai Rp6,3 triliun, karena tingginya realisasi belanja negara yang mencapai 5,4 persen dari pagu APBN 2011," ujarnya saat pemaparan di Jakarta, Kamis (17/2). Selain itu, realisasi pendapatan negara dan hibah tercatat mencapai Rp60,6 triliun atau 5,5 persen dari target APBN 2011 meningkat 8,3 persen dari realisasi Januari tahun lalu.
Kontribusi terbesar disumbang oleh penerimaan perpajakan yang mencapai Rp53,5 triliun atau 6,3 persen dari APBN serta mengalami kenaikan sebesar 11,2 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu. "Hal ini terutama dipengaruhi oleh meningkatnya penerimaan PPh nonmigas yang tumbuh 32,1 persen hingga mencapai Rp25,1 triliun yang didukung oleh membaiknya kondisi ekonomi makro," ujar Bambang.
Peningkatan penerimaan perpajakan juga didukung oleh meningkatnya penerimaan bea keluar yang dipengaruhi oleh tingginya harga CPO di pasar internasional. Untuk penerimaan negara bukan pajak (PNBP) tercatat sebesar Rp7,1 triliun atau 2,8 persen dari target APBN 2011 yang didominasi oleh penerimaan yang bersumber dari sumber daya alam (SDA) migas sebesar Rp2,6 triliun, SDA nonmigas sebesar Rp1,8 triliun, dan PNBP lainnya sebesar Rp2,6 triliun.
Realisasi belanja negara telah tercatat sebesar Rp66,9 triliun atau 5,4 persen dari pagu APBN 2011 yang terdiri atas belanja pemerintah pusat Rp25,2 triliun atau 3 persen dari pagu APBN dan transfer ke daerah Rp 41,7 triliun atau 10,6 persen dari pagu APBN. Selain itu, belanja pemerintah pusat didominasi oleh belanja pegawai sebesar Rp13,8 triliun atau 7,7 persen dari pagu APBN dan belanja pembayaran bunga utang Rp9,9 triliun atau 8,6 persen dari pagu APBN.
Realisasi transfer ke daerah didominasi dana alokasi umum (DAU) sebesar Rp37,6 triliun atau 16,7 persen dari pagu APBN dan dana otonomi khusus dan penyesuaian Rp4,1 triliun atau 6,9 persen dari pagu APBN. "Realisasi pembiayaan mencapai Rp8,5 triliun atau 6,8 persen dari (target) APBN 2011 yang terdiri dari pembiayaan dalam negeri sebesar Rp11,1 triliun atau 8,8 persen dari APBN 2011 dan pembiayaan luar negeri sebesar negatif Rp2,6 triliun," ujar Bambang. (Ant/OL-5)
"Defisit anggaran per 31 Januari 2011 mencapai Rp6,3 triliun, karena tingginya realisasi belanja negara yang mencapai 5,4 persen dari pagu APBN 2011," ujarnya saat pemaparan di Jakarta, Kamis (17/2). Selain itu, realisasi pendapatan negara dan hibah tercatat mencapai Rp60,6 triliun atau 5,5 persen dari target APBN 2011 meningkat 8,3 persen dari realisasi Januari tahun lalu.
Kontribusi terbesar disumbang oleh penerimaan perpajakan yang mencapai Rp53,5 triliun atau 6,3 persen dari APBN serta mengalami kenaikan sebesar 11,2 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu. "Hal ini terutama dipengaruhi oleh meningkatnya penerimaan PPh nonmigas yang tumbuh 32,1 persen hingga mencapai Rp25,1 triliun yang didukung oleh membaiknya kondisi ekonomi makro," ujar Bambang.
Peningkatan penerimaan perpajakan juga didukung oleh meningkatnya penerimaan bea keluar yang dipengaruhi oleh tingginya harga CPO di pasar internasional. Untuk penerimaan negara bukan pajak (PNBP) tercatat sebesar Rp7,1 triliun atau 2,8 persen dari target APBN 2011 yang didominasi oleh penerimaan yang bersumber dari sumber daya alam (SDA) migas sebesar Rp2,6 triliun, SDA nonmigas sebesar Rp1,8 triliun, dan PNBP lainnya sebesar Rp2,6 triliun.
Realisasi belanja negara telah tercatat sebesar Rp66,9 triliun atau 5,4 persen dari pagu APBN 2011 yang terdiri atas belanja pemerintah pusat Rp25,2 triliun atau 3 persen dari pagu APBN dan transfer ke daerah Rp 41,7 triliun atau 10,6 persen dari pagu APBN. Selain itu, belanja pemerintah pusat didominasi oleh belanja pegawai sebesar Rp13,8 triliun atau 7,7 persen dari pagu APBN dan belanja pembayaran bunga utang Rp9,9 triliun atau 8,6 persen dari pagu APBN.
Realisasi transfer ke daerah didominasi dana alokasi umum (DAU) sebesar Rp37,6 triliun atau 16,7 persen dari pagu APBN dan dana otonomi khusus dan penyesuaian Rp4,1 triliun atau 6,9 persen dari pagu APBN. "Realisasi pembiayaan mencapai Rp8,5 triliun atau 6,8 persen dari (target) APBN 2011 yang terdiri dari pembiayaan dalam negeri sebesar Rp11,1 triliun atau 8,8 persen dari APBN 2011 dan pembiayaan luar negeri sebesar negatif Rp2,6 triliun," ujar Bambang. (Ant/OL-5)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar