BANDUNG: Bank Indonesia sulit memenuhi permintaan dari Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan yang meminta inflasi inti diturunkan sampai 3%, karena akan mengorbankan pertumbuhan ekonomi 2011.
Ketua Tim Outlook Jangka Pendek dan Diseminasi Kebijakan Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Endy Dwi Tjahyanto menyatakan bank sentral telah menetapkan proyeksi inflasi inti (core inflation) pada tahun ini sebesar 5%.
Proyeksi tersebut dipengaruhi atas tingginya pertumbuhan ekonomi yang akan mendorong konsumsi atau permintaan barang dari masyarakat, padahal kapasitas suplai barang terbatas.
“Kecuali investasi bisa lebih tinggi lagi sehingga produksi bisa meningkat dan inflasi inti bisa lebih rendah lagi,” ujarnya di Bandung, hari ini.
Selain itu, menurut dia, posisi inflasi inti sekitar 5% merupakan keputusan bersama antara bank sentral dan pemerintah. “Jadi BI bersama Pemerintah telah menetapkan inflasi 5% plus minus 1%. Dari target itu kemudian dijabarkan berapa inflasi inti, berapa volatile food dan berapa administered prices,” jelasnya.
Untuk itu, tuturnya, apabila bank sentral menekan inflasi inti sampai 3% dengan kebijakan moneter serta makroprudensial maka itu akan mengorbankan pertumbuhan ekonomi yang pada tahun ini dipatok 6% - 6,5%.
“Kalau inflasi inti mau ditekan sampai 3% maka harus ada kesepakatan bersama dulu karena ini akan mengorbankan pertumbuhan ekonomi,” kata dia.
Sebelumnya, Pelaksana Tugas Sementara Kepala BKF Bambang PS Brojonegoro menyatakan target inflasi 5,3% bisa tercapai apabila inflasi inti bisa ditekan dari 4,18% menjadi 3%.
BI menyatakan tugas bank sentral adalah menjaga inflasi inti dan ekspektasi inflasi sesuai yang diharapkan. Sedangkan inflasi pada kelompok volatile food dan administered prices memerlukan kebijakan dari pemerintah.
Menurut bank sentral, faktor inflasi keseluruhan yang mencapai 7,02% pada Januari lalu disebabkan oleh tingginya kelompok volatile food akibat anomali cuaca. Sedangkan inflasi inti relatif terjaga pada 4,18%. (er)
Ketua Tim Outlook Jangka Pendek dan Diseminasi Kebijakan Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Endy Dwi Tjahyanto menyatakan bank sentral telah menetapkan proyeksi inflasi inti (core inflation) pada tahun ini sebesar 5%.
Proyeksi tersebut dipengaruhi atas tingginya pertumbuhan ekonomi yang akan mendorong konsumsi atau permintaan barang dari masyarakat, padahal kapasitas suplai barang terbatas.
“Kecuali investasi bisa lebih tinggi lagi sehingga produksi bisa meningkat dan inflasi inti bisa lebih rendah lagi,” ujarnya di Bandung, hari ini.
Selain itu, menurut dia, posisi inflasi inti sekitar 5% merupakan keputusan bersama antara bank sentral dan pemerintah. “Jadi BI bersama Pemerintah telah menetapkan inflasi 5% plus minus 1%. Dari target itu kemudian dijabarkan berapa inflasi inti, berapa volatile food dan berapa administered prices,” jelasnya.
Untuk itu, tuturnya, apabila bank sentral menekan inflasi inti sampai 3% dengan kebijakan moneter serta makroprudensial maka itu akan mengorbankan pertumbuhan ekonomi yang pada tahun ini dipatok 6% - 6,5%.
“Kalau inflasi inti mau ditekan sampai 3% maka harus ada kesepakatan bersama dulu karena ini akan mengorbankan pertumbuhan ekonomi,” kata dia.
Sebelumnya, Pelaksana Tugas Sementara Kepala BKF Bambang PS Brojonegoro menyatakan target inflasi 5,3% bisa tercapai apabila inflasi inti bisa ditekan dari 4,18% menjadi 3%.
BI menyatakan tugas bank sentral adalah menjaga inflasi inti dan ekspektasi inflasi sesuai yang diharapkan. Sedangkan inflasi pada kelompok volatile food dan administered prices memerlukan kebijakan dari pemerintah.
Menurut bank sentral, faktor inflasi keseluruhan yang mencapai 7,02% pada Januari lalu disebabkan oleh tingginya kelompok volatile food akibat anomali cuaca. Sedangkan inflasi inti relatif terjaga pada 4,18%. (er)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar