JAKARTA (SINDO) – Bank Indonesia (BI) diperkirakan bakal menaikkan suku bunganya (BI Rate) yang kini berada di level 6,75% hingga maksimal ke level 7,5% guna meredam tekanan inflasi.
Inflasi yang kini sudah menyentuh angka 7,02% secara tahunan (year on year/yoy) akan coba dikendalikan oleh pemerintah melalui berbagai cara. Langkah itu antara lain melalui impor bahan pokok, penguatan nilai tukar mata uang rupiah agar barang impor yang masuk menjadi murah, dan dengan menaikkan bunga acuan. “Jadi,BI Rate tetap akan naik. Kenaikannya maksimal 7,5% untuk meredam ekspektasi inflasi,” ungkap Ekonom Senior Standard Chartered Fauzi Ichsan di Jakarta kemarin. Menurut dia, kenaikan suku bunga acuan akan berhenti di semester pertama tahun ini untuk meredam inflasi 6–9 bulan ke depan. Inflasi tetap akan berada pada kisaran angka 7% pada tahun ini. BI Ratemerupakan faktor yang memengaruhi secara psikologis ekspektasi terhadap inflasi.
“Dampak ekspektasi kenaikan BI Rate ke kalangan dunia usaha,perbankan, dan buruh,”tuturnya. Sementara itu,pemerintah menyatakan bahwa target inflasi yang dipatok pada level 5,3% dalam APBN 2011 belum akan diubah kendati pada Januari 2011 inflasi cukup tinggi, yakni mencapai 0,89%.“Pokoknya pemerintah tetap berpegang pada target yang ada 5,3%.BI juga sudah tahu target itu sehingga sudah menjadi target BI juga,” tandas Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Wakil Kepala Bappenas Lukita Dinarsyah Tuwo.
Dia mengatakan, pemerintah dan BI terus memonitor dan memantau tekanan inflasi.Upaya menekan laju inflasi juga dilakukan melalui kebijakan-kebijakan atau instrumen, baik dari pemerintah maupun BI.Dari sisi pemerintah diupayakan menjaga pasokan bahan pangan pokok masyarakat. Selain itu, kelancaran distribusi juga menjadi perhatian agar tidak ada wilayah-wilayah yang kekurangan pasokan pangan yang imbasnya langsung pada tekanan inflasi. “Jadi, kita juga menjaga dari sisi produksi agar bisa menjamin dan mengantisipasi kekurangankekurangan untuk mengamankan distribusi. Itu yang dilakukan pemerintah,”paparnya.
Dari sisi BI, bank sentral memiliki instrumen moneter yang bisa meminimalisasi tekanan inflasi. Instrumen moneter yang dimiliki BI berfungsi menjaga inflasi inti (core inflation) agar berada pada posisi aman. Saat ini, core inflationberada pada posisi 4,1% dan dianggap aman oleh BI. Namun, pemerintah menilai tingkat aman inflasi inti berada pada kisaran 3% agar ada ruang bagi kebijakan mengenai barang-barang yang harganya diatur pemerintah (administered price) terkait inflasi. Sebelumnya, BI menyatakan, suku bunga acuan bisa naik lagi apabila tingkat ekspektasi inflasi masih tinggi. Karena itu, BI meminta pemerintah fokus mengendalikan inflasi yang disebabkan kenaikan harga pangan (volatile foods) dan harga barang-barang yang diatur pemerintah.
Ketua Tim Outlook Jangka Pendek dan Diseminasi Kebijakan Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI Endy Dwi Tjahyono mengatakan,BI akan melihat respons dan kecepatan masyarakat dalam menangkap sinyal dari BI. Kenaikan BI Rate yang telah dilakukan pada 4 Februari lalu akan dievaluasi kembali untuk melihat apakah ekspektasi inflasi sudah menurun atau belum. “Kalau belum menurun,yakita akan naikkan lagi.Namun, jika sudah menurun,mungkin tidak perlu dinaikkan. Jadi, sesuai kebutuhan saja,”tandas Endy. (wisnoe moerti/ nanang wijayanto)
Inflasi yang kini sudah menyentuh angka 7,02% secara tahunan (year on year/yoy) akan coba dikendalikan oleh pemerintah melalui berbagai cara. Langkah itu antara lain melalui impor bahan pokok, penguatan nilai tukar mata uang rupiah agar barang impor yang masuk menjadi murah, dan dengan menaikkan bunga acuan. “Jadi,BI Rate tetap akan naik. Kenaikannya maksimal 7,5% untuk meredam ekspektasi inflasi,” ungkap Ekonom Senior Standard Chartered Fauzi Ichsan di Jakarta kemarin. Menurut dia, kenaikan suku bunga acuan akan berhenti di semester pertama tahun ini untuk meredam inflasi 6–9 bulan ke depan. Inflasi tetap akan berada pada kisaran angka 7% pada tahun ini. BI Ratemerupakan faktor yang memengaruhi secara psikologis ekspektasi terhadap inflasi.
“Dampak ekspektasi kenaikan BI Rate ke kalangan dunia usaha,perbankan, dan buruh,”tuturnya. Sementara itu,pemerintah menyatakan bahwa target inflasi yang dipatok pada level 5,3% dalam APBN 2011 belum akan diubah kendati pada Januari 2011 inflasi cukup tinggi, yakni mencapai 0,89%.“Pokoknya pemerintah tetap berpegang pada target yang ada 5,3%.BI juga sudah tahu target itu sehingga sudah menjadi target BI juga,” tandas Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Wakil Kepala Bappenas Lukita Dinarsyah Tuwo.
Dia mengatakan, pemerintah dan BI terus memonitor dan memantau tekanan inflasi.Upaya menekan laju inflasi juga dilakukan melalui kebijakan-kebijakan atau instrumen, baik dari pemerintah maupun BI.Dari sisi pemerintah diupayakan menjaga pasokan bahan pangan pokok masyarakat. Selain itu, kelancaran distribusi juga menjadi perhatian agar tidak ada wilayah-wilayah yang kekurangan pasokan pangan yang imbasnya langsung pada tekanan inflasi. “Jadi, kita juga menjaga dari sisi produksi agar bisa menjamin dan mengantisipasi kekurangankekurangan untuk mengamankan distribusi. Itu yang dilakukan pemerintah,”paparnya.
Dari sisi BI, bank sentral memiliki instrumen moneter yang bisa meminimalisasi tekanan inflasi. Instrumen moneter yang dimiliki BI berfungsi menjaga inflasi inti (core inflation) agar berada pada posisi aman. Saat ini, core inflationberada pada posisi 4,1% dan dianggap aman oleh BI. Namun, pemerintah menilai tingkat aman inflasi inti berada pada kisaran 3% agar ada ruang bagi kebijakan mengenai barang-barang yang harganya diatur pemerintah (administered price) terkait inflasi. Sebelumnya, BI menyatakan, suku bunga acuan bisa naik lagi apabila tingkat ekspektasi inflasi masih tinggi. Karena itu, BI meminta pemerintah fokus mengendalikan inflasi yang disebabkan kenaikan harga pangan (volatile foods) dan harga barang-barang yang diatur pemerintah.
Ketua Tim Outlook Jangka Pendek dan Diseminasi Kebijakan Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI Endy Dwi Tjahyono mengatakan,BI akan melihat respons dan kecepatan masyarakat dalam menangkap sinyal dari BI. Kenaikan BI Rate yang telah dilakukan pada 4 Februari lalu akan dievaluasi kembali untuk melihat apakah ekspektasi inflasi sudah menurun atau belum. “Kalau belum menurun,yakita akan naikkan lagi.Namun, jika sudah menurun,mungkin tidak perlu dinaikkan. Jadi, sesuai kebutuhan saja,”tandas Endy. (wisnoe moerti/ nanang wijayanto)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar