Senin, 28 Februari 2011

5 Tahun ke Depan, Target Investasi Manufaktur Rp736 Triliun

JAKARTA--MICOM: Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan realisasi investasi di sektor manufaktur mencapai Rp736 triliun dalam lima tahun ke depan.

Beberapa proyek investasi besar yang tengah berjalan pada saat ini diharapkan akan mendorong tercapainya target itu.

"Proyek investasi besar tersebut di antaranya adalah kerja sama PT Krakatau Steel (KS) dan Pohang Steel and Iron Corporation (Posco) yang senilai US$6 miliar dan Rp2 triliun untuk pembangunan pabrik PT Holcim Indonesia Tbk. Saya melihat dari beberapa proyek besar pada saat ini, nilai investasi itu bisa tercapai," ujar Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Anshari Bukhari di sela-sela acara Forum Wartawan Industri di Anyer, Banten, Minggu (27/2).

Dari target investasi tersebut diharapkan dalam lima tahun terserap tenaga kerja hingga 3,2 juta orang.

"Sedangkan, tahun ini, target investasi manufaktur sekitar Rp120 triliun dengan penyerapan tenaga kerja ditargetkan bisa mencapai 400.000 orang," ujarnya.

Ia mencontohkan, penyerapan tenaga kerja seiring dengan bertambahnya investasi tercermin dari adanya relokasi pabrik sepatu dari China ke dalam negeri.

"Satu pabrik alas kaki bisa menyerap tenaga kerja sebanyak 6.000-10.000 orang. Apalagi ada rencana pembangunan 22 pabrik alas kaki, sehingga bisa sangat signifikan bila satu pabrik butuh 2.000-4.000 tenaga kerja terampil. Nah, kami optimistis target 3,2 juta tenaga kerja bisa tercapai kalau program padat karya direalisasikan," ujar Anshari.

Sementara itu, menurut Anshari, enam program utama koridor ekonomi juga akan mendorong realisasi target investasi tersebut.

Keenam koridor itu terdiri atas koridor Sumatera Utara yang fokus di sektor pertanian dan energi, koridor Jawa yang fokus di sektor jasa, koridor Kalimantan di sektor yang berbasis sumber daya alam (SDA) yang nantinya akan digunakan untuk industri besi baja, koridor Nusa Tenggara Barat dan Bali di sektor pariwisata, koridor Sulawesi di sektor kelautan dan perikanan, serta koridor Papua.

"Dari enam koridor ekonomi, ada 20 program dan 13 kelompok industri, sehingga 70% sangat tergantung sektor industri," ucap Anshari. 

Sebanyak 13 sektor kelompok industri tersebut,diantaranya termasuk pengembangan industri sawit, karet, batu bara, nikel, tembaga, minyak dan gas, tekstil, mesin dan peralatan komunikasi, perkapalan, baja, aluminium, dan telematika. 

"Konsep pengembangan koridor ekonomi akan bisa menyelesaikan masalah infrastruktur, bahan baku, pemerataan pertumbuhan industri. Ini bagian dari upaya mempercepat pertumbuhan industri lebih tinggi lagi di masa-masa yang akan datang. Bagaimana konsep ini bisa diimplementasikan itu sangat menentukan. Bagaimana konsep pengembangan koridor ekonomi ini dikaitkan dengan pengembangan klaster," jelas Ashari. (Jaz/Ol-11)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar