Senin, 31 Januari 2011

Transaksi Bursa Semakin Volatil

Pasar Modal
JAKARTA – Kinerja bursa saham domestik pada perdagangan awal tahun ini terkoreksi cukup dalam setelah pada dua tahun terakhir bertumbuh signifikan. Melambungnya laju inflasi, terbatasnya likuiditas dana global, serta mulai bangkitnya pertumbuhan ekonomi di negara-negara maju mampu meredam keperkasaan pasar saham di Indonesia. Di sisi lain, potensi pertumbuhan ekonomi yang di atas 6 persen belum mampu membuat investor yakin dan bertahan di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Pemodal bahkan belum tergiur dengan iming-iming tingkat pengembalian (return) investasi pasar modal Tanah Air yang berkisar 20 sampai 30 persen. Hal itu terlihat dari masifnyadana asing yang keluar dari pasar domestik, yang dalam sebulan pertama tahun ini telah mencapai 3,83 triliun rupiah. Fe nomena tersebut sempat mem buat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok ke level terendahnya sejak empat bulan terakhir, yakni 3.379,54 poin (22/1), sebelum akhirnya sedikit bangkit dan ditutup pada level 3.400.

Tingginya volatilitas bursa saham domestik ini tidak seperti yang diekspektasikan banyak kalangan. “Adanya koreksi memang wajar, apalagi pasar kita telah bertumbuh sangat tinggi. Namun ketika hampir menyentuh angka 10 persen, tidak dimungkiri sempat membuat kalangan investor dan pelaku pasar khawatir,” ungkap Nico Omer Jonckheere, Vice President Valbury Asia Securities, di Jakarta, Jumat (28/1).

Minim Emisi

Belum adanya sentimen positif dan masih minimnya penawaran emisi efek baru juga ditengarai menjadi penyebab investor belum mau kembali masuk ke pasar. Sepanjang satu bulan pertama ini, IHSG sudah melorot 5,82 persen dari posisi akhir 2010, yakni 3.703. Namun, bukan berarti Indonesia menjadi satu-satunya negara yang pasar modalnya anjlok. Hal ini juga menimpa beberapa negara berkembang (emerging market) lainnya, seperti India, Thailand, dan Filipina.

“Karena di emerging market ada infl asi, sementara di negara maju pertumbuhan ekonominya mulai menanjak, tak heran jika ada sebagian investor yang mengalihkan sebagian portofolio investasinya ke sana,” papar Satrio Utomo, analis Universal Broker, di Jakarta, Jumat (28/1). Fenomena itu terlihat dari keluarnya beberapa fund manager asing, yang kemudian diikuti oleh sebagian investor domestik.

Meski begitu, tren ini tidak serta-merta membawa pengaruh signifikan terhadap kondisi pasar saham Indonesia secara keseluruhan. ”Buktinya belum ada yang melakukan penundaan atau bahkan pembatalan penawaran umum saham perdana. Itu artinya kan tidak ada masalah,” ujar Ito Warsito, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, di Jakarta.
ayi/E-1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar