Selasa, 25 Januari 2011

Tekanan Asing Belum Akan Berhenti

Pasar Saham
JAKARTA – Kalangan analis memperkirakan tekanan aksi jual oleh investor asing diperkirakan masih akan berlanjut dalam beberapa pekan mendatang. Hal itu dipicu sentimen inflasi terkait belum adanya kepastian tindakan bank sentral meredam gejolak inflasi. Tren ini tidak hanya terjadi di pasar domestik, melainkan juga di pasar regional. Hal itu disebabkan bursa regional dan domestik sudah menguat signifi kan sehingga menjadi sasaran aksi ambil untung. ”Indeks Dow Jones di AS menguat akhir pekan lalu, dan kenaikan bursa di Asia pagi ini mungkin memberikan sentimen positif.

Namun, saya masih melihat sejumlah tekanan aksi jual oleh investor asing bakal berlanjut,” kata analis senior Far East Securities, Parin Kitchaotornpitak, di Bangkok, Thailand, Senin (24/1). Kekhawatiran terkait kenaikan inflasi memicu investor melakukan aksi ambil untung di sejumlah bursa di Asia setelah mencatat reli pada tahun lalu. Meski demikian, bursa Asia tetap lebih menarik dibanding kawasan lain.

Pekan lalu, bursa Asia mencatat kinerja mingguan paling buruk ke level terendah dalam dua bulan terakhir meski hanya melemah sekitar satu persen dalam bulan ini. Sebaliknya, indeks Dow Jones justru naik 2,5 persen. Di bursa Indonesia, investor asing kembali melanjutkan penarikan dananya pada perdagangan awal pekan ini. Kemarin, tercatat nilai jual bersih asing mencapai 249,45 miliar rupiah dari total nilai jual 1,75 triliun rupiah. Meski demikian, diperkirakan penarikan dana asing ini hanya sementara.

Investor asing saat ini cenderung memilih menunggu (wait and see) upaya pemerintah, termasuk bank sentral, untuk meredam gejolak infl asi ini. Tiga Sektor Mastono Ali, Research Assosiate CIMB Securities, memperkirakan ada tiga sektor yang akan diserbu asing ketika danadana mereka kembali masuk ke pasar domestik. Ketiga sektor tersebut ialah komoditas tambang batu bara dan perkebunan, barang-barang konsumsi, dan konstruksi. “Di China dan India, kebutuhan akan batu bara terus meningkat, sementara jumlah produksi dunia kian terbatas.

Indonesia sebagai salah satu produsen batu bara terbesar di dunia tentunya akan sangat diuntungkan,” jelasnya. Pertumbuhan di sektor barang- barang konsumsi masih didukung oleh tingkat konsumsi domestik yang besar. Fenomena tersebut terlihat dari survei Credit Suisse dan AC Nielsen bahwa 29 persen penghasilan rumah tangga di Indonesia digunakan untuk kebutuhan makanan. “Itu membuktikan jika tekanan inflasi sebenarnya tidak membawa pengaruh yang signifi kan terhadap daya beli masyarakat Indonesia.

Karena jika nilai inflasinya masih di bawah 10 persen, logikanya belum akan memengaruhi permintaan,” jelas Teddy Oetomo, Vice President Equity Research Credit Suisse. Ekonom Senior Deutsche Bank Global Market Research Taimur Baig mengatakan potensi pertumbuhan infrastruktur dan properti di Indonesia masih sangat besar dan jauh melebihi China dan India yang sepertinya sudah mulai mengalami kejenuhan (bubble).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar