Kamis, 27 Januari 2011

Sinyal Kuat Minat Investor Jangka Panjang

Pasar Obligasi

JAKARTA – Meski diakui terjadi kenaikan risiko pasar jangka pendek akibat ancaman inflasi, animo investor untuk berinvestasi di pasar obligasi domestik tetap tinggi. Di tengah tren gelombang penarikan dana asing pada dua pekan lalu, ada sinyal kuat bahwa minat investor, khususnya asing, masih tinggi untuk jangka panjang. Hal itu terlihat dari hasil lelang surat utang negara (SUN) pada Selasa (25/1). Permintaan investor mengalami kelebihan hingga tiga kali lipat dari target awal.

Jumlah permintaan dalam lelang tersebut mencapai 17,65 triliun rupiah dibanding target awal pemerintah sebesar 5 triliun rupiah. “Investor yang tahu kondisi fondasi ekonomi kita yang kuat memang masih tinggi minatnya. Mereka masih optimistis bahwa inflasi tinggi diyakini tidak akan mengganggu fondasi ekonomi dalam jangka panjang,” kata ekonom yang juga Direktur Danareksa Research Institute, Purbaya Yudhi Sadewa, di Jakarta, Rabu (26/1). Dalam lelang obligasi pemerintah tersebut, permintaan kalangan investor memang lebih terkosentrasi pada SUN berjangka panjang.

Dengan ekspektasi fluktuasi suku bunga yang relatif stabil dalam jangka panjang, tingkat imbal hasil obligasi domestik bertenor 20 tahun tersebut lebih menarik. “Pelaku pasar melihat dalam tenor panjang, fluktuasi tingkat suku bunga tak terlalu besar, makanya yang 20 tahun lebih banyak diminati dibanding yang jangka pendek,” jelas Presiden Direktur Penilai Harga Efek Indonesia Ignatius Girendroheru, Selasa (25/1).

Nilai penawaran yang masuk untuk SUN seri FR0054 bertenor 20,48 tahun mencapai 8,02 triliun rupiah atau dua kali lipat dari nilai yang diserap sebesar 4,25 triliun rupiah. Untuk SUN seri FR0053 bertenor 10 tahun permintaannya mencapai 3,67 triliun rupiah, padahal pemerintah hanya menyerap sebesar 850 miliar rupiah. Tingkat Imbal Hasil Selain dipicu faktor risiko, minat investor yang tinggi di pasar perdana saat lelang tersebut juga disebabkan kejatuhan harga obligasi di pasar sekunder sehingga dengan naiknya tingkat yield atau imbal hasil, investor memburu SUN di pasar perdana.

Dalam lelang itu, pemerintah menetapkan tingkat imbal hasil yang rendah dari permintaan pasar. Untuk SUN seri FR0053, pemerintah mematok imbal hasil sebesar 8,99 persen dari permintaan yang masuk sekitar 8,91 persen – 9,56 persen. Untuk SUN seri seri FR0056, pemerintah menetapkan imbal hasil sebesr 9,79 persen dibanding penawaran yang masuk sekitar 9,75 persen – 10,62 persen.

Namun, diakui bahwa posisi imbal hasil tersebut tetap lebih tinggi dibanding posisi imbal hasil akhir pekan lalu khususnya yang tenor pendek. Hal ini seiring dengan berkurangnya likuiditas dana global ke pasar domestik. Hal ini terlihat dari tren kenaikan tingkat imbal hasil di pasar obligasi Indonesia. Jika pada tahun lalu berada pada level 7,65 persen, pada tahun ini diprediksikan tingkat imbal hasil rata-rata bisa mencapai 8,5 persen sampai 8,7 persen. Tren itu sudah mulai terlihat sejak awal Januari 2011.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar