Perdagangan Efek , BEI Masih Memproses Pemeriksaan UMA
JAKARTA – Bursa Efek Indonesia (BEI) selaku otoritas bursa mendesak perusahaan tercatat (emiten) untuk meningkatkan jumlah saham publik nya. Hal ini dilakukan agar harga saham perseroan bisa menjadi lebih likuid sehingga dapat meminimalisasi peningkatan harga saham secara tiba-tiba atas efek tersebut. Selain dapat mencegah adanya permainan dari spekulan, langkah ini dinilai baik bagi perkembangan bursa saham domestik ke depan. Sebab, peningkatan jumlah saham beredar (floating share) otomatis dapat membuka peluang akan terjadinya nilai transaksi yang lebih besar.
“Pasar menjadi lebih sehat, dan perdagangan saham di bursa pun akan menjadi lebih semarak. Oleh karena itu, saya rasa hal ini perlu dipertimbangkan lebih lanjut,” ungkap Satrio Utomo, analis Universal Broker, di Jakarta, Jumat (28/1). Menanggapi hal tersebut, Direktur Utama BEI Ito Warsito pernah mengatakan pihaknya memang ingin menggenjot jumlah penawaran emisi efek di bursa domestik. Di samping untuk menjaga tingkat pertumbuhan pasar modal yang sudah bagus, langkah ini juga dilakukan untuk memperbesar kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia.
“Caranya kita akan mendor-ong perusahaan-perusahaan nasional untuk mencatatkan sahamnya di bursa. Selain itu, kita juga mengimbau kepada emiten untuk meningkatkan jumlah kepemilikan saham publiknya dengan cara melakukan penawaran saham terbatas (rights issue),” jelasnya. Terkendala IHSG Namun, rencana ini mendapat tantangan dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang semakin fluktuatif. Hal ini terpaksa membuat beberapa perusahaan untuk menahan diri dalam merealisasikan aksi korporasinya. Seperti diketahui, wacana peningkatan jumlah saham beredar muncul setelah maraknya peningkatan harga saham yang dinilai tidak wajar.
Sejak awal 2011, tercatat sudah ada enam saham dan dua waran yang pergerakannya di luar periode kebiasaan. Jumlah tersebut meningkat dibanding Januari 2010, yang hanya melibatkan tiga saham dan satu waran. Sedangkan total saham dan waran yang diberhentikan sementara perdagangannnya (suspensi) sepanjang Januari 2011, sudah mencapai delapan efek, dengan rincian enam saham dan dua waran, atau naik dibanding posisi Januari tahun lalu yang hanya satu saham dan satu waran.
Hingga kini, BEI masih terus melakukan pemeriksaan terhadap lima emiten yang diberhentikan perdagangan sahamnya, yakni Pudjiaji & Sons Tbk, Siwani Makmur Tbk, Amstelco Indonesia Tbk, Dian Swastatika Sentosa Tbk, dan saham Eratex Djaja Tbk. Jumlah saham beredar dua dari lima emiten yang masih dikenai suspensi tersebut tercatat kurang dari 15 persen. Saham Pudjiaji & Sons misalnya, hanya sebesar 129,72 juta lembar lembar atau setara 12,86 persen.
Sementara publik milik Amstelco Indonesia sebanyak 6,26 juta lembar saham atau senilai 13,05 persen. Sedangkan jumlah saham yang beredar di publik bagi ketiga emiten lainnya, sudah di atas 20 persen, yaitu Dian Swastatika Sentosa berjumlah 309 juta lembar saham (40,1 persen), Eratex Dajaja sebesar 41,07 juta lembar saham (41,81 persen), dan Siwani Makmur senilai 32 juta lembar (35,11 persen).
ayi/E-1
JAKARTA – Bursa Efek Indonesia (BEI) selaku otoritas bursa mendesak perusahaan tercatat (emiten) untuk meningkatkan jumlah saham publik nya. Hal ini dilakukan agar harga saham perseroan bisa menjadi lebih likuid sehingga dapat meminimalisasi peningkatan harga saham secara tiba-tiba atas efek tersebut. Selain dapat mencegah adanya permainan dari spekulan, langkah ini dinilai baik bagi perkembangan bursa saham domestik ke depan. Sebab, peningkatan jumlah saham beredar (floating share) otomatis dapat membuka peluang akan terjadinya nilai transaksi yang lebih besar.
“Pasar menjadi lebih sehat, dan perdagangan saham di bursa pun akan menjadi lebih semarak. Oleh karena itu, saya rasa hal ini perlu dipertimbangkan lebih lanjut,” ungkap Satrio Utomo, analis Universal Broker, di Jakarta, Jumat (28/1). Menanggapi hal tersebut, Direktur Utama BEI Ito Warsito pernah mengatakan pihaknya memang ingin menggenjot jumlah penawaran emisi efek di bursa domestik. Di samping untuk menjaga tingkat pertumbuhan pasar modal yang sudah bagus, langkah ini juga dilakukan untuk memperbesar kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia.
“Caranya kita akan mendor-ong perusahaan-perusahaan nasional untuk mencatatkan sahamnya di bursa. Selain itu, kita juga mengimbau kepada emiten untuk meningkatkan jumlah kepemilikan saham publiknya dengan cara melakukan penawaran saham terbatas (rights issue),” jelasnya. Terkendala IHSG Namun, rencana ini mendapat tantangan dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang semakin fluktuatif. Hal ini terpaksa membuat beberapa perusahaan untuk menahan diri dalam merealisasikan aksi korporasinya. Seperti diketahui, wacana peningkatan jumlah saham beredar muncul setelah maraknya peningkatan harga saham yang dinilai tidak wajar.
Sejak awal 2011, tercatat sudah ada enam saham dan dua waran yang pergerakannya di luar periode kebiasaan. Jumlah tersebut meningkat dibanding Januari 2010, yang hanya melibatkan tiga saham dan satu waran. Sedangkan total saham dan waran yang diberhentikan sementara perdagangannnya (suspensi) sepanjang Januari 2011, sudah mencapai delapan efek, dengan rincian enam saham dan dua waran, atau naik dibanding posisi Januari tahun lalu yang hanya satu saham dan satu waran.
Hingga kini, BEI masih terus melakukan pemeriksaan terhadap lima emiten yang diberhentikan perdagangan sahamnya, yakni Pudjiaji & Sons Tbk, Siwani Makmur Tbk, Amstelco Indonesia Tbk, Dian Swastatika Sentosa Tbk, dan saham Eratex Djaja Tbk. Jumlah saham beredar dua dari lima emiten yang masih dikenai suspensi tersebut tercatat kurang dari 15 persen. Saham Pudjiaji & Sons misalnya, hanya sebesar 129,72 juta lembar lembar atau setara 12,86 persen.
Sementara publik milik Amstelco Indonesia sebanyak 6,26 juta lembar saham atau senilai 13,05 persen. Sedangkan jumlah saham yang beredar di publik bagi ketiga emiten lainnya, sudah di atas 20 persen, yaitu Dian Swastatika Sentosa berjumlah 309 juta lembar saham (40,1 persen), Eratex Dajaja sebesar 41,07 juta lembar saham (41,81 persen), dan Siwani Makmur senilai 32 juta lembar (35,11 persen).
ayi/E-1
Tidak ada komentar:
Posting Komentar