Sabtu, 29 Januari 2011

RI yakin China terhindar dari krisis

JAKARTA: Pemerintah meyakini kondisi perekonomian dalam negeri cukup kuat untuk menghadapi kemungkinan terjadinya krisis keuangan di China dalam kurun waktu 5 tahun mendatang.


Sekretaris Menteri PPN/ Sekretaris Utama Kepala Bappenas Syahrial Loetan mengatakan selama ini market share Indonesia di bidang ekspor dengan China tidak terlalu besar sehingga bila China mengalami resesi ekonomi maka kecil dampaknya terhadap Indonesia.
"Waktu Amerika jatuh, kita tidak terlalu terpengaruh. Makanya jangan tergantung pada satu negara," katanya di Jakarta hari ini.
Bahkan menurutnya, kejatuhan ekonomi China bisa menjadi momentum baik bagi pengusaha lokal untuk merebut kembali pasar di dalam negeri yang selama ini dikuasai oleh produk-produk impor asal China.
Lebih lanjut Syahrial mengungkapkan pemerintah akan terus mendorong diversifikasi pasar baru ekspor untuk meminimalisir dampak bila salah satu negara tujuan ekspor mengalami krisis ekonomi. "Jangan menyepelekan negara-negara kecil seperti Timur Tengah dan Afrika Selatan," ujarnya.
Di luar itu, sambung dia, pemerintah akan memperkuat ekonomi dalam negeri dengan menjaga kebijakan ketahanan pangan dan ketahanan energi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. "Kita akan telaah supaya angka subsidi terkontrol dan industri tetap hidup," tuturnya.
Berdasarkan hasil jajak pendapat Selzer & Co terhadap 1.000 pelanggan Bloomberg, yang terdiri dari investor, trader saham dan analisis, 45% dari mereka meyakini China akan memasuki krisis keuangan dalam kurun waktu lima 5 tahun mendatang.
Sebanyak 40% dari responden memprediksi krisis Negeri Panda tersebut akan terjadi setelah 2016. Hanya 7% dari total responden yang percaya negara pemilik cadangan devisa terbesar di dunia itu akan mampu keluar dari krisis. (api)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar