Bukan rematik biasa.
Tulang Anda sering ngilu? Nyeri, bengkak, kaku, atau terasa hangat di bagian persendian. Bisa jadi Anda menderita rematik.
Hati-hatilah, karena rematik dapat mengganggu kinerja organ-organ tubuh, pembuluh darah, bahkan sistem kekebalan tubuh.
Sehingga bukan tidak mungkin bila rematik dalam tempo tertentu dapat merembet dan menyerang fungsi organ tubuh vital yang lain.
Salah satunya adalah radang sendi atau artritis reumatoid (AR) yang dapat berpotensi menyebabkan gangguan jantung. Namun perlu diperhatikan, tidak semua rematik adalah AR. Karena rematik sendiri punya lebih kurang 100 jenis dan AR adalah salah satu jenisnya.
AR adalah penyakit autoimun progresif yang ditandai dengan peradangan membran persendian. Autoimun merupakan gangguan pada sistem imun yang menyebabkan kekebalan tubuh justru menyerang jaringan tubuh sendiri.
Peradangan ini menyebabkan menurunkan fungsi dan penyempitan pembuluh darah yang disertai nyeri, kaku-pembengkakan, dan akhirnya merusak sendi yang dapat menyebabkan cacat bila tidak diobati.
Sendi yang terjangkit biasanya sendi kecil seperti tangan dan kaki secara simetris (kanan dan kiri) mengalami peradangan sehingga bengkak, nyeri, dan kemudian cacat permanen.
Kerusakan sendi sudah mulai terjadi pada 6 bulan pertama sejak penyakit ini menyerang dan cacat bisa terjadi setelah 2-3 tahun penyakit ini tidak diobati.
Untuk mendeteksi potensi itu dapat dilihat dari kadar C-Reactive Protein (CRP) yang merupakan penanda peradangan dan merupa kan faktor prediksi penyakit kardiovaskular.
Di sisi lain, penderita AR juga mengalami gangguan lipid yang ditandai dengan peningkatan Trigliserida, penurunan HDL, dan peningkatan LDL.
Kedua kondisi tersebutlah yang kemudian memicu gangguan jantung. Sedangkan gang guan kardiovaskular yang dimaksud dapat berupa jantung koroner dan perikarditis.
“Penderita AR berisiko terkena penyakit jantung, 1,6 kali lebih tinggi dibanding orang sehat,” ungkap dr Laniyati Hamijoyo SpPD-KR. M.Kes dari Sub Bagian Reumatologi Ilmu Penyakit Dalam Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung.
Studi terbaru, tambah Laniyati, menunjukkan bahwa 27 persen pasien AR menunjukkan gejala klinis gangguan kardiovaskular.
Dianggap Sepele Di Indonesia, prevalensi AR hanya 0,1-03 persen di kelompok orang dewasa dan 1:100 ribu jiwa di kelompok anak-anak. Total, diperkirakan hanya terdapat 360 ribu pasien di Indonesia.
“Walau prevalensi rendah, penyakit ini sangat progresif dan paling sering menyebabkan cacat,” ujar Prof DR Dr Harry Isbagio, SpPD-KR, Guru Besar Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Meski demikian bukan berarti angka penderita itu tidak bisa menggemuk nantinya. Pasalnya, banyak masyarakat Indonesia yang menyepelekan rematik. Bahkan mereka kerap pukul rata kalau nyeri tulang itu pasti rematik, bukan AR.
Mengapa hal itu bisa terjadi? Kata pakar reumatologi ini, hal itu terjadi karena banyak penderita rematik terlambat memeriksakan diri.
Selain itu, mereka hanya menganggap ini adalah radang sendi biasa. atau bisa juga karena diagnosis yang tidak tepat. Padahal komplikasi AR ini juga bukan hanya mengancam kesehatan jantung.
Selain itu, diketahui bahwa 70 persen penderita AR mengalami infeksi, risiko osteoporosis lebih tinggi, dan risiko kanker getah bening 25 kali lebih besar. Terapi Lalu bagaimana dengan pengobatannya. Dua jenis terapi AR.
Pertama, mengurangi rasa sakit dan pembengkakan pada sendi, misalnya dengan obat Anti Infl amasi Non Steroid (OAINS) dan kortikosteroid dosis rendah.
Kedua, memperlambat atau mencegah progresivitas penyakit, dengan cara DMARDs (Disease Modifying Arthritis Rheumatoid Drug), DMARDs tradisional (contoh Methotrexate), dan DMARDs Biologis (contoh TNF Inhibitor, Rituximab, Tocilizumab).
Selain itu juga dapat dilakukan terapi tunggal dengan menggunakan tocilizumab. (penghambat antibodi monoclonal IL-6 atau menghambat proses peradangan tubuh pada penderita AR). Terapi tunggal itu juga dapat dikombinasi dengan methotrexate atau DMARDs lainnya.
Tocilizumab juga berefek samping yang tidak serius, misalnya berupa infeksi saluran pernapasan bagian atas, nasofaringitis, sakit kepada, dan hipertensi.
Sedangkan obat anti reumatik biologis lain (DMARDs) dapat menyebabkan infeksi yang serius dan reaksi hipersensitif termasuk beberapa kasus anaphylaxis, bahkan kerusakan hati.
Selain itu, bagi mereka yang menderita AR, khususnya yang telah 10 tahun mengalaminya, perlu diterapi dengan cara yang sama dengan penderita gangguan jantung.
Di antaranya pengendalian kadar kolesterol, penggunaan kortikosteroid dengan dosis efektif yang serendah mungkin, dan diminta untuk berhenti merokok.
Di samping itu juga ditambah dengan aktivitas pendukung lainnya, seperti melakukan diet, olahraga teratur (minimal 30 menit sehari), penurunan berat badan, dan mengendalikan tekanan darah.
Namun kata Harry, Terapi tidak dapat memperbaiki kerusakan yang telah terjadi atau menyembuhkan penyakitnya. Meski pengobatan dini terbukti menentukan keberhasilan terapi. Sedangkan pengobatan yang agresif dapat memperbaiki fungsi sendi, mencegah cacat.
nala dipa
Tulang Anda sering ngilu? Nyeri, bengkak, kaku, atau terasa hangat di bagian persendian. Bisa jadi Anda menderita rematik.
Hati-hatilah, karena rematik dapat mengganggu kinerja organ-organ tubuh, pembuluh darah, bahkan sistem kekebalan tubuh.
Sehingga bukan tidak mungkin bila rematik dalam tempo tertentu dapat merembet dan menyerang fungsi organ tubuh vital yang lain.
Salah satunya adalah radang sendi atau artritis reumatoid (AR) yang dapat berpotensi menyebabkan gangguan jantung. Namun perlu diperhatikan, tidak semua rematik adalah AR. Karena rematik sendiri punya lebih kurang 100 jenis dan AR adalah salah satu jenisnya.
AR adalah penyakit autoimun progresif yang ditandai dengan peradangan membran persendian. Autoimun merupakan gangguan pada sistem imun yang menyebabkan kekebalan tubuh justru menyerang jaringan tubuh sendiri.
Peradangan ini menyebabkan menurunkan fungsi dan penyempitan pembuluh darah yang disertai nyeri, kaku-pembengkakan, dan akhirnya merusak sendi yang dapat menyebabkan cacat bila tidak diobati.
Sendi yang terjangkit biasanya sendi kecil seperti tangan dan kaki secara simetris (kanan dan kiri) mengalami peradangan sehingga bengkak, nyeri, dan kemudian cacat permanen.
Kerusakan sendi sudah mulai terjadi pada 6 bulan pertama sejak penyakit ini menyerang dan cacat bisa terjadi setelah 2-3 tahun penyakit ini tidak diobati.
Untuk mendeteksi potensi itu dapat dilihat dari kadar C-Reactive Protein (CRP) yang merupakan penanda peradangan dan merupa kan faktor prediksi penyakit kardiovaskular.
Di sisi lain, penderita AR juga mengalami gangguan lipid yang ditandai dengan peningkatan Trigliserida, penurunan HDL, dan peningkatan LDL.
Kedua kondisi tersebutlah yang kemudian memicu gangguan jantung. Sedangkan gang guan kardiovaskular yang dimaksud dapat berupa jantung koroner dan perikarditis.
“Penderita AR berisiko terkena penyakit jantung, 1,6 kali lebih tinggi dibanding orang sehat,” ungkap dr Laniyati Hamijoyo SpPD-KR. M.Kes dari Sub Bagian Reumatologi Ilmu Penyakit Dalam Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung.
Studi terbaru, tambah Laniyati, menunjukkan bahwa 27 persen pasien AR menunjukkan gejala klinis gangguan kardiovaskular.
Dianggap Sepele Di Indonesia, prevalensi AR hanya 0,1-03 persen di kelompok orang dewasa dan 1:100 ribu jiwa di kelompok anak-anak. Total, diperkirakan hanya terdapat 360 ribu pasien di Indonesia.
“Walau prevalensi rendah, penyakit ini sangat progresif dan paling sering menyebabkan cacat,” ujar Prof DR Dr Harry Isbagio, SpPD-KR, Guru Besar Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Meski demikian bukan berarti angka penderita itu tidak bisa menggemuk nantinya. Pasalnya, banyak masyarakat Indonesia yang menyepelekan rematik. Bahkan mereka kerap pukul rata kalau nyeri tulang itu pasti rematik, bukan AR.
Mengapa hal itu bisa terjadi? Kata pakar reumatologi ini, hal itu terjadi karena banyak penderita rematik terlambat memeriksakan diri.
Selain itu, mereka hanya menganggap ini adalah radang sendi biasa. atau bisa juga karena diagnosis yang tidak tepat. Padahal komplikasi AR ini juga bukan hanya mengancam kesehatan jantung.
Selain itu, diketahui bahwa 70 persen penderita AR mengalami infeksi, risiko osteoporosis lebih tinggi, dan risiko kanker getah bening 25 kali lebih besar. Terapi Lalu bagaimana dengan pengobatannya. Dua jenis terapi AR.
Pertama, mengurangi rasa sakit dan pembengkakan pada sendi, misalnya dengan obat Anti Infl amasi Non Steroid (OAINS) dan kortikosteroid dosis rendah.
Kedua, memperlambat atau mencegah progresivitas penyakit, dengan cara DMARDs (Disease Modifying Arthritis Rheumatoid Drug), DMARDs tradisional (contoh Methotrexate), dan DMARDs Biologis (contoh TNF Inhibitor, Rituximab, Tocilizumab).
Selain itu juga dapat dilakukan terapi tunggal dengan menggunakan tocilizumab. (penghambat antibodi monoclonal IL-6 atau menghambat proses peradangan tubuh pada penderita AR). Terapi tunggal itu juga dapat dikombinasi dengan methotrexate atau DMARDs lainnya.
Tocilizumab juga berefek samping yang tidak serius, misalnya berupa infeksi saluran pernapasan bagian atas, nasofaringitis, sakit kepada, dan hipertensi.
Sedangkan obat anti reumatik biologis lain (DMARDs) dapat menyebabkan infeksi yang serius dan reaksi hipersensitif termasuk beberapa kasus anaphylaxis, bahkan kerusakan hati.
Selain itu, bagi mereka yang menderita AR, khususnya yang telah 10 tahun mengalaminya, perlu diterapi dengan cara yang sama dengan penderita gangguan jantung.
Di antaranya pengendalian kadar kolesterol, penggunaan kortikosteroid dengan dosis efektif yang serendah mungkin, dan diminta untuk berhenti merokok.
Di samping itu juga ditambah dengan aktivitas pendukung lainnya, seperti melakukan diet, olahraga teratur (minimal 30 menit sehari), penurunan berat badan, dan mengendalikan tekanan darah.
Namun kata Harry, Terapi tidak dapat memperbaiki kerusakan yang telah terjadi atau menyembuhkan penyakitnya. Meski pengobatan dini terbukti menentukan keberhasilan terapi. Sedangkan pengobatan yang agresif dapat memperbaiki fungsi sendi, mencegah cacat.
nala dipa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar