PERUBAHAN iklim di bumi bukan lagi hanya pebincangan yang dilakukan untuk sekedar menakut-nakuti manusia, karena kehadiran serta dampaknya sudah semakin dirasakan.
Gejala bahwa bumi semakin panas dan cuaca tidak menentu sehingga sulit bagi para petani untuk bersahabat dengannya adalah sedikit bukti. Kejadian ini adalah sebuah dampak kecil dari perubahan iklim. Jika keadaan ini terus berlanjut, maka diperkirakan suhu bumi yang naik dapat menyebabkan melelehnya bongkahan dan gunung es di kutub dan meningkatnya permukaan laut. Suhu air laut berubah dan memengaruhi arus angin menjadi topan angin kencang. Hal ini memukul mundur pantai pesisir dan ‘memakan’ serta menenggelamkan pulau.
Pemuda sebagai tumpuan bangsa memiliki potensi yang begitu besar untuk menangani permasalahan ini. Sedikitnya terdapat 3 hal yang dapat dilakukan oleh pemuda untuk berespon terhadap permasalahan global ini, yaitu karya nyata langsung, pengembangan riset dan pengontrolan kebijakan.
Poin pertama yaitu karya nyata langsung. Usaha ini dapat meliputi keterlibatan pemuda dalam program penghijauan dan sebagai motivator masyarakat dalam menyelamatkan tanah ini. Pemuda memiliki posisi yang sangat strategis dalam hal ini karena memiliki semangat dan idealisme yang tinggi serta dekat dengan masyarakat. Solusi ini merupakan solusi yang utama. Karena kunci pemecahan masalah ini adalah sebuah tindakan nyata yang dilakukan oleh setiap orang di bumi, bukan sederet wacana yang tidak direalisasikan.
Fenomena perubahan iklim disebabkan oleh fenomena gas rumah kaca yang membentuk semacam “selimut†yang membalut bumi sehingga sinar matahari yang masuk dan menghangatkan bumi dihalangi untuk kembali ke angkasa. Gas rumah kaca banyak dihasilkan dari pembakaran fossil fuel, yaitu terdiri dari minyak bumi, batu bara, dan gas alam, untuk energi bagi transportasi, industri, dan rumah tangga.
Perubahan iklim hadir disertai fenomena kemiskinan dan peningkatan jumlah manusia sehingga menuntut maraknya perindustrian, peningkatan sarana transportasi dan tempat tinggal. Hal ini merupakan sebuah dilema yang menuntut inovasi dalam bidang sumber daya energi dan manajemen limbah. Di sinilah pemuda dapat mengambil perannya melalui ilmu yang ditimbanya. Sistem energi berbasis fossil fuel yang diandalkan sekarang harus diubah ke arah pengembangan energi terbarukan, seperti sel surya, hidrogen, angin, gelombang, panas bumi, mikro-hidro, biomassa, dan tenaga kinetika alami yang memungkinkan desentralisasi pembangkitan dan penggunaan energi dengan sistem pengadaan yang lebih cepat dan murah, serta bersih produknya.
Berbagai konferensi tingkat nasional dan dunia telah dilakukan dalam rangka melindungi bumi dari perubahan iklim. Namun kenyataannya, kebijakan yang diambil oleh beberapa negara masih menunjukkan bahwa keegoisan masih menghalangi niat baik mereka untuk memelihara bumi. Hal ini lagi-lagi diakibatkan oleh kebutuhan akan negara-negara tersebut terhadap perindustrian.
Kenyataan ini menunjukkan bahwa manusia baru sampai pada tahap pembangunan yang hanya berlandaskan pada kepentingan negaranya, tanpa memedulikan lagi dampak buruknya pada satu-satunya tempat yang dapat dipijak dan menjadi tempat kehidupannya berlangsung. Dalam hal ini, pemuda dapat menjalankan fungsinya melalui intervensi-intervensi sehat dan solutif yang dapat diberikan kepada pemerintah negaranya untuk dapat tetap meningkatkan kesejahteraan rakyat namun tidak mengesampingkan penanganan perubahan iklim.
Memelihara bumi bukanlah sebuah mimpi, namun suatu keharusan. Karena itulah, hal ini semestinya menjadi prioritas kita semua, terutama pemuda yang memiliki peranan penting dan amat strategis, serta menjadi tumpuan masa depan bangsa.
Gejala bahwa bumi semakin panas dan cuaca tidak menentu sehingga sulit bagi para petani untuk bersahabat dengannya adalah sedikit bukti. Kejadian ini adalah sebuah dampak kecil dari perubahan iklim. Jika keadaan ini terus berlanjut, maka diperkirakan suhu bumi yang naik dapat menyebabkan melelehnya bongkahan dan gunung es di kutub dan meningkatnya permukaan laut. Suhu air laut berubah dan memengaruhi arus angin menjadi topan angin kencang. Hal ini memukul mundur pantai pesisir dan ‘memakan’ serta menenggelamkan pulau.
Pemuda sebagai tumpuan bangsa memiliki potensi yang begitu besar untuk menangani permasalahan ini. Sedikitnya terdapat 3 hal yang dapat dilakukan oleh pemuda untuk berespon terhadap permasalahan global ini, yaitu karya nyata langsung, pengembangan riset dan pengontrolan kebijakan.
Poin pertama yaitu karya nyata langsung. Usaha ini dapat meliputi keterlibatan pemuda dalam program penghijauan dan sebagai motivator masyarakat dalam menyelamatkan tanah ini. Pemuda memiliki posisi yang sangat strategis dalam hal ini karena memiliki semangat dan idealisme yang tinggi serta dekat dengan masyarakat. Solusi ini merupakan solusi yang utama. Karena kunci pemecahan masalah ini adalah sebuah tindakan nyata yang dilakukan oleh setiap orang di bumi, bukan sederet wacana yang tidak direalisasikan.
Fenomena perubahan iklim disebabkan oleh fenomena gas rumah kaca yang membentuk semacam “selimut†yang membalut bumi sehingga sinar matahari yang masuk dan menghangatkan bumi dihalangi untuk kembali ke angkasa. Gas rumah kaca banyak dihasilkan dari pembakaran fossil fuel, yaitu terdiri dari minyak bumi, batu bara, dan gas alam, untuk energi bagi transportasi, industri, dan rumah tangga.
Perubahan iklim hadir disertai fenomena kemiskinan dan peningkatan jumlah manusia sehingga menuntut maraknya perindustrian, peningkatan sarana transportasi dan tempat tinggal. Hal ini merupakan sebuah dilema yang menuntut inovasi dalam bidang sumber daya energi dan manajemen limbah. Di sinilah pemuda dapat mengambil perannya melalui ilmu yang ditimbanya. Sistem energi berbasis fossil fuel yang diandalkan sekarang harus diubah ke arah pengembangan energi terbarukan, seperti sel surya, hidrogen, angin, gelombang, panas bumi, mikro-hidro, biomassa, dan tenaga kinetika alami yang memungkinkan desentralisasi pembangkitan dan penggunaan energi dengan sistem pengadaan yang lebih cepat dan murah, serta bersih produknya.
Berbagai konferensi tingkat nasional dan dunia telah dilakukan dalam rangka melindungi bumi dari perubahan iklim. Namun kenyataannya, kebijakan yang diambil oleh beberapa negara masih menunjukkan bahwa keegoisan masih menghalangi niat baik mereka untuk memelihara bumi. Hal ini lagi-lagi diakibatkan oleh kebutuhan akan negara-negara tersebut terhadap perindustrian.
Kenyataan ini menunjukkan bahwa manusia baru sampai pada tahap pembangunan yang hanya berlandaskan pada kepentingan negaranya, tanpa memedulikan lagi dampak buruknya pada satu-satunya tempat yang dapat dipijak dan menjadi tempat kehidupannya berlangsung. Dalam hal ini, pemuda dapat menjalankan fungsinya melalui intervensi-intervensi sehat dan solutif yang dapat diberikan kepada pemerintah negaranya untuk dapat tetap meningkatkan kesejahteraan rakyat namun tidak mengesampingkan penanganan perubahan iklim.
Memelihara bumi bukanlah sebuah mimpi, namun suatu keharusan. Karena itulah, hal ini semestinya menjadi prioritas kita semua, terutama pemuda yang memiliki peranan penting dan amat strategis, serta menjadi tumpuan masa depan bangsa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar