Senin, 24 Januari 2011

Penjualan Adhi Karya tak capai target

JAKARTA: Perusahaan konstruksi PT Adhi Karya Tbk memprediksikan perolehan penjualan perseroan tidak mencapai target, meskipun laba perseroan diperkirakan mencapai target awal.

Corporate Secretary Adhi Karya Kunardi Gularso mengakui penjualan perseroan hanya mencapai Rp6,05 triliun pada akhir tahun lalu, atau tidak mencapai target awal perseroan sebesar Rp8,6 triliun. Namun prediksi penurunan penjualan tidak membuat prediksi laba perseroan menurun.

Jika dibandingkan dengan perolehan pendapatan dari penjualan pada 2009, jumlah tersebut turun sekitar 21,53% dari Rp7,71 triliun.

Gagalnya pencapaian target tersebut, lanjutnya, karena kurangnya penyerapan anggaran serta beberapa target raihan kontrak yang tertunda. Namun dia menegaskan hal tersebut tidak hanya terjadi pada perseroan tetapi juga perusahaan konstruksi lainnya.

“Sales kami memang menurun karena penyerapannya bermasalah, ada proyek-proyek seperti proyek jalan tol dan power plant yang bergeser pelaksanaanya. Tapi target laba kami diperkirakan tetap tercapai sebesar Rp185 miliar. Itu karena adanya klaim eksklamasi,” ujarnya akhir pekan lalu.

Adanya pergerseran proyek tersebut, Kunardi mengatakan perseroan menargetkan penjualan naik sekitar 51,23% pada tahun ini menjadi Rp9,15 triliun.

“Tahun ini memang kami targetkan naik drastis untuk penjualan karena adanya proyek-proyek yang bergerser dari tahun lalu ke tahun ini,” jelasnya.

Peningkatan ini, lanjutnya, diharapkan bisa menopang perolehan laba perseroan pada 2011 mencapai Rp203 miliar, atau naik 9,72% dari prognosa perolehan laba pada tahun sebelumnya sebesar Rp185 miliar.

Sementara itu, emiten berkode saham ADHI ini mengalokasikan anggaran belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp78 miliar pada tahun ini. Seluruh dana capex ini bersumber dari dana kas internal.

Kunardi mengatakan sekitar Rp50 miliar dari anggaran capex akan digunakan perseroan untuk berinvestasi dalam Adhi Concrete Pavement System (ACPS). ACPS merupakan inovasi teknologi di bidang precast concrete khususnya untuk proyek jalan tol. Dan sisanya sekitar Rp28 miliar akan digunakan untuk kegiatan perseroan.

Pada tahun ini, lanjutnya, perseroan belum berencana menambah pinjaman perbankan maupun menerbitkan surat utang (obligasi) untuk pendanaan.

“Sales kami cukup tinggi, jadi kami belum ada rencana pinjam ke bank atau pun obligasi. Kami ingin mengontrol pinjaman perbankan yang ada saja dan ingin mempertahankan debt to equity ratio di bawah 1%,” tutupnya. (05)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar