JAKARTA--MICOM: Komisi VII DPR RI yang membidangi energi mendesak pemerintah menggelontorkan subsidi untuk alat konversi (converter) dari bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG) jenis Liquified Gas for Vehicle atau LGV pada angkutan umum. Meskipun mahal, LGV dinilai menjadi alternatif yang lebih terasa manfaatnya untuk jangka panjang.
Hal itu dikemukakan anggota Komisi VII DPR RI Satya W Yudha di sela-sela pembukaan Indogas 2011, Selasa (25/1) di Jakarta.
"Pemerintah bisa subsidi alat konversi untuk angkutan umum. Untuk mobil pribadi, bisa beli sendiri," ujar anggota Fraksi Partai Golkar tersebut.
Lebih lanjut Satya mengatakan, kenaikan harga pertamax secara konstan yang dipicu membubungnya harga minyak dunia membuat banyak konsumen bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi itu beralih mengonsumsi BBM bersubsidi. Ini merupakan suatu hal yang tidak bisa dihindari.
"Kami optimistis untuk peralihan dari BBM ke BBG sangat bisa. Justru yang tidak mau kami dengar adalah rakyat dipaksa untuk membeli pertamax. Kami tidak mau langsung ke arah situ, tetapi bertahap," ujar Satya yang mengenakan jas hitam.
Sebagai catatan, investasi awal penggunaan LGV membutuhkan investasi senilai Rp10 juta untuk pembelian alat konversi. Meskipun demikian, Komisi VII mendukung adanya opsi alternatif untuk menjembatani disparitas harga antara BBM nonsubsidi dan BBM subsidi. (OL-5)
Hal itu dikemukakan anggota Komisi VII DPR RI Satya W Yudha di sela-sela pembukaan Indogas 2011, Selasa (25/1) di Jakarta.
"Pemerintah bisa subsidi alat konversi untuk angkutan umum. Untuk mobil pribadi, bisa beli sendiri," ujar anggota Fraksi Partai Golkar tersebut.
Lebih lanjut Satya mengatakan, kenaikan harga pertamax secara konstan yang dipicu membubungnya harga minyak dunia membuat banyak konsumen bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi itu beralih mengonsumsi BBM bersubsidi. Ini merupakan suatu hal yang tidak bisa dihindari.
"Kami optimistis untuk peralihan dari BBM ke BBG sangat bisa. Justru yang tidak mau kami dengar adalah rakyat dipaksa untuk membeli pertamax. Kami tidak mau langsung ke arah situ, tetapi bertahap," ujar Satya yang mengenakan jas hitam.
Sebagai catatan, investasi awal penggunaan LGV membutuhkan investasi senilai Rp10 juta untuk pembelian alat konversi. Meskipun demikian, Komisi VII mendukung adanya opsi alternatif untuk menjembatani disparitas harga antara BBM nonsubsidi dan BBM subsidi. (OL-5)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar