JAKARTA--MICOM: Rencana pemerintah untuk menerapkan kebijakan pembatasan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi (public service obligation/PSO) diyakini berdampak terhadap orientasi masyarakat untuk membeli kendaraan.
Diperkirakan, penjualan mobil akan turun 7,3% atau hanya mencapai 709.124 unit tahun ini. Angka ini turun drastis jika dibandingkan dengan realisasi penjualan 2010 sebesar 764.710 unit. Pencapaian tahun lalu itu meningkat drastis 58% dibandingkan total penjualan 2009 yang hanya mencapai 486.088 unit.
Kondisi itu berdasarkan skenario pesimistis dengan asumsi pembatasan BBM PSO mulai diberlakukan pada Maret 2011 serta pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) 4,5%. Selain itu, asumsi juga melihat biaya bea balik nama (BBN) di atas 10%-15%, inflasi 7%-9%, suku bunga Bank Indonesia (BI rate) sekitar 9%-10% serta rencana pembatasan jumlah kendaraan oleh pemerintah daerah.
"Karena itu, tahun ini akan terjadi tren kenaikan penjualan kendaraan yang irit bahan bakar dan berukuran kompak (compact car). Ini terutama untuk kalangan konsumen yang sensitif terhadap biaya BBM. Bisa juga terjadi peralihan tren ke kendaraan dengan kapasitas mesin. Kalau produsen jeli, ini saatnya untuk mengembangkan mobil murah," ujar Asia Pacific Vice President, Automitive and Transportation Practice Frost & Sullivan, Vivek Vaidya di Jakarta, Selasa (25/1).
Namun bila menilik pada kondisi ekonomi masyarakat, rencana pembatasan konsumsi BBM PSO berjalan tepat waktu dan hanya mencakup jenis premium saja, BBN di kisaran 10%-15%, inflasi 4%-6% dan BI rate 7%-8% diyakini penjualan mobil akan tumbuh di kisaran 4,3% (797.258 unit). Ini adalah skenario pertumbuhan realistis menurut perusahaan mitra pertumbuhan bisnis ini.
"Sebaliknya, pertumbuhan penjualan mobil di Indonesia bisa mencapai 849.877 unit atau tumbuh 11% bila berbagai asumsi di atas juga turut mendukung. Itu asumsi optimistis misalnya dengan PDB tumbuh 6,5%, inflasi di kisaran 4%, pembatasan BBM PSO ditunda selama setahun, BBN maksimal 10% dan BI rate di kisaran 5%-6% saja," ujarnya. (Jaz/OL-9)
Diperkirakan, penjualan mobil akan turun 7,3% atau hanya mencapai 709.124 unit tahun ini. Angka ini turun drastis jika dibandingkan dengan realisasi penjualan 2010 sebesar 764.710 unit. Pencapaian tahun lalu itu meningkat drastis 58% dibandingkan total penjualan 2009 yang hanya mencapai 486.088 unit.
Kondisi itu berdasarkan skenario pesimistis dengan asumsi pembatasan BBM PSO mulai diberlakukan pada Maret 2011 serta pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) 4,5%. Selain itu, asumsi juga melihat biaya bea balik nama (BBN) di atas 10%-15%, inflasi 7%-9%, suku bunga Bank Indonesia (BI rate) sekitar 9%-10% serta rencana pembatasan jumlah kendaraan oleh pemerintah daerah.
"Karena itu, tahun ini akan terjadi tren kenaikan penjualan kendaraan yang irit bahan bakar dan berukuran kompak (compact car). Ini terutama untuk kalangan konsumen yang sensitif terhadap biaya BBM. Bisa juga terjadi peralihan tren ke kendaraan dengan kapasitas mesin. Kalau produsen jeli, ini saatnya untuk mengembangkan mobil murah," ujar Asia Pacific Vice President, Automitive and Transportation Practice Frost & Sullivan, Vivek Vaidya di Jakarta, Selasa (25/1).
Namun bila menilik pada kondisi ekonomi masyarakat, rencana pembatasan konsumsi BBM PSO berjalan tepat waktu dan hanya mencakup jenis premium saja, BBN di kisaran 10%-15%, inflasi 4%-6% dan BI rate 7%-8% diyakini penjualan mobil akan tumbuh di kisaran 4,3% (797.258 unit). Ini adalah skenario pertumbuhan realistis menurut perusahaan mitra pertumbuhan bisnis ini.
"Sebaliknya, pertumbuhan penjualan mobil di Indonesia bisa mencapai 849.877 unit atau tumbuh 11% bila berbagai asumsi di atas juga turut mendukung. Itu asumsi optimistis misalnya dengan PDB tumbuh 6,5%, inflasi di kisaran 4%, pembatasan BBM PSO ditunda selama setahun, BBN maksimal 10% dan BI rate di kisaran 5%-6% saja," ujarnya. (Jaz/OL-9)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar